Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 16:41 WIB | Rabu, 07 November 2018

Disiplin, 5 Hal Membangun Spiritualitas Damai

Pendeta Paulus Kariso Rumambi (tengah) saat konferensi pers Seminar Nasional dengan tajuk utama "Membangun Spiritualitas Damai yang Menciptakan Pendamai" dan sub tema 'GPIB Damai untuk Indonesia Damai' yang dilaksanakan Rabu (7/11), di GPIB Immanuel Jakarta. (Foto: Melki Pangaribuan)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pendeta Paulus Kariso Rumambi, Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) masa bakti 2016-2020 mengatakan berbicara spiritualitas damai berarti ada spiritualitas yang tidak damai.

Menurutnya, spiritualitas damai lawannya adalah spiritualitas yang berkekerasan.

“Saya ingat peribahasa dengan nila setitik susu sebelanga itu bisa rusak. Dengan nila setitik saja (damai) bisa rusak,” kata Paulus Kariso Rumambi dalam konferensi pers Seminar Nasional dengan tajuk utama "Membangun Spiritualitas Damai yang Menciptakan Pendamai" dan sub tema 'GPIB Damai untuk Indonesia Damai' yang dilaksanakan Rabu (7/11), di GPIB Immanuel Jakarta.

Baca juga: HUT ke-70, GPIB Hadirkan Damai untuk Indonesia

Dia mengatakan, begitu sulitnya kita membangun spiritualitas damai yang membutuhkan disiplin. Ada lima hal kalau kita berbicara tentang spiritualitas damai, di mana secara tekun disiplin harus kita lakukan.

Pertama, empati, kita harus bisa merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita. “Kenapa dia membenci kita?” tanyanya.

Kedua, terbuka, dengan disiplin kita harus mau juga selalu bersedia terbuka, terbuka untuk merangkul. Jadi kalau kita terbuka berarti kita siap menerima kesakitan-kesakitan, kalau kita membuka tangan kita, kita sudah siap badan kita diapain saja, tapi membuka tangan untuk merangkul.

Ketiga, kerendahan hati, dan itu terus harus secara disiplin melakukannya itu. Keempat, kita harus menanggung penderitaan. Kelima, pengharapan itu terus selalu ada.

“Nah ini amat sulit membangun spiritualitas damai dan berbicara spiritualitas itu tidak seperti grafik yang lama-kelamaan diharapkan naik. Spiritualitas itu kalau grafiknya bergelombang, suatu saat dia ada di atas, besok-besok dia bisa di bawah, begitu mudah spiritualitas kita berubah sebagai manusia individu,” katanya.

Dia mencontohkan, baru saja kita beribadah hari minggu. Keluar dari gedung gereja, bahkan belum keluar dari gedung gereja, baru mau keluarin mobil ada yang menghalangi saja sudah kita marah-marahnya luar biasa.

“Jadi begitu cepat berubah, seperti itulah. Jadi betapa sulitnya membangun spiritualitas damai yang tentu membutuhkan disiplin untuk melakukan kelima hal itu tadi. Yaitu empati, kenapa mereka membenci kita, kita perlu telusuri dan juga harus selalu mau membuka diri untuk merangkul mereka. Rendah hati, kita harus juga bertekun dengan sabar menanggung keadaan yang tidak mengenakkan dan jangan sampai putus harapan,” katanya.

 

 

Back to Home