Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:43 WIB | Rabu, 30 Mei 2018

Ekohidrologi Jadi Solusi Masalah Air Bersih di Indonesia

Ilustrasi. Konsep ekohidrologi solusi masalah air bersih di Indonesia. (Foto:lipi.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia berkontribusi atas 21 persen dari total keseluruhan air bersih di Asia Pasifik.

“Meskipun  demikian kenyataanya masih ada masyarakat kita yang kekurangan air bersih,” kata  peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ignasius Dwi Atmana Sutapa di kegiatan Media Briefing “Pola Hidup Bersih: Aplikasi Ekohidrologi untuk Ketersediaan Air Bersih yang Berkelanjutan di Indonesia” pada Jumat (25/5) di Jakarta, yang dilansir situs resmi lipi.go.id.

Ignasius mengatakan, “Untuk mempertahankan kuantitas air agar tidak menurun bisa digunakan metode ekohidrologi.”

Ia mengatakan, kosep ekohidrologi menyatukan berbagai aspek diantaranya hidrologi, ekologi, ekoteknologi, dan budaya.

“Tujuan penyatuan dalam berbagai aspek di konsep ekohidrologi yakni untuk memberikan kualitas sumber daya air yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.

Secara spesifik Ignasius mengatakan, komponen dalam ekohidrologi memiliki perannya masing-masing.

“Prinsip ekologi adalah peningkatan kapasitas penyerapan dari ekosistem. Sedangkan, prinsip hidrologi menjadi kerangka kerja untuk proses kuantifikasi massa air,” katanya.

Sementara prinsip ekoteknologi, kata Ignasius, terkait penggunaan properti ekosistem yakni sebagai alat tata kelola manajemen air.

“Lalu prinsip budaya adalah untuk meningkatkan hubungan yang dinamis antara sistem hidrologi, sosial, dan ekologi,” katanya.

Herry Yogaswara, dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI mengatakan, masyarakat sebetulnya mampu menciptakan sumber air bersihnya sendiri.

“Salah satu bentuk insiatif masyarakat desa yakni membuat penampungan air,  sebagai bentuk gotong royong pedesaan. Keberadaan bak penampungan air mencerminkan masih kuatnya semangat gotong royong dan proses mengatur pengelolaan air bersih yang dilakukan masyarakat,” kata Herry.

Herry mengatakan, diperlukan kerjasama dan respons positif dari pemerintah daerah untuk bersama-sama mengelola inisiatif masyarakat untuk menjaga air bersih.

“Sangat diperlukan edukasi ke masyarakat agar mendorong mereka semakin berinisiatif menciptakan tata kelola air bersih, yang baik seperti mengelola hutan desa untuk menjaga jumlah air bersih di tanah, membuat lubuk ikan di sumber mata air, dan melalui bak penampungan air di pedesaan,” katanya.

Sementara peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI,  Rachmat Fajar Lubis mengatakan, edukasi terkait pentingnya air bersih sangat diperlukan untuk diajarkan sedari dini.

“Sebagai contoh Asia Pacific Centre for Eco-Hydrology telah berupaya mengajarkan pada pentingnya menjaga sumber daya air dan pemahaman untuk menggunakan air secara bijaksana kepada pelajar,” katanya

Rachmat mengatakan, menjelang musim kemarau pada puncaknya di bulan Agustus- September mendatang, seharusnya mulai dibuat skenario pemerintah untuk mengantisipasi dampak kekeringan.

“Salah satu upaya bisa dengan semakin gencar mengedukasi masyarakat untuk mulai membuat sistem pengelolaan air yang tepat,  dan untuk petani sebaiknya diajarkan bagaimana membuat sistem imbuhan air bawah tanah agar tidak terlalu mempengaruhi kondisi pangan nasional,” katanya.

 

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home