Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 13:54 WIB | Rabu, 14 Februari 2018

Dirjen Bimas Kristen Soroti Standar Perguruan Tinggi Teologi

Dirjen Bimas Kristen Kemenag Prof Thomas Pentury. (Foto: Dok Universitas Pattimura)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama,Thomas Pentury, menyoroti masalah perkembangan standar minimal penyelenggaraan pendidikan tinggi teologi, di acara Dies Natalis ke-86 Sekolah Tinggi Teologi (STT) Gereja Kalimantan Evangelis.

“STT GKE yang sudah berusia 86 tahun harusnya telah menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas, sehingga menghasilkan lulusan yang dapat membantu bangsa ini keluar dari problem yang ada,” kata Thomas Pentury saat memberikan Orasi Ilmiah dalam Dies Natalis STT GKE, Sabtu (10/2/2018), seperti dilansir situs resmi kemenag.go.id.

Acara Dies Natalies STT GKE kali ini mengusung tema “Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Teologi yang Berkualitas”.

Menurut Thomas Pentury, bangsa ini akan keluar dan terbebas dari masalah seiring sejalan kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun, setiap penyelenggaraan pendidikan pada level apa pun harus punya standar.

Guru besar ilmu stastika multivariat Universitas Pattimura Ambon ini menuturkan, selayaknya perguruan tinggi yang baik dan berkualitas setidaknya memiliki standar minimal, paling kurang memenuhi standar nasional pendidikan yang sudah ditetapkan pemerintah. Standar nasional pendidikan yang ditetapkan pemerintah adalah standar minimal, yang harus dipenuhi penyelenggara pendidikan temasuk lembaga pendidikan tinggi yang dikelola Kemenag.

“Standar mutu yang biasanya kita laksanakan dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), harusnya bersifat internal driven, lahir atas kemauan dari diri sendiri, harus dari dalam, bukan dipaksa,” Thomas menambahkan.

Jika itu bisa dikerjakan, lanjut Thomas, pengakuan eksternal akan mudah diperoleh baik lewat akreditasi secara nasional maupun internasional. “Saya berharap Sekolah Tinggi Teologi Kristen kita dapat menjalankan program pendidikannya dengan tetap mengacu pada standar nasional pendidikan tinggi,” ia menegaskan.

Sejarah STT GKE

STT GKE adalah perguruan tinggi teologi di bawah naungan Yayasan Pendidikan Teologi Gereja Kalimantan Evangelis, yang terletak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Keberadaan STT GKE tidak dapat dipisahkan dari sekolah pendeta yang didirikan tahun 1932. Kala itu, seperti dikutip dari Wikipedia, pendidikan teologi diselenggarakan di bawah wewenang Zending Basel (Basel Mission).

 Sekolah pendeta ini pernah terhenti selama satu dasawarsa dan baru dibuka kembali pada tahun 1948 dengan nama sekolah theologia. Ketua Sekolah Theologia yang pertama adalah Dr Christoph Barth, anak sulung dari teolog ternama Karl Barth. “Tugas dan tujuan sekolah ini dibuka ialah mendidik pemuda-pemuda menjadi pendeta untuk Gereja Dayak.”

Pada tanggal 3 Februari 1963 status sekolah theologia ditingkatkan menjadi Akademi Theologia GKE dan pada tanggal 8 Juni 1981 memperoleh status terdaftar dari Mendikbud RI.

Kemudian berdasarkan Surat keputusan Mendikbud RI No 0395/0/1986 pada tanggal 25 Mei 1986 tentang penetapan kembali Penyesuaian Jalur, Jenjang, dan Program Pendidikan serta Unit/Fakultas/Jurusan/Program Studi Status terdaftar pada Perguruan Tinggi Swasta, maka Akademi Theologia GKE menyesuaikan diri dan berganti nama menjadi Akademi Filsafat GKE sehingga Status terdaftar diperbarui lagi dengan SK Mendikbud No 398/DIKTI/Kep/1992 tertanggal 19 Agustus 1992.

Sehubungan dengan tuntutan pelayanan yang meningkat, kuantitas maupun kualitas, dan dalam rangka mempersiapkan tenaga pelayan yang terampil di tengah-tengah jemaat, gereja, dan masyarakat, Sidang Majelis Sinode GKE tanggal 24-25 Juli 1986 menugaskan kepada pengurus Yayasan Pendidikan Teologi (YPT) GKE untuk meningkatkan status Akademi Filsafat GKE menjadi Sekolah Tinggi Teologi GKE.

Pada tahun 2003, berdasarkan Keputusan Menteri Agama cq Dirjen Bimas Kristen, No DJ III/Kep/IIK.00.5/14/160/2004 tanggal 19 Januari 2004, STT GKE mendapatkan status “diakui”. Sejak 2003-2005, STT GKE melaksanakan Ujian Negara S1 Departemen Agama RI yang diikuti 88 orang dan semua telah lulus. Pada tahun yang sama (2003) STT GKE mengarahkan semua mahasiswa untuk mengambil program S1, sesuai dengan pengembangan STT GKE dan tuntutan jemaat agar lulusan STT memiliki kualitas yang lebih baik.

Pada tahun 2002, STT GKE membuka program Magister Divinitatis yang menerima mahasiswa dari S1 Umum dan dari D3 Teologi. Pada tanggal 23 Januari 2003 program MDiv dan Program S1 mendapat Akreditasi dari ATESEA (The Association for Theological Education in South East Asia).

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home