Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 00:31 WIB | Selasa, 25 Juni 2019

Empat Puluh Mahasiswa Seni Rupa Lintas Kampus Pameran Bersama

Empat Puluh Mahasiswa Seni Rupa Lintas Kampus Pameran Bersama
Acara Akademika Bentara "Pameran Empat Panel" yang digelar pada Minggu, 23 Juni 2019 di Bentara Budaya Bali. (Foto-foto: Bentara Budaya Bali/Wahyu Ganesa)
Empat Puluh Mahasiswa Seni Rupa Lintas Kampus Pameran Bersama
Live mural dan stensil.

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Di Bentara Budaya Bali (BBB) Minggu (23/6) berlangsung pembukaan pameran “Empat Panel”, melibatkan 40 mahasiswa dari lintas institusi seni di Bali. Program yang terangkum dalam Akademika Bentara ini akan terselenggara hingga 30 Juni 2019 mendatang. 

Menurut kurator pameran ini, Made Susanta Dwitanaya, peristiwa kali ini bukan sekadar ajang pameran bersama. Namun diniatkan untuk mencoba menelisik dan memantik ruang-ruang kemungkinan yang lebih dalam dan luas melalui model kerja kolaboratif gabungan.

“Pendekatan model kolaboratif gabungan  ini adalah model kolaboratif yang mempertemukan gagasan beberapa orang tanpa menghilangkan karakteristik tiap-tiap individu yang berkolaborasi. Gagasan ini diterjemahkan dalam metode presentasi (penyajian) karya di ruang pameran yang menghadirkan empat panel karya  dari masing-masing mahasiswa dari empat institusi ini menjadi satu karya bersam, “ ungkap Susanta.

Ia menjelaskan, bahwa 40 mahasiswa dibagi ke dalam 10 kelompok yang terdiri dari empat peserta lintas institusi. Masing-masing kelompok menyepakai sebuah sub tema yang berangkat dari tema utama “Mulat Sarira”, yang kemudian diinterpretasikan oleh masing-masing anggota menjadi karya seni rupa. 

Sebagian kelompok menengok pada akar kultural, serta ada pula yang mengkontekstualkannya dengan tema – tema alam.  Di sisi lain, terdapat juga kelompok yang menginterpretasi Mulat Sarira dalam konteks persoalan-persoalan personal atau kedirian yang dihadapi manusia, dan merujuk pada berbagai persoalan sosial yang berkelindan dalam keseharian manusia kontemporer.

Adapun perguruan tinggi seni di Bali yang terlibat dalam pameran ini yakni ISI Denpasar, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Universitas Hindu Indonesia (UNHI) dan IKIP PGRI Bali. 

Susanta juga menambahkan, institusi pendidikan merupakan salah satu komponen penting medan sosial seni rupa, inkubator tempat para mahasiswa seni ditempa bakat dan  minatnya serta dimatangkan. Keempat institusi ini mencetak output-output para pelaku (pencipta, pengkaji) dan pendidik seni rupa yang diharapkan dapat menjadi insan-insan kreatif yang akan mewarnai masa depan seni rupa Bali.

Adapun pameran ini diniatkan untuk mempresentasikan capaian-capaian kreatif para perupa muda dari empat institusi pendidikan seni yang ada di Bali.  Diharapkan terjadi kemungkinan-kemungkinan visual yang kreatif sekaligus lebih menyegarkan. Dengan ini diharapkan dapat terbaca pula perkembangan dunia pendidikan seni rupa  yang ada di Bali dan terproyeksikan upaya regenerasi dunia senirupa Bali yang dinamis dan progresif.

Ketut Budiana, maestro seni lukis Bali, yang berkesempatan meresmikan pameran ini mengungkapkan apresiasinya terhadap program yang diinisiasi para mahasiswa lintas kampus ini. Ia pun memiliki harapan yang besar terhadap hasil karya para seniman muda ini. Baik secara teknik, capaian stilistik, maupun kemampuan mereka dalam merespon tematik yang mencerminkan semangat kolaborasi tersebut, sekaligus tetap bersifat mempribadi.

Menurut Made Susanta, bila dilihat dari aspek kekaryaan, pada pameran kali ini terbaca karakteristik visual dan jelajah artistik serta pilihan medium dari masing-masing peserta yang berkolaborasi dalam satu kelompok. Yang mengemuka pada karya-karya pameran ini yakni sebagai gabungan-gabungan karya yang eklektis, baik pada karya dua dimensi maupun tiga dimensi. 

Pembukaan pameran ini dimaknai pula performance art oleh KONTUR berjudul “A.IU” serta live mural dan stensil oleh Afan Farhan dan Putra Wali Aco. (PR

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home