Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 02:12 WIB | Jumat, 05 Juli 2019

Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 Resmi Dibuka

Pawai pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 dengan tema "Mulanira: ruang|ragam|interaksi” di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis (4/7) sore. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Lebih dari 2.000 peserta pawai yang terbagi dalam 33 kontingen memeriahkan pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019 pada Kamis (4/7). Berbeda dengan kirab/pawai yang sering dihelat di wilayah Yogyakarta, pada FKY 2019 peserta pawai diberangkatkan dari dua titik.

Titik start pawai pertama dari Kepatihan melewati rute Kepatihan - Malioboro - Jl. Pangurakan, sementara titik start pawai kedua diberangkatkan dari Alun-alun Sewandanan dengan rute Pakualaman – Jl. Sultan Agung – Jl. P. Senopati – Jl. Pangurakan. Kedua iringan pawai bertemu di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta tepatnya di depan Museum Sobobudoyo yang menjadi panggung utama pembukaan FKY 2019.

Rangkaian acara pembukaan di Titik Nol Kilometer Yogyakarta diwalai dengan alunan lagu Bagimu Negeri karya R. Kusbini yang dibawakan secara instrumental gitar oleh Eros Chandra. Setelah lagu Bagimu Negeri dilanjutkan dengan koreografi massal Kinanthi Sandhung oleh 100 penari dari Sanggar Seni Kinanti Sekar.

Dalam sambutannya Ketua FKY  2019 Paksi Raras Alit menjelaskan titik-titik yang akan jadi lokasi terselenggaranya rangkaian FKY 2019 ini, yaitu di Jalan Malioboro, Desa Panggungharjo, Museum Sonobudoyo, Museum Dewantara Kirti Griya, Museum Monumen Diponegoro, Museum Gunungapi Merapi, Pasar Terban, dan Alun-alun Kidul.

FKY 2019 yang mengangkat tema Mulanira: ruang|ragam|interaksi, secara simbolis dibuka bersama Restu Gunawan (Direktur Kesenian Dirjen Kebudayaan RI), Umar Priyono (staf ahli Gubernur DIY Bidang Hukum Pemerintahan dan Politik Pemda DI Yogyakarta), Aris Eko Nugroho (Kepala Kundha Kabudayan DIY), serta Paksi Raras Alit (Ketua Umum FKY 2019). Dengan menekan tombol klakson di mobil kayuh sebagai simbol dialog budaya massa dan budaya tradisi.

Mewakili Gubernur Pemda DI Yogyakarta Umar Priyono menyampaikan bahwa dengan adanya keberanian mengubah nama dari Festival Kesenian Yogyakarta menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta bukan sekadar arena unjuk kebolehan di bidang kesenian semata, tapi juga menggali segenap potensi kebudayaan yang dimiliki DIY.

Kebudayaan bisa berperan dalam berbagai aspek, yaitu sebagai pengingat bahwa telah tumbuh nilai-nilai kebudayaan sejak dulu. Kebudayaan menjadi pengikat keberagaman di Nusantara, agar NKRI semakin kuat dan kebinekaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

“Semoga FKY 2019 ini menjadi penanda dan penguat keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta turut meneguhkan Indonesia sebagai tujuan budaya yang terkemuka. Sejak tahun 2018, Yogyakarta menjadi Ibukota Kebudayaan ASEAN,” jelas Umar Priyono dalam sambutan pembukaan FKY 2019, Kamis (4/7) sore.

Sementara itu di Kampoeng Mataraman, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Kamis (4/7) malam upacara pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta 2019 yang ditandai dengan Kirab Tetebahan yang terdiri dari warga Panggungharjo, Drummer Guyub Yogyakarta, dan bregada desa Kampeng Mataraman. Kirab ini bergerak menuju jembatan yang terletak di tengah Kampoeng Mataraman.

Agenda  Kegiatan  Festival  Kebudayaan  Yogyakarta  2019.

Mulanira Malyabhara di sepanjang Malioboro pada 1, 15, 29 Juni 2019 sebagai publikasi awal Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019

Pawai  dan  Panggung  Pembukaan - Titik Nol km Yogyakarta, 4 Juli 2019 sebagai salah satu ritus perayaan festival kota.

Pasar Seni – Panggung  Pertunjukan - Wahana Dolanan – Layar Tancep di Desa Panggungharjo, 4-21 Juli 2019 bekerja sama dengan komunitas warga Desa Panggungharjo, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 akan menjadi ruang perhelatan seni yang mampu memanfaatkan situs ruang terbuka publik yang penuh dengan hiburan sekaligus pengetahuan. Dengan kehadiran Wahana Dolanan, Workshop, Panggung Pertunjukan, Layar Tancep, Pasar Seni Produk Kreatif, Pasar Tiban serta Pasar Kuliner, Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019.

Program Wirama – Wiraga – Wirasa sesuai namanya program ini adalah rangkaian tiga jenis kegiatan, yaitu: Wirama, berupa pameran seni rupa yang akan dilaksanakan di Gedung Sonobudoyo (eks-KONI), 8-16 Juli 2019 sebagai upaya untuk memaknai ulang prinsip ‘Wirama’ sebuah pendekatan dalam praktik dan pemaknaan seni di Yogyakarta. Wiraga, adalah pameran instalasi publik berlokasi di Alun-alun Kidul pada 4-21 Juli 2019sebagai sebuah situs publik yang bersejarah selalu menjadi ruang pertemuan yang unik dan dapat terus dimaknai sesuai konteks zamannya.. Pada hari pertama pameran instalasi publik ini, akan digelar wayang kulit semalam suntuk. Wirasa berbentuk lokakarya di Museum Dewantara Kirti Griya, 8-16 Juli 2019 untuk memaknai ulang metode pendidikan Sariswara yang telah diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, program ini akan menghadirkan proses belajar melalui seni.

Pesta Rakyat Kampung Terban - Pasar Terban, 13 Juli 2019 mempertemukan potensi seni budaya kampung Terban dengan pemikiran tokoh-tokoh budaya yang ada di Terban. Kegiatan program ini berupa bazaar produk UMKM, pementasan ketoprak tuna netra, macapatan, dan musik, berlangsung pada Sabtu (13/7).

Panggih, sebuah program yang akan dilaksanakan di Museum Pangeran Diponegoro dirancang untuk membangun ruang dialog antara dua elemen budaya dalam tradisi masyarakat Jawa. Elemen tersebut adalah sandang dan pangan berlangsung pada Senin (15/7).

Teater , bertempat di Pendopo Art Space pada Rabu (17/7). Program ini akan  menghadirkan pertemuan antara beragam subjek dalam perlintasan ruang dan waktu. Naskah teater yang diangkat dalam pementasan ini juga diletakkan sebagai sumber pengetahuan yang melekat dengan konteks kota Yogyakarta.

Panggung  Kontemporer,  program ini adalah berupa panggung kontemporer yang bertujuan merayakan praktik kesenian lintas disiplin yang kerap dilakukan para seniman Yogyakarta, dengan tema besar: elektronika - gamelan -visual. Berlangsung pada Jumat (19/7) di Museum Gunung Merapi.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home