Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Yoel M Indrasmoro 09:11 WIB | Selasa, 22 Mei 2018

Dari Babel ke Yerusalem

Komunikasi sejatinya adalah salah satu cara jitu dalam mengatasi terorisme.
Menara Babel (foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Kisah mengenai bahasa dalam Kitab Suci dimulai dengan kegagalan pembangunan menara Babel. Bahasa bahkan disinyalir sebagai biang keladinya. Benarkah? Atau, di manakah sesungguhnya letak kesalahan yang membuat menara itu berhenti pembangunannya?

 

Kisah Babel

Kesalahan terbesar pastilah bukan pada menara itu. Bukan, bukan itu masalah utamanya hingga Allah menghentikan pembangunan menara tersebut. Menara itu tidak mempunyai satu kesalahan pun.

Kesalahan tidak pula terletak pada kemampuan manusia membangun menara tersebut. Bagaimanapun, manusia—yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah—pastilah mempunyai kemampuan mencipta. Selaku gambar Allah manusia memiliki daya cipta. Kreativitas merupakan bukti kuat bahwa manusia memang dicipta menurut gambar dan rupa Allah.

Allah adalah pencipta langit dan bumi. Manusia pun memiliki kemampuan mencipta. Manusia yang tidak kreatif pada dasarnya mengingkari panggilannya selaku manusia. Artinya, mengingkari kenyataan diri sebagai gambar Allah.

Lalu, di mana kesalahannya? Kemungkinan besar ada dalam motivasi di balik pembuatan menara itu. Itu jelas terlihat dalam kalimat yang dicatat penulis Kitab Kejadian: ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4).  

Mendirikan sebuah kota dan sebuah menara yang sampai ke langit bukanlah soal. Tetapi, persoalan besarnya ialah mengapa perlu mendirikan menara? Apakah tujuan utama pendirian menara itu? Dan tujuannya memang cuma satu: ”cari nama”! Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) dinyatakan: ”supaya kita termasyhur”. Menara itu dibuat agar manusia terkenal!

Kesalahan jelaslah tidak terletak pada otak manusia, bagaimanapun itu juga karunia Tuhan; juga bukan pada hasil kreativitas manusia, dalam hal ini menara Babel; namun pada motivasi manusia. Manusia ingin cari nama! Manusia ingin terkenal! Manusia ingin dipuji! Dan sesungguhnya itu sejatinya merupakan perlawanan kepada Sang Pencipta.

Hal ini jelas terlihat ketika mereka tak mampu lagi bekerja sama saat mereka tak lagi saling mengerti karena kergaman bahasa. Kalau memang bukan kesombongan yang menjadi dasarnya, pastilah mereka dapat memakai bahasa tubuh! Kenyataannya tidak! Mereka tak mampu lagi bekerja sama karena setiap orang ingin mencari nama sendiri-sendiri. Ketika dua orang mencari nama  bagi dirinya sendiri perpecahan tak terhindarkan ketika ada hambatan komunikasi.

Pertikaian manusia, juga perpecahan, terjadi ketika setiap orang berlomba mencari nama bagi dirinya sendiri. Dan sejatinya inilah awal kejatuhan manusia. Bukankah manusia pertama jatuh karena mau mendapatkan nama dengan mengetahui apa yang baik dan yang jahat. Betapa senangnya mengetahui banyak hal karena dengan demikian seseorang merasa bisa mengambil keputusan dan merasa pasti dalam hidup. Dan ketika semua serbapasti bukankah itu sama saja menjadi seperti Allah. Dan memang itu premis ular kepada Hawa dalam kisah kejatuhan manusia: ”Kamu akan menjadi sama seperti Allah.” (Kej. 3:5). Dan menjadi sama dengan Allah berarti pemberontakan kepada Allah.

Ketika manusia menjadi tuhan, maka dia akan merasa bisa memberlakukan manusia lain sesuka hatinya. Sehingga pada titik ini tentu saja ada pihak yang menjadi bulan-bulanan dan pastilah merasa takut.

 

Kisah Yerusalem

Suasana Babel itu tak tampak dalam Kisah di Yerusalem pada Hari Pentakosta. Di Yerusalem saat itu para murid menjadi begitu percaya diri. Tak seorang pun yang rendah diri. Roh Kudus agaknya memampukan mereka untuk menjadi saksi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak takut lagi akan kemungkinan-kemungkinan terburuk, misalnya: masuk penjara.

Di Yerusalemkeragaman bahasa tak lagi menjadi soal dalam komunikasi iman. Mengapa? Karena Roh Kudus sendiri memampukan para murid menyapa orang-orang Yahudi yang tinggal di perantauan itu dalam bahasa mereka masing-masing. Dalam kisah Pentakosta tak ada bahasa yang unggul karena Allahlah yang menciptakan bahasa. 

Bahasa tak menjadi hambatan komunikasi karena Roh Kudus menyapa orang-orang tersebut dalam bahasanya masing-masing. Inilah prinsip komunikasi menyapa orang dalam situasi dan kondisinya masing-masing. Komunikasi tak lagi dipahami sebagai komunikasi otak, tetapi komunikasi hati. Komunikasi sejatinya adalah komunikasi antarhati.

