Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 10:14 WIB | Selasa, 29 Juli 2014

Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia

Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. (Foto: voaindonesia.com).
Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Umat Muslim berbondong-bondong masuk Masjid Istiqlal melalui pintu Al-Fatah guna menunaikan Shalat Ied, Senin (28/7). (Foto-foto: Prasasta Widiadii).
Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Umat Muslim berbondong-bondong masuk Masjid Istiqlal melalui pintu Al-Fatah guna menunaikan Shalat Ied, Senin (28/7).
Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Umat Muslim berbondong-bondong masuk Masjid Istiqlal melalui pintu Al-Fatah guna menunaikan Shalat Ied, Senin (28/7).
Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Umat Muslim berbondong-bondong masuk Masjid Istiqlal melalui pintu Al-Fatah sguna menunaikan Shalat Ied, Senin (28/7). (Foto-foto: Prasasta Widiadii).
Din Syamsuddin: Idul Fitri Momentum Persatuan Indonesia
Umat Muslim melaksanakan Shalat Ied di Masjid Al Aqsa. (Foto: voaindonesia.com).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Din Syamsudin memberi definisi tentang Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriyah, yakni Idul Fitri merupakan salah satu cara mempersatukan bangsa Indonesia. Din mengatakan demikian  pada Senin (28/7) di acara Silaturahim Idul Fitri Keluarga Besar Muhammadiyah di Yogyakarta.

Momen ini penting karena bangsa Indonesia sempat  terpecah belah karena pilihan yang berbeda pada pemilu presiden awal bulan lalu.

“Kemarin selama pilpres keterbelahan bangsa ini mungkin menimbulkan luka-luka maka ini saatnya kita rajut kembali ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa),” kata Din.

Indonesia baru saja menggelar pemilihan Presiden pada Rabu (9/7), tiga bulan sebelumnya pada 9 April 2014, Indonesia juga menentukan siapa saja yang akan menduduki posisi wakil rakyat di tingkat pusat, dan daerah.

“Ukhuwah yang  harus membawa kita sebuah kesadaran kolektif bahwa kita memiliki masa depan yang sama. Pilpres ini hanya agenda lima-tahunan untuk lima tahun kedepan. Sementara kebersamaan kita sebagai bangsa akan mengambil waktu berpuluh-puluh tahun kedepan,” lanjut Din Syamsudin.

Muhammadiyah, tegas Din, menanggap bahwa kepentingan nasional di atas segalanya dan mengharapkan bahwa partai yang menjadi pemenang pemilihan legislatif dan pemilihan presiden lalu dapat mengusung kepentingan bersama  bukan hanya koalisi partai pendukungnya.

“Rekonsiliasi nasional ini harus menyadari dan memposisikan diri milik semua. Juga, nanti jangan menerapkan Zero Sum Game politics, politik yang meniadakan yang lain karena kita tidak mengenal partai yang berkuasa dan partai yang beroposisi. Dirajut didalam hubungan yang intensif diantara partai-partai politik yang berada di dua kubu yang berbeda,” lanjut Din.

Din mengharapkan bangsaIndonesia akan terus mendukung pemimpin yang baru dan terpilih,karena merupakan amanat dari rakyat. Joko Widodo dan Jusuf Kalla merupakan pemimpin yang akan dilantik pada Oktober 2014 mendatang sebagai Presiden Indonesia ketujuh menggantikan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Prof. Boediono. (voaindonesia.com).

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home