Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben Ezer Siadari 17:08 WIB | Minggu, 15 Maret 2015

Diam-diam Hubungan Dagang Indonesia-Israel Kian Mesra

Sejumlah intelektual Indonesia mengunjungi Israel dan bertemu dengan Shimon Peres Februari lalu. (Foto: jewishnews.net.au)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Politik luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal pro-kemerdekaan Palestina ternyata tak menjadi penghalang kian mesranya hubungan dagang Indonesia dengan Israel. Setiap tahun diperkirakan 200.000 orang Indonesia mengunjungi negara tersebut. Sejumlah perusahaan besar, termasuk Bakrie Group, ditengarai memiliki keterkaitan dengan dunia bisnis di negara yang kini dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu itu.

Muhammad Zulfikar Rakhmat, mahasiswa  pasca sarjana jurusan Politik Internasional di Universitas Manchester, Inggris, dalam sebuah tulisannya di Diplomat, dengan judul The Quiet Growth of Indonesia-Israel Relations mengatakan, kendati hubungan diplomatik tidak ada, perdagangan kedua negara tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.  

Transaksi perdagangan Jakarta dan Tel Aviv dilaporkan mencapai US$ 400-500 juta, sekitar 88 persen diantaranya adalah ekspor dari Indonesia.  Indonesia mengekspor komoditas ke Israel, sementara Israel mengirimkan produk-produk teknologi tinggi ke Indonesia.

Di bidang pariwisata, tercatat perkembangan yang luar biasa. Menurut data kependudukan dan imigrasi Israel, yang dikutip oleh ynetnews.com,  dalam enam tahun terakhir 124.719 turis Indonesia mengunjungi Israel. Pada tahun 2013 saja, turis Indonesia ke Israel mencapai 29.517, bandingkan dengan hanya 9.442 pada tahun 2009, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam tempo empat tahun.

Bukan hanya perdagangan dan turisme, tetapi di bidang investasi juga telah terjalin hubungan yang erat dengan Israel. Menurut Rakhmat dalam tulisannya di Diplomat itu, pada tahun  2000, misalnya, Asuransi Jasindo menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Assure Limited of Israel, untuk menyediakan asuransi kredit kepada eksportir dan importir kedua negara. Kesepakatan tersebut mendorong Jasindo membuka kantor perwakilan di Israel. Sejumlah perusahaan lain, termasuk Grup Bakrie, juga dilaporkan memiliki hubungan dagang dengan Israel.

Lebih jauh, kedua negara telah pula mendirikan organisasi-organisasi, yang kendati tidak resmi, mendukung kedekatan hubungan kedua negara. Tahun 2002  berdiri The Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC), dengan bantuan seorang Yahudi Indonesia yang tengah belajar di Israel, yaitu  Benjamin Kentang.  Kentang, mantan anggota Nahdatul Ulama dan Himpunan Mahasiswa Islam, mendirikan IIPAC  sepulang dari Israel, tempat dia kuliah dengan beasiswa dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Walaupun IIPAC sudah berdiri sejak 2002, tidak banyak yang menyadarinya sebelum diluncurkan pada tahun  2010 di Jakarta. Anggotanya kini sudah mencapai 4.450 dan telah pula membentuk Indonesian Business Lobby, sebuah organisasi yang bertujuan memfasilitasi investasi Israel ke Indonesia.

Untuk meningkatkan lagi kerjasama kedua negara, pada tahun 2009 berdiri Kantor Dagang Israel Indonesia di Tel Aviv. Organisasi ini merupakan cabang dari Kantor Dagang Israel-Asia yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama ekonomi Indonesia-Israel. Organisasi ini terutama mempromosikan inisiatif dan keuntungan investasi diantara kedua negara dengan menyediakan jasa konsultasi dan dukungan lainnya kepada para investor.

Kendati sulit mendapatkan data sejauh mana lembaga ini menyumbang pada kedalaman hubungan kedua negara, tidak diragukan bahwa inisiatif ini telah banyak membantu kedekatan diantara pengusaha, investor bahkan politisi Israel dan Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, kerjasama Jakarta-Tel Aviv telah meluas hingga ke bidang-bidang baru. Pada tahun 2008 sebagai contoh, pemerintah  Indonesia menandatangani kerjasama dengan jasa layanan darurat nasional Israel,  Magen David Adom (MDA). Ini adalah lembaga kerja sama Amerika dan Israel yang bergerak dalam jasa pelatihan medis dan keperawatan di Indonesia. Satu aspek menarik dalam kerja sama ini adalah Indonesia diwakili oleh Muhammadiyah.

Hubungan individu warga Israel-Indonesia pada tahun-tahun belakangan ini tak bisa dipungkiri kian meningkat. Berdasarkan perkiraan terbaru, setiap tahun turis Indonesia ke Israel mencapai 200.000  orang. Sejumlah perusahaan perjalanan telah menawarkan paket wisata. Pemerintah juga merencanakan menggunakan teknologi dan tenaga kerja Israel dalam membangun jalan di wilayah timur Papua.

Pejabat tingkat tinggi Israel juga sudah ada yang berkunjung ke Indonesia kendati dilakukan dengan tanpa banyak publikasi. Pada tahun 2013, misalnya, Menteri Ekonomi Israel datang ke Indonesia untuk menghadiri konferensi World Trade Organization di Bali. Beberapa tahun sebelumnya, Shimon Peres juga ke Indonesia, sebagai menteri kerja sama regional. Pejabat Israel lainnya yang tercatat datang ke Indonesia, adalah  Deputi Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri untuk Asia dan Pasifik, Amos Nadai serta Duta Besar Israel untuk Bangkok, Yael Rubinstein. Mereka ke Jakarta menghadiri sebuah konvensi yang diselenggarakan oleh  Economic and Social Commission for Asia and the Pacific.

Sebaliknya, sejumlah delegasi Indonesia telah pula berkunjung ke Israel. Tahun 2013, sebagai contoh, sekelompok delegasi tingkat tinggi Indonesia melakukan kunjungan rahasia ke Knesset. Tahun lalu, delegasi Indonesia juga menghadiri konvensi Homeland Security di Tel Aviv.

Kendati hubungan bisnis kedua negara kian mesra, M.Z. Rakhmat memperkirakan kemesraan itu tidak akan terlalu ditonjolkan apalagi dipamerkan pada masa-masa mendatang. Sebab, hal itu diperkirkan akan mendatangkan tekanan dari kelompok Islam di dalam negeri. Apalagi, media sosial kini telah secara luas menyebarkan bagaimana konflik Israel-Palestina.

Editor : Eben Ezer Siadari

Back to Home