Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 00:14 WIB | Kamis, 12 Januari 2017

Duterte Gratiskan Alat Kontrasepsi bagi 6 Juta Perempuan

Presiden Joko Widodo ketika mendampingi Presiden Rodrigo Duterte memeriksa barisan kehormatan pada hari Minggu (Foto: Ist)

MANILA, SATUHARAPAN.COM - Setelah sebelumnya menetapkan Januari sebagai Bulan Alkitab Nasional, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan sebuah perintah baru yang tidak kalah mengejutkan. Ia meminta instansi pemerintah untuk memastikan akses gratis ke kontrasepsi bagi 6 juta bagi perempuan yang tidak bisa mendapatkannya.

Langkah ini diduga akan memicu penentangan dari Gereja Katolik Roma di Filipina.

Menteri Perencanaan Ekonomi Filipina, Ernesto Pernia, mengatakan upaya intensif untuk memastikan alat kontrasepsi tersedia dan menekan hingga ke titik nol  masyarakat yang tidak terlayani program keluarga berencana, sangat penting untuk mengurangi kemiskinan. Dia mengatakan target pemerintah adalah untuk memotong angka kemiskinan dari 21,6 persen pada tahun 2015 menjadi 14 atau 13 persen pada akhir masa Duterte di 2022.

Perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Duterte pada hari Senin (9/1) mengatakan dari 6 juta perempuan yang kebutuhannya akan program keluarga berencana tidak terpenuhi, 2 juta telah teridentifikasi sebagai orang miskin.  Menurut perintah Duterte, jumlah 2 juta ini harus memiliki akses kepada alat kontraspesi secara cuma-cuma pada  tahun 2018, dan sisanya dilanjutkan sesudahnya.

Duterte juga memerintahkan agar lembaga pemerintah lebih agresif turun ke desa-desa untuk mengupayakan langkah ini.

Filipina adalah satu-satunya negara Asia-Pasifik di mana tingkat kehamilan remajanya naik dalam lebih dari dua dekade terakhir, menurut U.N. Population Fund. Dikatakan, lambatnya penurunan tingkat kesuburan keseluruhan negara dapat melenyapkan pertumbuhan ekonomi Filipina yang pada masa mendatang diperkirakan akan lebih cepat.

Menurut Pernia, 11 perempuan Filipina meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Adanya peraturan ini diharapkan akan mengurangi kematian ibu dan kehamilan remaja disamping untuk memungkinkan keluarga-keluarga memiliki jumlah anak yang mereka inginkan.

Juan Antonio Perez, direktur eksekutif Komisi Kependudukan Filipina, mengatakan jika alat kontrasepsi itu tersedia untuk 6 juta perempuan, tingkat prevalensi kontrasepsi dapat meningkat menjadi 65 persen, dari saat ini 40 persen.

Jumlah penduduk Filipina sekarang di angka 104 juta, tumbuh pada tingkat sekitar 1,7 persen secara tahunan. Angka  pertumbuhan ini dapat dikurangi menjadi 1,4 persen jika kampanye sepenuhnya diimplementasikan pada 2022, Perez menambahkan.