Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:03 WIB | Jumat, 27 November 2015

Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi

Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Kelompok Rebana Ibu-ibu Dusun Geneng turut memeriahkan acara pembukaan pameran Geneng Street Art Project (GSAP)#3 di Galeri RJ Katamsy Senin (23/11). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Sebuah mural dalam (GSAP)#3 pada sebuah dinding rumah warga di samping areal sawah bertuliskan kritik sosial atas penguasaan sumberdaya air: "Air sumber kehidupan, bukan untuk kerakusan".
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Mural Cangkul yang Dalam karya ARTZ.
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Karya mural Taring Padi pada dinding rumah warga Dusun Geneng.
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Ungkapan terima kasih Alex TmT kepada petani dituangkan pada karyanya, Matur Nuwun Bapak Tani.
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Sebuah mural burung yang berbicara tentang Prosperity for All: Rumah untuk Semua, Udara Bersih, Bayaran yang Adil, Pendidikan untuk Semua, Air Bersih, Kesehatan untuk Semua.
Festival Geneng Street Art Project #3: Gemah Ripah Loh Jinawi
Sebuah mural dengan judul Sebelum Semua menjadi seperti Ibukota, Jaga Tanah Kita yang merupakan karya pada Geneng Street Art Project #1 masih dirawat warga hingga saat ini (27/11).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Memasuki Dusun Geneng beragam mural dalam berbagai gaya dan ukuran menyambut siapapun yang datang. Dusun Geneng Desa Jogoripon Kec. Sewon - Bantul, menjadi inspirasi perupa-perupa muda di Yogyakarta, salah satunnya komunitas Ruang Kelas SD untuk melakukan edukasi tentang seni (rupa) pada masyarakat. Sejak Desember 2011, dengan memanfaatkan ruang kelas sebuah sekolah dasar yang sudah tidak terpakai karena rusak Ruang Kelas SD mengajak anak-anak sekitar Dusun Geneng untuk belajar berkesenian bersama.

Bertempat di Galeri RJ Katamsy ISI Yogyakarta Festival Geneng Street Art Project (GSAP) #3 yang mengambil tema Gemah Ripah Loh Jinawi dibuka Senin (23/11) oleh Direktur di Galeri RJ Katamsy  I Gede Arya Sucitra. S.Sn., M.A.  Pameran berlangsung 23-30 November 2015 Rangkaian Geneng Street Art Project #3 meliputi pameran indoor karya perupa Yogyakarta, artist talk dengan menghadirkan nara sumber Mohammad 'ucup' Yusuf dari Taring Padi dan Thedeomixblood, pameran outdoor berupa karya dinding (mural) sebanyak 26 titik di sekitar Dusun Geneng dengan memanfaatkan dinding rumah/bangunan/masjid/pagar, workshop Jawigrafi yakni menulis aksara Jawa pada lontar.

Pada tanggal 27 Desember 2015 seluruh karya akan dipamerkan dalam Dokumentasi Karya Geneng Street Art Project #3 di Indonesia Buku.

Dalam keterangannya di sela-sela pembukaan Festival Geneng Street Art Project #3 Dery Pratama, koordinator Ruang Kelas SD sekaligus ketua pelaksana GSAP#3, menjelaskan bahwa upaya Ruang Kelas SD tersebut sebagai bagian edukasi untuk mendekatkan seni kepada masyarakat dengan melihat realitas dan problematika sosial yang tumbuh di masyarakat sehingga diharapkan tumbuh kesadaran kritis yang pada ujungnya masyarakat bersama elemen lainnya bisa lebih berdaya dalam mengurai problematika yang dihadapinya.

Hingga penyelenggaraan yang ketiga, Geneng Street Art Project mendapat respon positif dari masyarakat Geneng mulai dari menyediakan ruang (privat/publik) bagi karya perupa hingga keterlibatan warga dalam acara tersebut.

Gemah Ripah Loh Jinawi

Tema Gemah Ripah Loh Jinawi diangkat sebagai kritik atas pembangunan yang telah banyak menelantarkan bahkan merusak kelestarian SDA, 'perebutan' lahan sebagai faktor produksi antara petani dengan investor, kepungan modal, yang secara pelan namun pasti mengubah alih fungsi lahan yang subur dan menjadikan petani tercerabut dari lahan pertaniannya, rumah sekaligus tempat beraktivitas.

Merespon tema tersebut, Alex TmT membuat karya mural pada dinding dan pintu rumah warga sebagai ungkapan terima kasih kepada para petani yang masih menggarap lahannya meskipun di kiri-kanan berdiri bangunan yang memprovokasi untuk mengalihfungsikan entah perumahan atau perniagaan. Pulau Jawa yang disuburkan karena banyaknya gunung berapi justru mengalami alih fungsi lahan pertanian yang masif. Ini bisa dilihat bagaimana Kab. Karawang-Indramayu dan sekitarnya yang dulunya dengan lahan pertaniannya menjadi lumbung padi, saat ini telah berubah menjadi kawasan industri dan pergudangan ketika beralih kepemilikan pada pemodal.

Pada sebuah dinding rumah di pinggir jalan, Taring Padi membuat mural bertuliskan "Tahan lahan, jaga hutan dan lautan, untuk bekal masa depan". Arus modal yang tidak terbendung telah menukarkan kekayaan alam dengan modal yang berdampak langsung pada kerusakan alam dan budaya agraris.

Sementara ARTZ mengambil selarik bait dalam lagu Menanam Jagung karangan Ibu Sud yang dituangkan dalam karya mural dengan harapan warga Geneng bisa terus menanam, menjaga tanah, merawat bumi yang semakin menyempit dan habis atas nama pembangunan dan kemajuan.

Di tengah jalan sunyi yang ditempuh perupa-perupa muda, masih ada daya kritis untuk bersama mengajak masyarakat agar menjadi lebih berdaya dalam menjaga kelestarian sumberdaya alam-air, serta keseimbangan ekologi sebagai rumah bersama.

"... cangkul, cangkul, aku gembira menanam jagung di kebun KITA"

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home