Loading...
FOTO
Penulis: Dedy Istanto 13:59 WIB | Jumat, 10 Oktober 2014

Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia

Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Peneliti politik Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo saat berbicara mengenai reformasi yang memakan banyak korban jiwa dalam peristiwa tragedi 1998, dan menilainya sebagai salah satu bentuk kegagalan sistem manajemen negara atau pemerintah. Hal tersebut dia sampaikan pada diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi Indonesia yang digelar di Media Center LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (10/10) (Foto-foto: Dedy Istanto).
Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti, saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi Indonesia yang digelar di Gedung LIPI Jakarta Selatan.
Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Pengamat sejarah Asvi Warman Adam saat bercerita tentang sejarah politik era Orde Baru (Orba) sampai dengan sekarang dalam diskusi yang digelar di Gedung LIPI Jakarta Selatan.
Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Suasana diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi Indonesia yang dihadiri pengamat Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P) dan digelar di Media Center LIPI Jakarta Selatan.
Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Syamsuddin Haris, pengamat politik nasional LIPI saat hadir sebagai salah satu narasumber dalam diskusi bertajuk Selamatkan Demokrasi Indonesia yang digelar di Media Center, Gedung LIPI Jakarta Selatan.
Diskusi Selamatkan Demokrasi Indonesia
Suasana diskusi yang digelar di Media Center LIPI, dihadiri sejumlah aktivis prodemokrasi serta praktisi dan juga awak media dalam menyoroti kondisi politik di Indonesia.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tragedi tahun 1998 yang banyak makan korban adalah satu bentuk kegagalan dari sistem manajemen negara atau pemerintah. Hal itu disampaikan Hermawan Sulistyo, salah satu pelaku sejarah yang ikut memperjuangkan reformasi untuk mengedepankan demokrasi di Indonesia dalam diskusi bertajuk “Selamatkan Demokrasi Indonesia“, yang digelar di Media Center Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (10/10).

Hadir sebagai narasumber pengamat Pusat Penelitian Politik LIPI (P2P) lainnya, yakni Ikrar Nusa Bhakti, Asvi Warman Adam, dan Syamsuddin Haris, yang masing-masing berbicara tentang kondisi politik di Indonesia pascapemilihan presiden. Salah satu topik pembicaraan adalah proses sistem pemilihan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang disaksikan jutaan rakyat Indonesia, yang mencerminkan bagaimana kekuatan sistem parlemen akan menjadi roda politik untuk mengawasi pemerintahan presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla nanti.

Hal tersebut disampaikan Ikrar Nusa Bhakti, yang menilai bahwa desas desus pemakzulan saat ini sudah mulai berkembang, padahal presiden dan wakil presiden terpilih belum juga dilantik. Diharapkan hal tersebut tidak terjadi selama pemerintahan Joko Widodo masih dalam landasan konstitusi.

Sementara pengamat sejarah Asvi Warman mengatakan proses politik yang berkembang saat ini merupakan sisa-sisa dari rezim Orde Baru (Orba), terbukti bagaimana sisa-sisa kekuatan tersebut dimunculkan, salah satunya tentang pengajuan nama mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional. Usulan tersebut diajukan Partai Golongan Karya (Golkar) yang juga mendapat dukungan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Asvi juga menyinggung penggunaan lambang negara Garuda Indonesia sebagai maskot sebuah partai, dengan bubuhan warna merah mirip dengan lambang negara Indonesia, untuk mencerminkan nasionalisme. Asvi menilai tidak seharusnya lambang negara digunakan, karena sulit memakainya sebagai ukuran pemakai lambang itu lebih memiliki rasa nasionalisme sedangkan yang di luar itu tidak. Demikian juga tentang penamaan kelompok atau koalisi yang diberi nama Koalisi Merah Putih, yang jelas-jelas merupakan warna bendera kebangsaan Indonesia.

Menurut Asvi, lambang negara seyogianya tidak dijadikan maskot sebuah partai politik, karena itu merupakan lambang atau simbol negara.

 

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home