Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:50 WIB | Jumat, 28 Desember 2018

Etiket dan Kebiasaan Jerman yang Bantu Jaga Lingkungan

Ilustrasi. Menutup panci saat memasak, bisa bantu jaga lingkungan. (Foto : dw.com)

JERMAN, SATUHARAPAN.COM – Orang Jerman punya Knigge atau etiket saat berinteraksi dengan orang lain. Knigge digagas oleh Adolph Franz Friedrich Lugwig Knigge, dan tertuang dalam bukunya Uber den Umgang mit Menschen – sikap antarmanusia.

Kini seiring bergantinya waktu, Knigge pun kian berkembang. Tak hanya mengatur sikap antarmanusia, tapi juga mengatur sikap manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Lalu apa saja Knigge itu?

Kurangi Makan Daging 

Dengan mengurangi makan daging, kita pun turut mengurangi jumlah CO2 di bumi.

‘’Lah, kok bisa?’’ Karena butuh banyak energi untuk memproduksi pakan ternak. Bayangkan, 1 kilo daging yang kita konsumsi, butuh 5 kilo pakan ternak yang terbuat dari kedelai. Untuk menghasilkan kedelai butuh lahan luas, alhasil banyak hutan terpangkas menjadi lahan soya ini.

Rata-rata satu orang Jerman mengkonsumsi daging sampai 59 kg per tahun, menghasilkan sekitar 324 kg CO2 setiap tahunnya. Kalau orang Jerman mengurangi konsumsi daging sapi jadi hanya sekali seminggu, ini dipercaya bisa mengurangi 128 kilogram CO2 per tahunnya ke udara, untuk 1 orang. Konsumsi daging orang Indonesia masih tergolong rendah, rata-rata perorang menkonsumsi 2.9 kilogram per tahun.

Seorang vegetaris malah bisa mengurangi sampai 1,2 ton CO2 di udara. Sayur dan buah lokal sangat baik dikonsumsi, selain segar dapat juga mengurangi CO2 karena tak perlu transportasi jauh seperti untuk mendatangkan buah dan sayur impor.

‘’Lalu apa yang dimakan orang Jerman sebagai ganti protein daging?’‘ kata Sorta Caroline, lulusan master EU dan Internasional Energy Law dari TU Berlin, kepada temannya seorang Jerman yang vegetaris, Marc Rofke, seperti dilansir dw.com pada Kamis (27/12).

‘‘Di Jerman ada keju kaya protein seperti Harzer Kase, Magerquark, dan Huttenkase,‘‘ jawabnya.

‘‘Kalau bukan produk susu, apa lagi? Di Indonesia kan tidak banyak keju‘‘ kata Sorta.

‘’Oh, masih bisa diganti kacang-kacangan, atau kacang merah, kacang kedelai, tahu dan tempe enak juga.‘’

Kalau diperhatikan, kata Sorta, memang Marc jarang masak, makanannya juga sederhana saja dan gampang dibuat. Sarapan paginya semangkuk bubur oat dengan sebatang cokelat hitam, tak lupa roti selai, buah, dan kopi.

Siang dia makan roti, keju, dan wortel. Malam dia buat sup tomat atau sup labu dan dimakan dengan roti. Kalau memasak pun dia hanya masak dalam satu panci. ‘’Hari ini saya masak mi dengan kacang lentil dan alpukat,‘‘ katanya, ‘‘Jangan lupa pancinya ditutup.’’

Hal sederhana yang dilakukan Marc, yaitu menutup panci waktu memasak, bisa menghemat banyak energi. Seejumlah 100 kilogram CO2 bisa diturunkan per tahunnya hanya dengan menutup panci saat memasak.

Cek Dulu Sebelum Belanja

Hobi belanja bisa jadi turut mencemarkan lingkungan. Masalahnya untuk satu produk yang sampai ke toko perlu energi yang sangat besar. Dari listrik untuk mesin sampai bahan bakar untuk transportasi.

Coba kebiasaan ini sebelum beli barang. Pertama, pilih barang berkualitas baik, sehingga tidak perlu membeli barang baru setiap kali. Memang barang berkualitas baik sering kali mahal, tapi lebih tahan lama.

