Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Firman Situmeang 00:00 WIB | Kamis, 15 Desember 2016

Dampak Negatif Gadget

Perkembangan pengguna gadget di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sangat pesat. Jika tidak hati-hati, gadget dapat menjadi tuan yang memperbudak manusia, penciptanya.

SATUHARAPAN.COM - Penggunaan gadget di Indonesia tiap tahunnya menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Kalau di tahun 2014 jumlah pengguna gadget hanya sekitar 44 juta orang, pada tahun 2015 data eMarketer menunjukkan jumlah pengguna gadget di Indonesia mencapai 55 juta orang.

Hal ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-3 sebagai pasar gadget terbesar di Asia Pasifik, dibawah China dan India. Semakin banyaknya pengguna gadget di Indonesia diikuti dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Menurut APJII jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta orang, 79 juta di antaranya menggunakan internet untuk mengakses media sosial. Berdasarkan data dari We Are Social setidaknya pengguna internet menggunakan gadget rata-rata 3 jam 33 menit sehari atau mengalahkan lama menonton TV yang berkisar 2 jam 22 menit sehari.

 

Alienasi (Keterasingan)

Alienasi merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Sosiolog kenamaan asal Jerman, Karl Marx. Dalam kajiannya tentang bidang kerja, Marx membagi alienasi dalam empat bentuk yakni manusia diasingkan dari produk hasil pekerjaannya, terasing dari kegiatan produksi, terasing dari sifat sosialnya sendiri, dan terasing dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.

Meskipun banyak yang menyatakan bahwa pemikiran Marx sudah tidak relevan dengan era saat ini, namun penulis melihat teori Marx masih sangat relevan dalam melihat hubungan antara manusia dan gadget. Menurut hemat penulis gadget telah menyebabkan para penggunanya mengalami keterasingan.

Pertama, keterasingan dalam interaksi sosial. Pada hakekatnya manusia lebih suka berkomunikasi dengan orang yang ada didekatnya. Namun akibat kehadiran gadget kondisi tersebut berubah 360 derajat. Gadget telah membuat penggunanya lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh, bahkan orang yang dikenalnya lewat media sosial. Sementara orang yang ada di sekitarnya sering diabaikan. Kondisi ini sering kita dapati pada berbagai restoran (rumah makan) dimana sekumpulan orang yang duduk di meja yang sama sibuk dengan gedgetnya masing-masing.

Kedua, terasing dari eksistensinya. Secara eksistensial manusia harusnya menjadi tuan dari dari segala ciptaannya. Manusia adalah sang inovator, dan kreator yang memiliki kemampuan untuk melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan potensi dan kemampuannya sendiri. Namun dalam perkembangannya kondisi ini mulai berubah. Gadget telah membuat manusia menjadi budak dari ciptaan manusia itu sendiri. Gadget pun telah membuat manusia kehilangan hasratnya untuk melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri. Contohnya saja dewasa ini para kaum remaja lebih memilih mencopy-paste tugasnya dari internet dibandingkan dengan mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri.

Ketiga, terasing dari kebutuhannya. Seyogyanya kebutuhan utama dari manusia meliputi sandang, pangan dan papan. Namun di era digital ini kebutuhan ini berlahan mengalami perubahan. Dewasa ini gadget yang notabene menjadi alat untuk membantu aktivitas manusia berubah menjadi kebutuhan pokok yang sama pentingnya dengan kebutuhan pangan, papan, maupun sandang. Bahkan akibat asyik menggunakan gadget banyak anak muda yang lupa untuk makan.

 

Ketergantungan

Beberapa waktu yang lalu penulis sempat menemukan istilah “Googlisme” di beberapa tautan di internet. Disitu dijelaskan bahwa Googlisme merupakan agama baru yang kini dianut banyak orang. Mungkin sekilas munculnya istilah tersebut mengagetkan pembaca. Namun jika kita merujuk pada realitas yang ada, munculnya istilah tersebut bukanlah hal yang aneh.

Lihatlah banyaknya netizen yang menuhankan google. Kita selalu menganggap google maha tahu, maha benar, maha menjawab doa, menemani kita dimanapun, maha kuasa, dan maha baik. Tak mengherankan bila Google Trend menunjukkan kata google lebih sering dicari dibandingkan nama kata Tuhan, Allah maupun agama. Gejalanya sangat jelas terlihat, manusia lebih suka bertanya pada google dibandingkan pada orang yang ahli atau Tuhan.

Akibat menuhankan google, manusia menjadi sangat bergantung pada google. Celakanya jika seseorang tidak memegang gadget dimana sang google berada maka seseorang tersebut akan kalang kabut, frustrasi dan gelisah. Contohnya saja ketika seorang mahasiswa sedang ujian dan lupa membawa gadget maka mahasiswa tersebut akan terlihat gelisah, berbeda sekali ketika dia membawa gadget maka wajahnya akan terlihat sumringah.

Selain ketergantungan akan google, manusia juga mengalami ketergantungan akan media sosial. Dewasa ini media sosial menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia. Medsos menjadi cara baru untuk berteman, dan tempat mencurahkan isi hati. Secara fungsional media sosial memang dibutuhkan. Namun dalam perkembangannya para pengguna mengalami ketergantungan yang kronis.

Contohnya saja pada media facebook, para pengguna sangat tergantung pada jumlah like dan jumlah teman. Bahkan dalam beberapa kasus akibat sedikit like pada foto atau status yang dibagikannya seseorang menunjukkan sikap yang jengkel atau menggerutu. Bahkan dalam sebuah kesempatan teman saya menunjukkan ekspresi cemberut hanya karena jumlah follower instagramnya berkurang satu orang. Sungguh sebuah ketergantungan yang mengkhawatirkan.

 

Gadget Sebagai Penyakit

Subjudul di atas mungkin sedikit asing bagi sebagian besar pembaca. Karena memang sangat jarang diantara kita menyebut penggunaan gadget sebagai penyakit. Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah khotbah di gereja, seorang pendeta sempat menyinggung soal gadget. Dalam khotbahnya tersebut beliau menyampaikan bahwa gadget kini sudah dikategorikan sebagai salah satu penyakit. Untuk menguatkan argumennya beliau menceritakan tentang seorang pemilik yayasan di Jakarta, namanya Ibu Liliana yang membuka layanan penyembuhan penyakit ketergantungan anak akan gadget.

Mendengar informasi tersebut penulis sempat terkejut. Namun setelah berpikir sejenak, penulis mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut benar adanya. Pemikiran penulis tentunya bukan tanpa alasan. Ada beberapa gejala yang menguatkannya. Bukankah karena gadget seorang anak tak ragu melawan orangtuanya? Atau tak jarang akibat gadget seseorang bersedia menjual dirinya? Malah karena gadget seseorang tak ragu menyakiti bahkan membunuh orang lain. Yang jelas, akibat gadget seseorang mengabaikan sapaan dari orang lain. Dan seperti terlihat akhir-akhir ini, akibat gadget pula orang-orang saling menghina dan menghujat.

 

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi USU Stambuk 2013, Perintis Komunitas Sosiologi Menulis, dan Salah Satu Penggagas Toba Writers Forum (TWF).

Editor : Trisno S Sutanto