Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Padmono Sk. 00:00 WIB | Senin, 11 April 2016

Dari Toh A Bo ke Ahok

Jejak keterlibatan etnis Tionghoa dalam sejarah Jakarta sudah ada sejak lama. Bagaimana ceritanya?

SATUHARAPAN.COM - Nama Toh A Bo kurang dikenal dalam sejarah Indonesia, juga dalam sejarah kota Jakarta. Yang dikenal dalam sejarah Jakarta adalah nama Fatahillah yang sekarang dijadikan nama museum di kota tua. Fatahillah yang oleh lidah Portugal dibunyikan menjadi Faletehan adalah seorang panglima perang yang menaklukkan Sunda Kelapa, kota pelabuhan dari kerajaan Pajajaran dan sekaligus mengusir tentara Portugis dari kota pelabuhan itu.

Oleh Fatahillah – sebaiknya kita gunakan nama ini dan bukan Faletehan - kota pelabuhan Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Jayakarta yang artinya Jaya (menang atau kemenangan) dan krta (usaha atau kerja atau perjuangan). Nama Jayakarta memang berasal dari bahasa sanksekerta. Penamaan itu kelihatan aneh kalau Fatahillah dikatakan berasal dari Pasai.

Namun Prof. Slamet Muljana dalam bukunya, “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Munculnya Kerajaan Islam di Nusantara” (Brhatara 1968, B. VII h.214) mengutip sumber-sumber yang beranggapan bahwa Fatahillah walaupun berasal dari Pasai tetapi tinggal di Demak dan memperisteri adik Sultan Trenggana, Raja Demak. Dalam merebut kota pelabuhan itupun ia bertindak atas nama kesultanan Demak. Keterangan yang dikutip Prof. Muljana antara lain buku Prof. Sukanto dan Prof. Husein Djajadiningrat.

Prof. Sukanto seperti dituturkan Prof. Muljana menggunakan sumber tulisan Portugis yang mengatakan bahwa Fatahillah meninggalkan kota kelahirannya di Pasai karena kota itu sudah jatuh ke tangan Portugis. Ia adalah seorang ulama dan masih keturunan nabi SAW, pergi ke Demak, menjadi guru Sultan Demak Trenggana dan kawin dengan adik sultan.  Dikatakan pula, Faletehan menetapkan perubahan nama itu tanggal 22 Juni 1627, beberapa bulan setelah memperoleh kemenangan dari pasukan Portugis bulan Maret 1627.

Sejarahwan Prof. Husein Djajadiningrat sependapat dengan Prof Sukanto mengenai jatidiri Fatahillah. Namun datum penamaan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta itu ia tak sepakat.  Prof. Husein dengan berbagai alasan ilmiah menyebut penamaan Jayakarta itu tanggal 17 Desember 1626. Perbedaan datum di kalangan sejarahwan masih terus berlanjut, namun Walikota Jakarta Sudiro di tahun 1956 telah menetapkan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni sebagaimana dinyatakan Prof. Sukanto. Hingga hari ini kelahiran kota Jakarta mengikuti ketetapan tersebut.

Kendati masih ada perdebatan soal datum, namun para sejarahwan sepakat bahwa Fatahillah adalah  orang yang berhasil menguasai kota pelabuhan Sunda Kelapa dan mengubah namanya menjadi Jayakarta. Mula-mula ia mengalahkan pasukan kerajaan Pejajaran yang telah membuat perjanjian dengan Portugis, dan kemudian menduduki kota pelabuhan itu. Ketika tentara Portugis datang, Fatahillah berhasil mengusirnya. Dengan demikian dua kemenangan diperolehnya berturut-turut. Itu adalah fakta sejarah yang tidak dibantah oleh sejarahwan.

Namun ada sesuatu yang menarik yang dinyatakan Prof. Husein yang menyangkut Fatahillah. Pernyataan itu berbunyi: “Dapat pula kita bayangkan bahwa Faletehan seorang ulama dan turunan Nabi SAW waktu ia merenungkan kemenangan yang sangat penting itu merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan raja sunda maka ia ingat akan kemenangan Nabi SAW yang terpenting yaitu merebut Mekah dari kekuasaan kaum Quraisj  dan ia ingat akan Firman Allah SWT kepada RasulNya SAW tersebut dalam ayat pertama dari Surat al-Fath: “Inna fatahna Inka fathan mubinan” (sesungguhnya Kami telah memberi kemenangan kepadamu kemenangan yang tegas) dan kemudian mendapat ilham untuk menamai dirinya Fathan (yang oleh karena salah dengar dan salah tulis dijadikan Faletehan oleh orang Portugis) dan mengganti nama Sunda Kelapa dengan Jayakarta yaitu fathan mubinan (vet  pen; h.217-218).

