Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 13:03 WIB | Senin, 02 Juli 2018

Duri dalam Daging

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM - Argentina tersingkir lebih awal di Piala Dunia Rusia 2018. Kenyataan ini kembali mengangkat sebuah tanya: Ada apa dengan Lionel Messi?

 

Lagi-lagi ia gagal menghantar negaranya berprestasi. Sebelumnya tiga kali berturut-turut – 2014, 2015, 2016 – ia hanya bisa membawa Argentina "hampir juara" alias runner-up. Padahal secara indvidual dan di tingkat klub, bisa dibilang ia sudah mencapai segalanya, bahkan hal-hal yang mustahil dicapai oleh pemain lain. Di tingkat negara ia benar-benar nihil.

 

Tetapi mungkin memang itu salah satu cara Tuhan menyayangi Messi. Sebab kalau di semua area ia bisa digjaya dan sukses, jangan-jangan ia tidak lagi "berpijak di bumi". Bila demikian akan sangat rentan ia jatuh tersungkur. Kegagalan, sebagaimana juga kelemahan, kerap Tuhan ijinkan terjadi, supaya seseorang itu tidak sombong dengan segala kesuksesan dan kelebihan yang dipunyainya.

 

Seperti yang Rasul Paulus katakan, "Supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri." (2 Korintus 12:7)

 

Di tingkat negara, bisa jadi begitu juga dengan Indonesia. Negeri ini mempunyai banyak sekali orang hebat. Beberapa yang sudah sangat dikenal, misalnya, BJ Habibie, Buya Maarif, Sri Mulyani, dan Susi Pudjiastuti. Dan yang mungkin tidak begitu dikenal di dalam negeri, tetapi dihormati di luar negeri, antara lain Griselda Sastrawinata dan Rini Sugianto, animator kelas dunia. Khoirul Anwar, Nelson Tansu, dan Warsito Purwo Taruno, penemu hebat dan pakar teknologi. Juga Butet "Sokola Rimba" Manurung, pahlawan Asia versi Majalah Time.

 

Namun supaya bangsa ini tidak meninggikan diri karena orang-orang hebatnya itu, diberilah "duri dalam daging" dalam bentuk “manusia nganu”; yang bukannya berupaya berkontribusi supaya negara ini tambah maju dan terhormat di mata dunia, malah merongrongnya terus menerus. Mungkin ini juga bisa menjawab pertanyaan: kenapa Tuhan masih saja membiarkan politisi nganu, pejabat nganu, profesor doktor nganu masih saja berkeliaran?!

 

 

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com )

 

 

Back to Home