Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 19:22 WIB | Kamis, 10 Januari 2019

Dua Belas Wisatawan Prancis Belajar dan Memainkan Gamelan

Penampilan dua belas wisatawan asal Prancis memainkan gamelan-karawitan di Studio Banjarmili, Kradenan, Banyuraden, Gamping-Sleman, Rabu (9/1) malam. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dua belas wisatawan asal Prancis belajar tentang seni-budaya Jawa bersama Komunitas Gayam 16 Yogyakarta. Selama dua belas hari mereka mempelajari tarian, gamelan karawitan, wayang, hingga khasanah-ragam budaya Jawa baik benda dan tak-benda termasuk dialog-dialog sederhana.

Program manajer kegiatan Desyana Wulani Putri kepada satuharapan.com, Rabu (9/1) malam di Studio Banjarmili menjelaskan bahwa program tersebut merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap akhir tahun.

“Dalam sepuluh tahun terakhir Gayam 16 bekerjasama dengan Leda Atomica Musique/LAM (Prancis) mengajak wisatawan asal Prancis untuk mengenal lebih dekat seni-budaya Jawa. Mereka mengenal langsung dengan cara belajar bersama. Setiap hari mereka belajar menari, memainkan gamelan sekaligus karawitan, wayang, dan juga ragam seni-budaya Jawa lainnya,” jelas Putri.

Kerjasama Komunitas Gayam 16 dengan LAM sudah terjalin lama. Awal tahun 1990-an mendiang Sapto Rahardjo dan Alex Grillo (LAM) kerap membuat karya-karya kolaborasi menggabungkan instrumen musik modern dengan gamelan. Banyak komposisi yang dibuat bersama Alex dan Sapto dimainkan pada penampilan dua belas wisatawan Prancis di Studio Banjarmili, Bedog, Gamping-Sleman.

Rabu (9/1) malam setelah memainkan enam komposisi tradisional diantaranya lancaran Sluku-sluku Bathok, lancaran Baita Kandas, lancaran Eling-eling yang dimainkan oleh dua belas wisatawan tersebut dibantu beberapa dari Komunitas Gayam 16. Setiap pergantian gendhing/lancaran kedua belas wisatawan bertukar instrumen gamelan. Pada lancaran Gundhul-gundhul Pacul mereka mengiringinya dengan lirik tembang tersebut.

Pada dua lancaran lainnya tensi menabuh semakin meningkat saat memainkan lancaran Manyar Sewu yang dimainkan secara bergantian dalam laras pelog-slendro secara bergantian terus menerus. Dalam sebuah komposisi memainkan dua laras secara bergantian bukanlah hal yang mudah, terlebih saat kedua belas wisatawan “hanya” belajar selama enam hari di sela-sela aktivitas belajar seni-budaya Jawa lainnya.

Bahkan pada repertoar terakhir komposisi tradisional mereka secara rapi mampu memainkan komposisi playon Dhendeng Kentheng, sebuah komposisi yang lambat menghanyutkan di awalnya dan tiba-tiba dimainkan secara cepat di tengah-tengah repertoar selayaknya orang berlari (mlayu).

Pada penampilan berikutnya wisatawan Prancis tersebut memainkan beberapa komposisi yang diciptakan oleh Sapto Rahardjo dan Alex Grillo diantaranya “Si Cantik di Taman Sari”, “Balada Layang-layang”, “Irama Mengadakan”. Sebuah komposisi berjudul “Seven Saron Malet” dimainkan dengan memukul/menabuh instrumen balungan dengan menggunakan empat pemukul yang disatukan (malet).

Komposisi yang diciptakan Alex-Sapto pun bukan komposisi yang sederhana mengingat kedua musisi memadupadankan nada-nada pentatonis yang dihasilkan oleh gamelan dengan nada diatonis dari instrumen musik modern. Proses kolaborasi karya Alex-Sapto pada tahun 1998 menghasilkan satu album berjudul “Katak-Katak Bertanggo”.

Setelah memainkan komposisi Alex-Sapto, kedua belas wisatawan memainkan gendhing-gendhing Jawa lainnya diantaranya “Gugur Gunung” ciptaan Ki Narto Sabdo. Pada akhir sesi pementasan, beberapa wisatawan berganti kostum dengan karakter punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dan melakukan jamming tarian khas punakawan diiringi permainan gamelan oleh wisatawan lainnya.

Selain program tersebut di atas, bekerjasama dengan komuitas/musisi Prancis lainnya Komunitas Gayam 16 juga menjalankan program lainn diantaranya Balungan Project. Berbeda dengan program di atas yang lebih menekankan pada pengenalan seni-budaya Jawa, pada Balungan Project menjadi ruang proses berkarya, berinteraksi, merespon, dan mencoba menyelaraskan dalam sebuah permainan, antara Komunitas Gayam 16 dengan komunitas/musisi kontemporer Prancis.

Gamelan sebagai sebuah warisan bagi bangsa Indonesia, saat ini mendapat tempat di berbagai belahan dunia. Berbagai negara mulai mempelajarinya.

“Diaspora warga negara Indonesia di Eropa (Inggris dan Belanda) hari-hari ini cukup intens mengembangkan gamelan di sana. Inilah sebentuk berkah kabudayan (berkah karena turut menjaga dan mengembangkan kebudayaan): keselarasan hubungan antar bangsa yang sederajat dan bermartabat,” jelas pengurus Komunitas Gayam 16 Ishari Sahida atau biasa dipanggil Ari Wulu dalam perbincangan dengan satuharapan.com di sela-sela pementasan di Studio Banjarmili, Rabu (9/1) malam.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home