Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Alexander Urbinas 10:08 WIB | Sabtu, 22 September 2018

Dubito, Ergo Cogito, Ergo Sum: Sikap Kritis terhadap Melemahnya Rupiah

(Foto: Dok Pribadi)

SATUHARAPAN.COM – Melemahnya nilai mata uang rupiah pada beberapa waktu belakangan ini, menjadi perhatian kita bersama. Nilai tukar rupiah terhadap dollar yang hampir menyentuh 15 ribu rupiah –pada saat tulisan ini dibuat nilai tukar rupiah berada di Rp14.913,- per dollar AS–, memunculkan beragam pendapat dari berbagai lapisan masyarakat.

Banyak yang memahami ini sebagai sebuah kondisi global yang tidak dapat terelakkan. Namun, tidak sedikit juga yang menilai ini sebagai kegagalan pemerintah dalam mengambil kebijakan ekonomi.

Sosial media, boleh dikatakan sebagai tempat paling mudah bagi kita untuk menemukan penilaian-penilaian tersebut. Beragam nada satir hingga nyinyir atas melemahnya rupiah dapat dengan mudah kita temukan, yang ternyata berujung pada muatan politik Pilpres 2019.

Atas penilaian-penilaian bernada negatif tersebut, membuat saya teringat kepada ungkapan seorang filsuf berkebangsaan Prancis bernama Rene Descartes, yang berkata dalam bahasa latin “dubito, ergo cogito, ergo sum”, dalam terjemahan bahasa Inggris, "I doubt, therefore I think, therefore I am", atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “aku berpikir kritis, karenanya aku berpikir, maka aku ada”.

Ungkapan Descartes tersebut sebetulnya ingin mengatakan akan pentingnya berpikir kritis terhadap sesuatu hal. Berpikir kritis sendiri dapat dipahami sebagai berikut, yaitu: kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional, yang diliputi dengan kemampuan mengkaji sesuatu berdasarkan data dan fakta, serta berpikir reflektif dan independen.

Tanpa bermaksud tendensius atas kondisi melemahnya mata uang rupiah pada saat ini, terdapat beberapa pihak mencoba memanfaatkan kondisi ini dalam kepentingan politik. Terlebih lagi dengan memanfaatkan tangan para netizen (warganet). Sehingga muncullah isu bahwa kondisi sekarang ini menyerupai kondisi krisis tahun 2008 bahkan tahun 1998.

Benarkah demikian? Untuk menjawabnya mari kita bersikap kritis terhadap situasi Indonesia saat ini.

Data, Pengetahuan, Informasi

Terjadi tantangan global pada saat ini yang menerpa dunia. Yang paling mencolok dalam dunia ekonomi dan bisnis adalah persaingan antara Amerika dan Tiongkok, yang ingin menguasai pasar di dunia. Persaingan keduanya tersebut pada akhirnya mempengaruhi dunia, khususnya negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan kedua negara tersebut, termasuk Indonesia. Sehingga secara global, krisis ini tidak dapat dihindari.

Indonesia pun bukan satu-satunya negara yang terkena dampaknya. Dalam Data Global Emerging Market (DGEM) atau data global bagi negara-negara yang berkembang yang dirilis oleh World Bank disebutkan bahwa pelemahan mata uang rupiah menyentuh 12,07 persen. Bandingkan dengan melemahnya nilai mata tukar mata uang dari beberapa negara lain yang dicatat oleh DGEM seperti: Argentina (126,23 persen), Turki (94,37 persen), Brasil (32,47 persen), Rusia (18,53 persen), Afrika Selatan (17,93 persen), India (11,77 persen), Cile (10,98 persen), dan Australia (10,46 persen).

Pemerintah Indonesia pun dapat menahan laju inflasi pada poin 3,2 persen, dengan pertumbuhan ekonomi menyentuh 5,27 persen. Bandingkan dengan inflasi pada tahun 2008 yang menyentuh pada 10,27 persen dan ketika krisis tahun 1998 yang menyentuh 55,67 persen.

Atas kondisi sekarang ini maka dalam analisa publik dikatakan bahwa Indonesia sekalipun mengalami pelemahan mata uang, namun dapat disebut sebagai negara yang memiliki risiko kecil untuk dapat mengalami krisis ekonomi.

Sebagai warga negara dan pengguna media sosial, kita sering kali dengan mudahnya menilai dan menanggapi sesuatu tanpa berpikir kritis terlebih dahulu. Tanpa memperlengkapi diri dengan data, pengetahuan, dan informasi yang memadai. Sehingga dengan mudahnya diri kita tergiring oleh opini publik.

Mari kita biasakan diri kita untuk bersikap kritis dalam menerima informasi dan gejala sosial di sekitar kita.

Mari kita bangun rasa optimisme atas negara kita Indonesia!

Salam Kebangsaan!

Editor : Sotyati

Back to Home