Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 02:05 WIB | Minggu, 08 September 2019

Dino Patti Djalal: Ciptakan Respek Antarumat Beragama

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau Cak Nanto (kiri) memberikan paparan bersama pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal (kanan) terkait ujaran kebencian. (Foto: Antara/Muhammad Zulfikar)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Inisiator "The 1.000 Abrahamic Circle" (1.000 Lingkaran Abraham) Dino Patti Djalal mengatakan setiap orang perlu menciptakan sikap respek antarumat beragama untuk mengatasi konflik dan kemelut berkepanjangan atas perbedaan yang ada.

"Saat ini tidak cukup hanya dengan toleransi, melainkan harus berada pada level respek terhadap agama lain," kata pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini usai kegiatan diskusi bertema "Let's Talk about Hate: Decoding Interfaith Voices" di Jakarta, Sabtu (7/9) malam.

Dikutip Antara, Ia menjelaskan secara global, hubungan antarumat beragama khususnya Islam, Kristen dan Yahudi semakin memburuk. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa bukti survei.

Menurut dia, perlu adanya tindakan proaktif dan bergerak cepat dalam menjalin hubungan yang bisa menghasilkan koneksi dan sekaligus respek antarumat untuk memperbaiki keadaan tersebut.

"Salah satunya ialah dengan memaksimalkan perwujudan misi dari Abraham Circle," ujar mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini.

Ia menjelaskan Abraham Circle terus mencoba agar pada abad ke-21 agama Samawi yakni Islam, Kristen dan Yahudi tidak lagi mengalami konflik dan kemelut.

"Kami sejauh ini sudah menjalankan dua circle, pada November akan ada circle ketiga. Target keseluruhan ialah 1.000 circle dalam 10 tahun ke depan," kata dia.

Kegiatan tersebut mengikutsertakan negara yang mengalami ketegangan atau salah paham antara muslim, Kristen dan Yahudi.

Sebagai contoh, ialah negara-negara barat dimana pandangan terhadap muslim atau islamofobia semakin tinggi.

Terkait pelaksanaan program, orang-orang yang dilibatkan ialah akar rumput atau harus merupakan tokoh yang memiliki pesantren, gereja atau jemaah sehingga segala sesuatu yang mereka pelajari nantinya dapat diajarkan kepada pengikut atau siswanya.

 

Ujaran Kebencian

Terkait ujaran kebencian yang sekarang marak, Dino Patti Djalal mengatakan ujaran kebencian dapat terjadi karena warisan turun temurun lingkungan suatu kelompok masyarakat.

"Jadi, intoleransi ini ada yang terjadi secara turun temurun dari lingkungannya," kata dia

Awalnya, pelaku ujaran kebencian tidak membenci suatu kelompok, namun karena adanya lingkungan yang tidak baik maka ikut menciptakan intoleransi.

"Menurut saya itu yang harus dipatahkan," katanya.

Selain itu, ia melihat banyaknya ujaran kebencian terjadi karena masyarakat masih atau mudah percaya dengan hoaks atau berita bohong tentang kebencian.

Senada dengan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Sunanto alias Cak Nanto mengatakan semua agama pada dasarnya melarang umat melakukan ujaran kebencian.

"Saya menyakini setiap agama apa pun tidak pernah mengajarkan ujaran kebencian," kata dia.

Ia menilai sejumlah kejadian ujaran kebencian yang terjadi akibat adanya kepentingan kekuasaan dunia dan hal tersebut harus dihilangkan.

Agama Islam, ujar dia, juga mengajarkan hal yang sama untuk saling menghormati dan mencintai semua orang. Namun, sejumlah kasus ujaran kebencian yang dilakukan oleh muslim dikarenakan tidak memahami agama secara baik. (antaranews.com)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home