Loading...
RELIGI
Penulis: Kris Hidayat 12:31 WIB | Selasa, 08 Juli 2014

Deklarasi Kebangsaan: Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Padamu

Deklarasi Kebangsaan: Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Padamu
Deklarasi Kebangsaan yang dilaksanak di halaman gedung gereja GKJ Logandheng, Gunung Kidul, Minggu (6/7). (Foto-foto: Iwan Listiyantoro)
Deklarasi Kebangsaan: Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Padamu
Shinta Nuriah Abdurrahwam Wahid membubuhkan tanda-tangan dan cap tangannya pada spanduk deklarasi kebangsaan.
Deklarasi Kebangsaan: Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Padamu
Para tokoh agama yang hadir dalam sahur bersama di Ponpes Darul Quran.
Deklarasi Kebangsaan: Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Padamu
Suasana dialog peserta yang hadir dalam sahur bersama.

WONOSARI, SATUHARAPAN.COM – Melalui rangkaian kegiatan sahur bersama Forum Lintas Iman Gunung Kidul mendeklarasikan sebuah tekad kebangsaan yang dilambangkan dengan spanduk yang bertuliskan “Kami Titip Bhinneka Tunggal Ika Kepadamu”. Pada kesempatan itu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid yang hadir bersama para tokoh lintas iman ikut berpartipasi dan menandatangani dan membubuhkan cap tangan pada spanduk deklarasi tersebut. 

Sebelumnya dalam tausiah sahur bersama Shinta Wahid mengatakan, “Toleransi antar umat beragama, saat ini merupakan sesuatu yang mahal di Indonesia. Kita hidup di Indonesia dengan keberagaman suku, agama, ras, warna kulit, sehingga kita harus selalu rukun dan damai, saling menolong sepeti apa yang di ajarkan Rasullulah SAW,” Minggu (6/7) bertempat di Ponpes Darul Quran Wonosari, Gunungkidul.

Seusai kegiatan sahur bersama, atas permintaan dari teman-teman Forum Lintas Iman Gunungkidul, Shinta Wahid memimpin sebuah Deklarasi Kebangsaan yang dilaksanakan di halaman gedung GKJ Logandheng. Acara penandatangan dan cap tangan spanduk ini dipandu Pendeta Yogantara Prasetyawan dan setelah Shinta Wahid menandatangani spanduk dan membubuhkan cap tangannya, kemudian diikuti oleh semua peserta yang hadir.

“Pilihlah pemimpin yang tepat yang bijaksana, adil jujur, amanah kepada rakyat,” kata Shinta Wahid seusai menandatangani deklarasi. Shinta Wahid pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kerukunan bangsa Indonesia di tengah banyaknya suku, ras, agama di Indonesia. Menurutnya meskipun bangsa indonesia memiliki banyak perbedaan tetapi anak bangsa tetap mempunyai hak sama atas Bangsa Indonesia.

“Indonesia baru saja mendapat goncangan hebat dari kaum minoritas, fanatisme itu dapat mengoyak bangsa indonesia jika kita tidak bersatu,” demikin lanjut Shinta Wahid di depan seluruh hadirin dan juga pemuka agama.

Koordinator Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul Aminudin Aziz mengatakan, deklarasi kebangsaan "Kutitipkan Bhineka Tunggal Ika Kepadamu" dilaksanakan sebagai wujud kepedulian terhadap dasar pemersatu bangsa - Bhinneka Tunggal Ika - yang saat ini mulai goyah. Aziz Imannudin menjelaskan spanduk tersebut nantinya akan dipasang di alun-alun Pemkab Gunungkidul menjadi peringatan semua warga agar menjaga kebhinnekaan dan toleransi.

Sahur Bersama

Dia berharap, seluruh warga negara Indonesia dapat saling manjaga keamanan dan persaudaraan. Jika itu dapat dilakukan, lanjut Shinta Wahid, Bangsa Indonesia tidak akan dicabik-cabik oleh bangsanya sendiri. “Bhineka Tunggal Ika tetap menjadi pemersatu bangsa,” tegasnya.

Shinta Wahid mengaku hanya bisa berdoa, untuk pemimpin yang akan datang dapat mensejahterakan rakyat, amanah dan merangkul semua golongan, Pesan itu, kata dia sudah disampaikan kepada kedua calon presiden dan wakil presiden.

Kegiatan sahur bersama yang diadakan di ponpes Darul Quran ini dihadiri 300 santri beserta tokoh lintas iman.  Dalam acara ini Shinta Nuriah Wahid memberikan ceramah tentang keberagaman, kebangsaan, sekaligus nilai-nilai puasa. Acara ini didukung bersama Forum Lintas Iman Gunung Kidul, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika dan didukung oraganisasi penggiat keberagaman dan kebebasan beragama di Jogjakarta. 

Menurut paparan Shinta Wahid, momentum Ramadan menjadi ajang untuk merajut tali persaudaraan dan meraih persaudaraan sejati dengan sesama umat beragama, “Saya lebih senang mengajak sahur bersama dari pada buka bersama. Yang banyak menyelenggarakan buka bersama adalah tokoh-tokoh politik untuk melipat gandakan suara, namun saya mengajak masyarakat untuk mendapat pahala yang berlipat.”

Menurut Sinta Nuriyah, puasa sebenarnya mengajarkan banyak hal. Namun, lanjut dia, ajaran dan hikmah puasa tidak mampu diraih karena banyak yang tidak sungguh-sungguh berpuasa. Puasa merupakan sekolah untuk meningkatkan kejujuran dan kesabaran. Banyak masyarakat yang hanya beribadah puasa karena sebagai ritual setiap tahun, tetapi mereka tidak mengerti maksud dan tujuan puasa.

Hadir pada kesempatan tersebut pimpinan umat dari GKJ, antara lain Pdt. Christiana Riyadi, Pdt. Yusak Sumardiko, Pdt. Stefanus Iwan Listiyantoro, sedangkan dari pimpinan umat Katolik diwakili Romo Ibeng, wakil dari pemuda Hindu, dua orang banthe Budha dan tokoh muda Hindu Bonded Wijaya. Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gunungkidul Labib Junaidi, juga hadir bersama tokoh muda Ahmadiyah Rizki, Ketua DPRD Gunungkidul Budi Utama, koordinator Forum Lintas Iman Imannudin Aziz dan didukung teman-teman muda lintas iman dari berbagai elemen.

Acara dilanjutkan dengan dialog yang mengajak peserta menyampaikan keprihatinan atas terjadinya tindak kekerasan dari kelompok intoleran yang meresahkan kehidupan berbangsa. Pada kesempatan tersebut diungkapkan kasus terjadinya penolakan acara Paskah Adiyuswa yang diselenggarakan oleh Sinode GKJ. Beberapa kasus tindak intoleransi yang terjadi di Jogjakarta juga diutarakan oleh para aktivis yang hadir.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home