Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 20:40 WIB | Senin, 23 Juni 2014

Edo Kondologit Dijuluki Benyamin Sueb Papua

Edo Kondologit. (Foto: Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Penyanyi kondang Edo Kondologit dijuluki sutradara Garin Nugroho sebagai Benyamin Sueb dari Papua. Garin Nugroho mengatakan itu ketika mengupas dalam ‘Monolog Jakarta Untuk Indonesia’ di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta.

Dijuluki bak seniman kondang Betawi Benyamin Sueb yang populer pada tahun 1970-an, Edo Kondologit hanya tertawa.

“Itu bercanda saja. Karena kata dia (Garin Nugroho), saya cocok menyanyikan lagu ‘Kompor Mleduk’. Karena selama ini dia (Garin Nugroho) mendengar belum ada yang cocok menyanyikan lagu itu,” kata Edo Kondologit kepada satuharapan.com di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta pada Sabtu (21/6).

Selain mengiringi Garin Nugroho dalam ‘Monolog Jakarta Untuk Indonesia’ di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Edo Kondologit juga menceritakan pengalamannya hijrah ke Jakarta. Dia pertama kali ke Jakarta pada Januari 1989.

“Saya datang ke Jakarta dari kampung karena ingin melihat Monas. Saya waktu itu ingin menjadi pelari. Zaman Bob Hasan Ketua bikin lomba lari 10 Kilo. Dulu hadiahnya besar banget, satu miliar. Saya ingat banget lomba di Senayan, tabloid Bola ulang tahun kelima,” kata Edo Kondologit.

Karena tidak pernah menjuarai lomba lari, akhirnya Edo Kondologit bekerja serabutan. “Waktu itu saya bingung. Mau pulang tidak ada duit, terus bekerja macam-macam. Daripada tidak jelas hidupnya, saya kerja saja. Waktu itu bekerja supaya dapat membeli tiket pulang ke Papua. Gagal jadi pelari, tidak punya keahlian apa-apa. Terus saya kerja jadi kuli di Tambun, angkat-angkat batu. Waktu senggang ngamen (di jurusan) Bekasi – Pulogadung, Pulogadung  – Blok M.”

Edo Kondologit mengaku ketika datang ke Jakarta dia hanya bermodal nekad dan lulusan SMA.

“Waktu jadi pengamen, saya bertemu teman dari Semarang. Saya diberi pekerjaan di Kelapa Gading. Ada lowongan yang cocok sama tampang saya, menjadi hansip. Terus pindah ke Kemang jadi tukang kebun. Jam 6 sampai 8 jadi tukang kebun, setelah itu jadi satpam.”

Setelah lontang-lantung tidak jelas pada Oktober 1991, Edo Kondologit mulai menyanyi di sejumlah pub. Baru pada 1992, dia mulai mengikuti tes Asia Bagus dan akhirnya berangkat ke Singapura. “Setelah empat tahun baru mulai jadi penyanyi beneran.”

Bermodalkan Kepercayaan

Edo Kondologit mengaku bahwa di Jakarta ketika merantau dirinya tidak ada sanak saudara. Karena itu dia sangat menjaga kepercayaan dalam berelasi dengan orang di Jakarta.

“Saya lihat di Jakarta ini semua orang punya kesempatan untuk sukses. Yang penting bagaimana orang itu memanage hidup. Modal saya itu hanya berteman baik dengan orang-orang. Suku, agama apa pun, saya berteman baik. Kalau kita berteman baik dengan siapa saja pasti ada jalan. Itu yang saya alami di Jakarta.”

Edo Kondologit menceritakan alasan hijrahnya ke Jakarta karena Jakarta baginya merupakan kota impian. Tempat semua orang ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Menurutnya, hal ini diakibatkan sistem pembangunan yang tidak merata sehingga orang banyak pergi ke Jakarta. Dia berharap Presiden mendatang benar-benar membangun Indonesia secara utuh sehingga orang Papua tidak perlu datang ke Jakarta karena Papua dibangun dengan maju.

Keberagaman Harus Dikelola

Edo Kondologit mengatakan keberagaman Indonesia merupakan kekayaan yang harus dikelola. “Suka tidak suka, mau tidak mau, Indonesia ini diciptakan Tuhan sudah beragam budaya, suku, agama. Dari sononya sudah begini. Ini kekayaan yang harus kita kelola dengan benar. Kalau tidak kelola akan memecah konflik sosial. Bagi saya keberagaman ini adalah karunia Tuhan yang harus dikelola dengan benar.”

“Di Jakarta ini ada orang dari pelbagai latar belakang. Yang mau saya ceritakan, Indonesia ini terbentuk bukan dari satu macam suku atau agama. Indonesia ini ada karena perpaduan banyak suku, budaya, etnis, yang membentuk kita hari ini. Itukekayaan kita sebagai bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan Jakarta ini adalah cermin itu,” kata laki-laki asal Sorong ini.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home