Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 18:43 WIB | Senin, 27 November 2017

Desainer Aksesori Rinaldy Yunardi Raih Prestasi Dunia

Rinaldy A Yunardi sabet penghargaan internasional. (Foto: Tim Muara Bagdja).

SATUHARAPAN.COM – Kabar menggembirakan berembus penggal awal November lalu. Desainer aksesori Rinaldy Yunardi mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi di luar negeri, dengan menyabet penghargaan tertinggi, Piala World Of WearableArtTM 2017.

Rinaldy membawa pulang tiga piala di ajang lomba desain bergengsi tingkat dunia World of WearableArt™ (WOW®), di Wellington, Selandia Baru. Ia berhasil menyisihkan 104 karya finalis dari 122 desainer yang berasal dari 13 negara untuk memperebutkan 37 piala.

Sebagai pemenang utama, karya Rinaldy akan dipamerkan di National WOW® Museum yang ikonis di Nelson, yang mampu menarik lebih dari 40.000 pengunjung dari seluruh dunia setiap tahunnya. Pameran WOW® 2017 dibuka pada awal Desember 2017 dan memperbolehkan pengunjung melihat karya desainer dari jarak dekat.

Desainer yang setia selama lebih dari 20 tahun menjadi desainer aksesori ini meraih tiga penghargaan sekaligus dari dua karya yang diikutsertakannya. Encapsulate, juara umum, yang memenangkan The Supreme WOW® Award, dan, Juara I untuk Kategori Open, yang memenangkan Section Award, Cosmos, Juara I untuk kategori Avant-Garde, yang memenangkan Section Award.

Karya Rinaldy terinspirasi oleh keteraturan alam semesta yang telah mengenkapsulasi sistem pemikiran, akal, dan emosi manusia. Encapsulate ditampilkan dalam bentuk seperti kapsul raksasa yang dibuat dari susunan helai tali rafia dan LED. Kapsul tersebut dibentuk terpotong menjadi dua bagian yang diselubungkan ke badan model. Sedangkan karya Cosmos tampil sebagai baju hitam dan perak terbuat dari kristal jala, tali raffia, dan logam, dengan imbuhan hiasan kepala yang rumit, yang menutupi seluruh badan model.

Anugerah di Luar Dugaan

Penggagas dan pendiri WOW®, Dame Suzie Moncrieff mengatakan, “Kami bangga memiliki seorang desainer ternama yang berhasil memenangkan dua kategori, plus menjadi pemenang utama dan berhak atas the Supreme WOW® Award. Sebagai pelopor lomba desain, WOW® telah berkerja keras untuk menemukan desainer-desainer di penjuru dunia, dan sangat antusias ketika para desainer bersedia untuk masuk ke dalam dunia kami. Rinaldy Yunardi telah menjadi bagian dari barisan desainer tingkat dunia yang memenangkan tiga piala bertepatan dengan tahun ke-29 WOW® berdiri.”

Menurut Moncrieff lagi, para juri terpesona pada estetika dan kekuatan desain yang tak terbantahkan dalam karya cipta dan keunikan bentuk yang dipersembahkan Rinaldy.

“Tidak pernah terbersit sedikit pun saya dapat memenangkan lomba ini. Puji Tuhan, saya malah memenangkan tiga kategori sekaligus. Anugerah ini sangat di luar dugaan saya,” ujar Rinaldy, yang membawa pulang piala dan uang senilai NZD 30.000 sebagai Juara Umum, ditambah NZD 20.000 lagi untuk kemenangannya di dua kategori lain, atau setara hampir 400 juta rupiah.

Peraturan kompetisi dikategorikan sebagai benda pakai dari segala strata, yang orisinal, inovatif, dan dibuat dengan apik. WOW® banyak menarik minat para pekerja kreatif yang bekerja di bidang mode, seni, desain, kostum dan teater, para siswa maupun pemula.

WOW® menjadi ajang untuk bermain, bereksplorasi, dan bereksperimen dengan berbagai sumber daya, dan memperbolehkan menggunakan bahan apa pun untuk menciptakan karya pakai canggih, mulai dari kelas perajin hingga teknologi fabrikasi futuristik. Ajang ini menjadi perhelatan wajib tonton yang ditunggu-tunggu dan mampu menarik hingga 60.000 pengunjung per tahun.

Penjurian berlangsung dalam tiga tahap, termasuk penilaian secara terperinci terhadap detail, dan penampilan saat di atas panggung. Juri WOW® 2017 terdiri atas pendiri WOW® Dame Suzie Moncrieff, perancang busana dan seniman Kerrie Hughes, seniman Michel Tuffery, dari Sirkuit Weta Sir Richard Taylor, Valérie Desjardins dari Cirque du Soleil, dan Teneille Ferguson dari David Jones.

Hadapi Birokrasi Nyali Nyaris Surut

Kisah perjalanan prestatif itu bermula ketika Faye Liu dari the Clique, agensi Rinaldy yang berbasis di Hong Kong, memintanya ikut lomba yang diselenggarakan World Of WearableArt™. Permintaan itu datang pada saat desainer aksesori bernama lengkap Rinaldy Arviano Yunardi itu, tengah tenggelam di antara kesibukannya menyiapkan peragaan tahunan para desainer papan atas Indonesia dan di dalam persiapan peragaan tunggalnya sendiri.

Meski terbayang betapa berat, Rinaldy pada sisi lain merasa tertantang. Desainer kelahiran 13 Desember 1970 itu, akhirnya menyanggupi tawaran itu. Sayangnya, hanya dua karya dari enam karya ciptaannya yang mampu diberangkatkan ke Selandia Baru.

“Birokrasi yang berbelit-belit serta biaya yang bukan main tingginya membuat nyali saya surut. Saya merasa sedih karena pontang-panting sendirian. Tidak ada pihak pemerintah yang membantu. Dengan berat hati, saya secara pribadi hanya mampu memberangkatkan dua dari enam karya seri yang saya buat,” Yungyung, panggilan Rinaldy, mengenang.

Tak dinyana kedua karyanya berhasil menyabet tiga piala sekaligus.

Ia bersyukur saat kemenangan diumumkan, Tantowi Yahya, Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, menyaksikan penyerahan piala, sementara ia sudah berada di Jakarta karena terikat beberapa pekerjaan.

Rinaldy berbagi kebahagiaan ketika piala itu akhirnya tiba di Tanah Air. Desainer yang mengawali karier dengan membuka workshop Rinaldy A Yunardi Bijoux pada tahun 1997 itu, menggelar acara temu wartawan pada awal November lalu.

Pada kesempatan itu pula ia memperlihatkan tiga piala yang berhasil ia raih, tayangan dua karya yang sejak Desember 2017 akan dipamerkan di National WOW® Museum, Nelson, Selandia Baru, dan empat karya asli yang merupakan serial dari keseluruhan enam karya ciptanya.

Bagi Rinaldy, penghargaan itu penghargaan kesekian. Diawali pada tahun 2004 ketika ia meraih Nokia Award Accessories Designer of The Year (26 November), penghargaan demi penghargaan mulai ia raih. Pada April 2017 lalu, misalnya, ia menerima JF3 Award, Pemenang Kategori Fashion Industry and Support 2017, di ajang  Jakarta Fashion and Food Festival.

Setia menekuni karier yang mulai ia bangun pada 1996, Rinaldy berharap pemerintah di bidang kreatif semakin melek terhadap karya-karya yang mampu berbicara di pentas dunia.

 

Back to Home