Kalau dalam kutipan itu dikatakan “kemudian mendapat ilham untuk menamai dirinya Fathan”, siapakah nama asli Fatahillah dari mana asal usulnya? Apakah cukup dikatakan bahwa ia berasal dari Pasai? Sebab nama Fatahillah yang dipakai setelah ia memenangkan kota pelabuhan Sunda Kelapa, memiliki makna yang sangat penting dalam perspektif penghayatan agama. Nama Fatahillah adalah sebuah pengakuan bahwa kemenangan yang diperoleh adalah atas bantuan Allah.

Untuk menelusuri jatidiri Fatahillah itu, Prof. Slamet Muljana menggunakan sumber dari klenteng Semarang dan klenteng Talang (Cirebon).  Berdasarkan sumber-sumber tesebut ia mengungkapkan bahwa  pasukan Demak yang dikirim oleh Sultan Demak, ke barat untuk merebut dan menyiarkan agama Islam ke Sembung (Cirebon)  dan Sunda Kelapa, dipimpin oleh seorang panglima perang!  

Panglima perang Demak itu tentunya seorang prajurit yang tangguh, ahli dalam taktik dan strategi peperangan. Nama panglima perang Demak itu memang tidak disebutkan.  Namun Kronik Tionghoa dari klenteng Talang bertarikh 1552 menarik perhatian Prof. Muljana. Kronik itu menyatakan: “Panglima tentara Demak setelah seperempat abad datang lagi di Sembung. Sendiri tanpa tentara. Haji Tan Eng Hoat  sangat heran. Panglima tentara Demak katanya sudah bekas raja Islam di Banten.  Dia sangat kecewa mendengar  pembunuhan di kalangan keturunan Jin Bun di Demak. Dia tidak pula mau tunduk  kepada Sultan Pajang karena di kesultanan Pajang agama Islam mazhab Syiah sangat berpengaruh. Bekas panglima Demak katanya seterusnya seumur hidup hendak bertapa di Sarindil” (h.80-81 dan 217).

Sumber itu menunjukkan bahwa sesuatu yang mengecewakan hati panglima perang Demak itu dengan perkembangan politik dan agama, sehingga ia memutuskan untuk bertapa di Sarindil. Agama Islam yang dikembangkan di Demak adalah mazhab Hanafi sementara yang dikembangkan di Pajang adalah mazhab Syiah. Begitupun keturunan Tionghoa yang mengembangkan Islam di  Demak dan Jawa pada umumnya adalah orang-orang dari Yunan, sedangkan keturunan Tiongowa di daerah Cirebon sebagian besar berasal dari Hokian dan tidak menganut Islam.

Berdasarkan sumber tersebut, Prof. Muljana menarik kesimpulan bahwa panglima perang Demak itu adalah anak kandung Sultan Trenggana yang bernama Toh A Bo atau disebut sebagai Pangeran Timur, yang memang sejak kecil dididik dalam keprajuritan. Dialah panglima perang Demak yang dikirim ke barat  dan berhasil merebut Sunda Kelapa. Atas kemenangannya itulah ia kemudian dinobatkan sebagai Sultan Banten dan menabalkan dirinya dengan nama resmi (abhiseka) Fatahillah (h.221). Penggunaan nama itu mengingatkan penamaan diri Sultan Fatah atau Raden Patah di Demak yang sebelumnya bernama Panembahan Jin Bun, setelah berhasil  mengalahkan Majapahit.  Dengan demikian yang dikenal dengan nama Fatahillah itu adalah Toh A Bo, putra Sultan Trenggana (Tung Ga Lo) dan cucu Sultan Fatah (Jin Bun).

Kalau identifikasi itu disepakati maka menjadi semakin dapat dimengerti bahwa banyak Tionghoa keturunan berperan dalam sejarah di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Jawa pada umumnya. Hubungan antara kerajaan-kerajaan di Jawa dengan China memang sudah terjalin sejak abad pertama. Di jaman Majapahit tidak sedikit dari mereka yang menjadi kepala daerah dan menabalkan dirinya dengan nama Sanksekerta, seperti bupati Tuban yang bernama Gan Eng Tju menjadi Tumenggung Wilwatikta Arya Teja, atau bupati Semarang yang bernama Kin San menjadi Adipati Terung. Karena itu nama Basuki Tjahaja Purnama yang dipanggil A Hok tak perlu dipersoalkan.

Biarkan saja dia menjadi Gubernur DKI Jakarta, mengikuti jejak kemenangan Toh A Bo.-

 

Penulis adalah mantan wartawan

Editor : Trisno S Sutanto

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home