Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 01:00 WIB | Senin, 26 Januari 2015

Di Antara Dilema

Sesungguhnya, dilema akan memperkaya hikmat kita.
Memilih (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Hidup selalu berhadapan dengan banyak pilihan. Mau sekadar menjadi tua atau mau dibentuk menjadi dewasa. Mau menjadi manusia produktif atau manusia konsumtif. Mau mengambil peran sebagai tokoh protagonis atau tokoh antagonis. Semua adalah pilihan bebas karena hidup adalah tentang proses pengambilan keputusan. Terserah Anda saja mau ambil yang mana.

Masalahnya, ada keputusan yang mudah ditentukan dan ada pula yang rumit. Semakin kita dibentuk menjadi manusia dewasa, akan semakin banyak problem yang kompleks. Ibaratnya, semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang pula angin yang meniupnya. Dilema kerap menjadi menu harian kita.

 

DILEMA

 

Di depan cermin hati,

ku buka seluruh pintu naluri.

Tampak di sana, dua inti

dilema tersenyum menyeringai.

 

Detik-detik stadium empat,

dua dilema dan hanya satu pilihan.

Seputusan cermat

yang dilarang keliru.

 

Solo, 16 Oktober 2005.

 

Puisi itu saya tulis sekitar 10 tahun lalu. Saya menuliskannya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Saya tidak ingat, apa alasan yang mendasari kelahiran puisi ini. Saya lupa waktu itu dilema apa yang saya hadapi. Yang penting, bagi saya, puisi dilema ini masih relevan sampai hari ini.

Anda pasti pernah menghadapi dilema, bukan? Apa yang Anda lakukan supaya terbebas dari situasi rumit itu? Yang pertama dan terutama tentu saja kita harus teguh, berani menghadapinya. Jangan gentar, apalagi kabur melarikan diri! Lari tak menyelesaikan dilema. Lari hanyalah bagi mereka yang berjiwa pengecut.

Dalam teori decision making process, kita diharapkan menjadi pribadi yang tidak gegabah. Semua data pendukung harus dihimpun supaya keputusan yang diambil tidak salah. Kita harus membangun analisis SWOT, yakni strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (kesempatan), dan threat (hambatan). Semua kemungkinan harus diperhitungkan secara teliti demi selesainya sebuah dilema.

Bila sejak awal kita selalu yakin menghadapi ”detik-detik stadium empat”, kita pasti tidak akan kalah. Bila kita berani, pasti ada solusi. Dari mana keyakinan itu? Dari Tuhan Sang Sutradara Hidup, tentu saja! Pinjamlah kacamata-Nya, supaya kita bisa melihat situasi dari berbagai sudut pandang secara jernih. Pinjamlah timbangan dari-Nya, supaya kita bisa membobot segala sesuatu dengan cermat dan adil.

Nikmatilah dan syukurilah dilema. Sesungguhnya, dilema akan memperkaya hikmat kita. Dan tanpa ada dilema, dijamin hidup tidak akan seru.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home