Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:55 WIB | Selasa, 23 Juli 2019

Festival Video Mapping Pertama di Indonesia “Sumonar” Siap Digelar

Jumpa media festival video mapping Sumonar 2019 di Roca restoran, Artotel Yogyakarta, Senin (22/7). (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Bertempat di Roca restoran, Artotel Yogyakarta, Senin (22/7) siang digelar jumpa media penyelenggaraan Festival Video Mapping Sumonar 2019. Perhelatan festival video mapping yang baru pertama kalinya di Indonesia mengambil tajuk My Place My Time akan digelar pada 26 Juli hingga 5 Agustus 2019 * bertempat di seputaran Titik Nol Kilometer Yogyakarta dengan memanfaatkan dinding Museum Bank Indonesia dan Gedung Kantor Pos Besar Yogyakarta.

Jumpa media menghadirkan Festival Director Sumonar 2019 Ishari Sahida, Hanes (Lepaskendali/JVMP), Roby Setiawan (Art Director Sumonar 2019), serta kurator Sumonar 2019 Sujud Dartanto.

Direktur festival Sumonar Ishari Sahida atau biasa dipanggil Ari Wulu dalam jumpa media menjelaskan video mapping (pemetaan video) adalah sebuah teknik dalam pencahayaan atau proyeksi cahaya untuk menciptakan ilusi optis pada sebuah objek. Secara visual akan berubah-ubah bentuk sesuai apa yang diproyeksikan. Perubahan tesebut biasanya menggunakan sebuah media atau objeck, ataupun sebuah bidang. Pemetaan video sebagai metode baru yang menarik merupakan bagian dari evolusi seni visual. Sebagai manifestasi pencitraan seni visual dan teknologi. Para seniman dapat mewujudkan ide yang mereka desain kedalam materi 3D (tiga dimensi) apapun di dalam bentukan arsitektur.

Perkembangan pemetaan video (video mapping) saat ini menjadi salah satu bentuk karya seni yang memiliki ruang tersendiri di benak masyarakat. Bukan hanya hasil visualnya yang artistik serta mampu menyita perhatian banyak orang, namun seringkali apa yang ingin disampaikan oleh seniman melalui karyanya itu mampu membuka cakrawala baru, di mana hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk manusia di dalam masyarakat. Selain itu, video mapping tidak hanya membahas tentang bagaimana proses penciptaan video, namun di dalamnya terdapat ilustrasi musik, 3D desain, arsitektural, script writing , maupun hal lain berkaitan dengan seni visual.

Ari Wulu menjelaskan di Yogyakarta sendiri, video mapping sebenarnya telah didengungkan sejak lama oleh para seniman atau orang-orang yang memiliki minat lebih terhadap bidang ini sekitar tahun 2010-2011. Tahun 2013 menjadi awal di mana video mapping disajikan kepada khalayak luas, dan termasuk ke dalam salah satu program yang ada di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).

Selama enam tahun penyelenggaraan FKY 2013-2018 program tersebut terus dilakukan dan mampu membetuk sebuah kelompok kolektif yang fokus mengembangkan hal tersebut dengan nama Jogjakarta Video Mapping Project (JVMP). Pada penyelenggaraan FKY 2018 telah melahirkan sebuah festival dengan nama Jogja Video Mapping Festival (JVMF) yang lepas dari penyelenggaraan FKY melibatkan seniman video mapping dari Yogyakarta, Malang, Bandung, Jakarta. Harapannya pada tahun-tahun berikutnya JVMF menjadi festival mandiri dan menjadi salah satu festival tahunan di Yogyakarta.

Sumonar sendiri merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu Sumon dan Sumunar. Sumon memiliki arti mengumpulkan, sementara Sumunar memiliki makna bercahaya. Sebutan Jogjakarta Video Mapping Project (JVMF) tidak mampu mengidentifikasi keberadaan festival ini di kancah internasional. Karena itu, di tahun 2019 JVMF berganti nama menjadi SUMONAR yang siap diselenggarakan pada 26 Juli hingga 5 Agustus 2019 mendatang dengan tajuk My Place, My Time,” jelas Ari Wulu saat jumpa media, Senin (22/7) siang.

