Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 08:18 WIB | Jumat, 29 Mei 2015

Dirut Jasa Marga Sebut Tol Jabodetabek Seperti Tempat Parkir

Dirut Jasa Marga Sebut Tol Jabodetabek Seperti Tempat Parkir
Direktur Utama PT. Jasamarga, Adityawarman pada Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Deputi Kementerian BUMN, Dirut PT Pembangunan Perumahan (PP) (Persero), dan Dirut PT Jasa Marga yang berlangsung di Ruang Komisi VI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (28/5). (Foto-foto: Prasasta Widiadi).
Dirut Jasa Marga Sebut Tol Jabodetabek Seperti Tempat Parkir
Bambang Haryo Soekartono, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra pada Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Deputi Kementerian BUMN, Dirut PT Pembangunan Perumahan (PP) (Persero), dan Dirut PT Jasa Marga yang berlangsung di Ruang Komisi VI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (28/5).
Dirut Jasa Marga Sebut Tol Jabodetabek Seperti Tempat Parkir
Para pemimpin rapat Komisi VI DPR RI, Farid Ali Fauzi (kemeja batik emas), Lili Asdjudiredja (kanan).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Jalan tol atau jalan bebas hambatan yang berfungsi untuk mengurangi kepadatan jalan raya di seluruh penjuru Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) sudah tak lagi ideal karena tingkat kepadatan yang sangat tinggi. Bahkan, sudah tidak beda dengan tempat parkir.

“Sekarang ini jalan tol sudah menjadi tempat parkir terpanjang,” kata Direktur Utama PT. Jasamarga, Adityawarman pada Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Deputi Kementerian BUMN, Dirut PT Pembangunan Perumahan (PP) (Persero), dan Dirut PT Jasa Marga yang berlangsung di Ruang Komisi VI, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (28/5). 

Dia mencontohkan, salah satu tol yang saat ini sangat dipadati kendaraan adalah Tol TB Simatupang, Jakarta Selatan. Seharusnya, kata Adityawarman, volume to capacity ratio atau rasio volume lalu lintas terhadap kapasitas jalan adalah 0,8. Namun, saat ini rasio volume jalan tol sudah melampui angka itu.

Oleh karena itu, dia berharap, pembangunan jaringan tol lingkar luar kedua dan Jakarta Outer Ring Road (JORR) W2 bisa mengurangi kepadatan di beberapa ruas tol dalam kota.

Dia pun meminta agar DPR ikut berperan serta dalam membantu pengembangan sistem jaringan jalan tol di Jabotabek yang sudah terlalu padat dengan kendaraan.

Menurut wikipedia.org Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) adalah rangkaian jalan tol yang melingkari bagian luar Jakarta. Jalan tol pertama yang dibangun dan kemudian menjadi bagian dari JORR adalah Jalan Tol di Jalan T.B. Simatupang (Tol Pondok Indah). Tol JORR  terbagi menjadi 3 bagian besar ruas Ulujami-Rorotan dikelola oleh PT Jalantol Lingkarluar Jakarta, ruas Kembangan-Penjaringan dikelola oleh PT Jakarta Lingkar Barat Satu kemudian ruas Kembangan-Ulujami dikelola oleh PT. Marga Lingkar Jakarta yang merupakan anak perusahaan Jasa Marga.

Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta sebagai alternatif bagi warga Tangerang atau Jakarta yang menuju Bekasi, Bogor dan kota-kota di Pantura dan Jalur Selatan dan juga sebagai tujuan utama ke Depok atau tujuan utama bagi buat warga kota Tangerang Selatan ke Bekasi, Bogor, Depok dan kota-kota di Pantura dan Jalur Selatan.

Bambang Haryo Soekartono, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra mempertanyakan kenapa angka kecelakaan tinggi di jalan bebas hambatan dan dia berharap PT. Jasa Marga melakukan perbaikan mekanisme pelayanan di jalan tol.

“Kami mengharapkan Jasa Marga bisa membuat terobosan karena ini sangat dibutuhkan masyarakat luas yang membutuhkan jalan tol, terutama untuk kelancaran proses ekonomi,” kata Bambang Haryo.

Bambang mengharapkan sejak dulu di Pulau Jawa  dibangun jalan tol yang tidak terputus-putus, apalagi tidak lama lagi akan mendekati bulan Ramadhan dan akan ada arus mudik dan balik dalam skala besar yang membutuhkan jalan raya dan jalan tol yang terkoneksi dengan baik

“Sekarang, menurut saya  perlu dibangun infrastruktur yang lain di darat,  selain kereta api padahal kalau di negara maju kalau mereka membangun kereta cepat mereka harus ada jalan cepat dulu, jadi kalau kereta cepat itu hitungannya masih port to port belum point to point tetapi di sini seharusnya Peran dari PP maupun konstruksi harus diberdayakan,” kata Bambang Haryo.

Salah satu pemimpin rapat, Farid Al Fauzi dari Fraksi Hati Nurani Rakyat  membacakan kesimpulan rapat  dan meminta rekomendasi kepada PT. Jasa Marga melakukan inovasi dan membangun jalan tol baru dalam rangka mendukung program penambahan jalan tol di Indonesia 1000 kilometer sampai 2019 untuk mencapai target sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPMJN) 2015-2019. “Komisi VI meminta PT Jasa Marga meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan,” kata Farid.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home