Kedua, cek di mana barang diproduksi. Semakin jauh lokasinya, semakin besar energi yang diperlukan untuk mentranspor barang barang tersebut ke tangan Anda.

Terakhir, cek apa barang tersebut bisa didaur ulang atau sekadar berakhir di tong sampah?

Awalnya Sorta heran kenapa orang Jerman hobi sekali bermain ke toko barang bekas atau flohmarkt. Tapi ternyata banyak barang barang bagus yang bisa ditemukan di sana, lagi pula jauh lebih murah dan ramah lingkungan, karena berarti mengurangi produksi barang sekaligus menghemat energi.

Mobilitas

Perjalanan dengan sepeda atau bus lebih hemat, dan juga ramah lingkungan. Setiap kilometer bus menghasilkan 30 gram CO2 , sedangkan dengan kereta 40 gram, dan mobil 137 gram. Namun polusi yang terburuk adalah dengan bepergian menggunakan pesawat terbang.

Sekali terbang, katakanlah terbang pulang pergi dari Jerman ke Spanyol, emisinya sama dengan emisi yang dikeluarkan mobil untuk menempuh jarak 10.000 Kilometer. Kereta bisa jadi pilihan yang lebih baik untuk travel di Eropa.

Tahun 2016 menurut laporan Badan Pusat Statistik Nasional ada 14,5 juta mobil dan 105 juta sepeda motor di Indonesia. Angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Di Jerman sendiri tahun ini tercatat 46 juta pemilik kendaraan roda empat.

Untuk Sorta, naik sepeda tentu lebih seru, hemat juga sehat. Memang struktur jalanan di Jerman tak banyak berbukit seperti di Indonesia dan di sini jalur sepeda sudah begitu jelas, jadi rasanya nyaman. Di Indonesia, kita bisa memilih jalan kaki jika jarak tak begitu jauh.

Peralatan Rumah Tangga

Masuk ke dalam toko elektronik Jerman, tak jarang bikin menganga. Ada saja perabotannya dari pembuat telur rebus, pembuat roti otomatis, hingga mesin pengepang rambut.

Lucu memang, tapi tidak semua barang ini benar benar kita butuhkan. Ternyata Knigge pun mengatakan hal yang sama - sebelum membeli ada baiknya menimbang baik-baik ‘’Apa barang-barang seperti ini perlu ada di rumah?’’ Mesin cuci dan kulkas tergolong hal yang penting, namun coba lirik lagi efisiensi energinya, carilah yang hemat listrik.

Saat mencuci baju dengan mesin pun orang Jerman cukup mencuci dengan air dingin atau dengan suhu 30-60 dejarat karena jika lebih dari itu, lebih banyak pula CO2 yang dihasilkan.

Lalu perhatikan ini juga: jangan sampai kulkas Anda kosong, karena ternyata banyak listrik yang terbuang karena tempat kosong yang didinginkan.

Terakhir, cek lampu Anda. Lampu 60 W lebih boros dari lampu hemat energi. Lampu 60 W menghasilkan 39 gram CO2 per jamnya, sedangkan lampu hemat energy hanya 7 gram.

Pemanas dan Pendingin Ruangan

Di musim dingin penghangat dinyalakan untuk membuat suhu ruangan dari minus mencapai 22 derajat, dengannya setiap orang menghasilkan sekitar 2.2 juta CO2 setiap tahun. Angka yang sangat besar. Namun Knigge menyiasatinya dengan saran menggunakan pakaian dan kaus kaki tebal, mengganti pintu dan jendela sehingga lebih kedap udara. Cara ini berhasil menurunkan lebih dari 300 kilogram CO2 setiap tahunnya.

Di Jerman banyak emisi karbon dihasilkan dari pemanas, sebaliknya di Indonesia  pendingin ruangan/air conditioner. Sekitar 520- 3250 gram CO2 dihasilkan perjamnya dari penggunaan AC, ini bergantung pada besarnya watt AC yang Anda miliki. Musim panas di Jerman suhu bisa mencapai 30 celsius, namun banyak kantor cenderung memilih kipas angin atau membuka jendela sebagai pendingin.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home