Lebih lanjut Ari menjelaskan bahwa pergantian nama dari JVMF ke Sumonar menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk bisa menjelaskan identitas dari festival ini kepada masyarakat Indonesia maupun dunia. Perkenalan melalui identitas tersebut dapat menambah keragaman video and art light festival internasional yang telah marak selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Tentang pemilihan tema My Place, My Time, Ari menjelaskan bahwa tema tersebut adalah refleksi atas kota yang sedang mengisahkan dirinya. Di sini pihaknya ingin menggambarkan bagaimana budaya dan manusia yang lahir dari rahimnya bergerak kemudian berkembang dengan sepala perubahannya. Dalam perjalanan perkembangan kehidupan sebuah kota tidak terlepas dari kesepakatan yang muncul sebelumnya, dan imbas dari kesepakatan itu yang mampu membentuk dirinya sebagai kota. Dalam dialektika itulah sebuah kota akan terus dibangun.

“Ada dua frasa yang tersirat di dalam tema My Place, My Time. Frasa yang pertama merujuk pada diri kami di sini hari ini, dan yang kedua adalah kami melihat kota ini dari sudut pandang sendiri. Kota ini terbentuk dari akibat penguasanya, pemerintahnya, senimannya, pelajarnya dan semua lapisan masyarakat yang ada di kota ini. Biasanya suatu kota terwujud setelah konstelasi besar, yang mana mampu membuat kota menjadi seperti ini,” jelas Ari.

Ketua JVMP, Raphael Donny melanjutkan, SUMONAR 2019 akan dilaksanakan di seputaran Kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta, di antaranya seperti di Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Yogyakarta dan lainnya. Selama 11 hari penyelenggaraannya besok, tidak hanya seniman-seniman asal Indonesia saja yang akan menyuguhkan karya dalam bentuk pertunjukan video maupun instalasi. Ada beberapa seniman yang berasal dari Makau dan Filipina siap berkontribusi dalam festival ini.

“Sebelumnya kami telah mengirimkan penjelasan tentang tema yang akan digunakan untuk Sumonar pada tahun ini. Besok mereka (para seniman) akan memaknai bagaimana mereka melihat kotanya. Para seniman yang berasal dari luar Indonesia akan membawa perspektif mereka tentang kotanya masing-masing, yang direalisasikan ke dalam karya yang akan ditampilkan dalam Sumonar 2019,” papar Raphael saat jumpa media.

Seniman video mapping dan instalasi yang terlibat pada SUMONAR 2019 adalah Anung Srihadi X Ruly Kawit X Dani Argi, APEMOTION, Chiefy Pratama (NEXT), Derek Tumala (Filipina), Doni Maulistya, Eureca Indonesia, Fanikini x Bagustikus x Kukuh Jambronk, Furyco, Isha Hening X Iga Massardi, Ismoyo R Adhi, JVMP X Febrianto Tri Kurniawan, Kevin Rajabuan, Lepaskendali x Bazzier x Sasi, Lepaskendali x Zianka Media, Lintang KRP x SIR, Luwky, LZYVisual, MöDAR, Raymond Nogueira/Rampage (Makao), RPTV, Studio Batu, SWIBOWOJ, Uji "Hahan" Handoko, dan UVISUAL.

Berikut agenda kegiatan Sumonar 2019 yang berlangsung 26 Agustus – 5 September 2019:

1. Tgl 26 Juli 2019, pukul 19.30 – 20.00 WIB : opening ceremoy SUMONAR berupa pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia, sekaligus pembukaan pameran video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol Km Yogyakarta.

2. Tgl 26 Juli – 5 Agustus 2019, pukul 10.00 – 21.00 WIB : Sumonar Exhibition berupa pameran seni video mapping dan media interaktif di Loop Station dan Kawasan Nol Km Yogyakarta.

3. Tgl 1 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : Video Mapping Show berupa pertunjukan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta.

4. Tgl 4 Agustus 2019, pukul 15.00 – 17.00 WIB : Creative Sharing oleh Ican Agoesdjam di Loop Station (gratis dengan mendaftar).

5. Tgl 5 Agustus 2019, pukul 19.30 – 22.00 WIB : closing ceremony SUMONAR dengan menampilkan video mapping di Gedung Museum Bank Indonesia dan bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta.

Informasi seputar penyelenggaraan festival video mapping Sumonar 2019 bisa diakses pada kanal instagram : @sumonarfest, Website : www.jogjavideomapping.com serta surel: sumonar.marcom@gmail.com.

 

* Revisi: Sebelumnya tertulis 26 Agustus hingga 5 September 2019.

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home