Ini jugalah yang digaungkan Subronto Kusumoatmojo dalam Kidung Jemaat 233:2: ”Syukur pada-Mu, Roh Kudus, yang sudah memberi bahasa dunia baru yang sempurna dan suci.” Ada bahasa dunia baru, yaitu bahasa kasih.

Sehingga, ketika ada yang mengejek, ”Ah, orang-orang itu hanya mabuk saja!” (Kis. 2:13). Petrus tidak tergoda untuk marah, mengangkat pedang, dan membunuh mereka. Petrus juga tidak merasa minder. Dengan penuh percaya diri Petrus berkhotbah. Jelas ini perubahan radikal. Sebelumnya, Petrus adalah pribadi yang cepat naik darah, sekaligus pengecut.

Di Yerusalem, pada hari Pentakosta, Roh Kudus menolong Petrus untuk tidak dikuasai lagi oleh perasaan marah maupun takut. Dia menjadi manusia merdeka. Bahkan, khotbahnya pun sangat terstruktur dan mudah dipahami.

Roh Kudus menolong Petrus untuk berkomunikasi. Roh Kudus menolong Petrus untuk mengomunikasikan apa yang tengah terjadi dalam diri para murid. Bahkan, Petrus pun mengutip nubuat Yoel. Di seluruh Perjanjian Baru, hanya di sinilah Kitab Yoel dikutip. Fakta ini bisa menjadi bukti dari karya Roh Kudus.

Petrus bukan Paulus yang ahli taurat dan murid Gamaliel, dia bukan tipe orang sebagaimana Yohanes yang terdidik dan anak orang kaya, dia juga bukan Natanael yang senang dengan sejarah Israel. Petrus adalah nelayan biasa. Dan dia mengutip Kitab Yoel. Yoel bukanlah nabi besar! Tetapi, Petrus mengutipnya. Karya siapa? Inilah bukti karya Roh Kudus.

Roh Kudus adalah Roh Kebenaran, yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah. Roh Kudus memampukan Petrus mengomunikasikan kebenaran Allah. Karena itu, penting bagi kita, umat percaya abad XXI, untuk selalu mau dibimbing Roh Kudus.

Dibimbing Roh Kudus berarti mau menjadikan Roh Kudus sebagai pusat. Bukan manusia yang menjadi pusat. Tetapi, Roh Kuduslah pusat. Ketika manusia mau dipimpin Roh Allah, dia dibebaskan dari roh perbudakan yang menyebabkan orang merasa takut. Ketakutan hanyalah manifestasi dari ketiadaan pimpinan Roh.

Dan untuk mengatasi ketakutan itu, baiklah kita bermadah: ”Jadikanlah semakin berseri iman dan pengharapan serta kasih yang bersih” (Kidung Jemaat 233:3). Ya, semakin berseri dalam dunia yang makin mencekam.

 

Persoalan Komunikasi!

Menarik disimak, meski dunia semakin baik, alat komunikasi semakin canggih, tetapi komunikasi malah semakin nggak keruan. Bahkan, sekarang peribahasanya bukan lagi ”mulutmu harimaumu”, tetapi ”jarimu harimaumu”! Lebih bahaya lagi, sekarang orang lebih banyak berkomunikasi dengan alat ketimbang dengan mulut, apa lagi dengan hati.

Sekarang ini dalam keluarga-keluarga Indonesia telah berkembang budaya baru, yakni budaya tenang. Supaya anak diam dan tidak mengganggu aktivitas orang tua, tak sedikit orang tua yang memberikan gawai kepada anaknya. Sang Anak memang tenang karena dia sibuk dengan gawainya. Namun, kiat begini hanya akan membuat anak menjadi malas berkomunikasi.

Apa jadinya jika setiap anggota keluarga malas berkomunikasi? Mereka hidup bersama dalam satu rumah, tetapi hanya bercakap seperlunya. Kalau sudah begini rumah tak ubahnya hotel—masing-masing anggota keluarga hidup dalam dunianya sendiri. Inilah ”autisme modern”!

Juga dalam keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aksi teroris yang mencekam minggu lalu, dan masih terasa hingga hari ini, kelihatannya terjadi karena ada sekelompok orang yang mempunyai daya khayalnya sendiri, dan masa bodoh dengan kepentingan bangsa yang lebih besar.

Sehingga mereka, berdasarkan khayalnya sendiri, merasa paling benar, yang berujung pada tindakan teror. Mereka merasa itulah alat komunikasi satu-satunya. Tampaknya benar: ketika manusia tak lagi mampu berkomunikasi dengan otaknya, maka dia akan berkomunikasi dengan ototnya!

Oleh karena itu, komunikasi sejatinya adalah salah satu cara jitu dalam mengatasi terorisme. Dalam hal ini komunikasi antarhati!

Ya, mari kita berkomunikasi!

 

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com )

Back to Home