Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 22:52 WIB | Kamis, 20 April 2017

Franklin Graham: Tinggal 7 Keluarga Kristen Bertahan di Irak

Franklin Graham ketika berada di sebuah gereja di kota Qaraqosh, Irak. (Foto: Facebook/Franklin Graham)

QARAQOSH, SATUHARAPAN.COM – Evangelis Franklin Graham menghabiskan pekan Paskahnya dengan melakukan perjalanan ke gereja-gereja dan kota-kota yang dihancurkan oleh militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak selatan. Dia mengatakan hanya ada tujuh keluarga Kristen yang masih tinggal di kota yang penduduknya mayoritas beragama Kristen tersebut.

“Kemarin kami pergi ke kota Qaraqosh di Irak, yang merupakan rumah bagi 50.000 orang Kristen yang terpaksa harus meninggalkan rumah mereka pada tahun 2014. Saat ini hanya tinggal tujuh keluarga yang tersisa,” kata Graham yang ia tulis dalam akun Facebook pada hari Minggu (16/4).

“Saya mengunjungi gereja yang telah dibakar dan dihancurkan oleh ISIS dan bertemu dengan pendetanya. Ajaibnya, di antara abu dan puing-puing, kami menemukan sebuah kotak Samaritan’s Purse dari yayasan Kristen yang berisi hadiah untuk anak-anak. Saya penasaran di mana sekarang anak yang mendapat kotak ini?”

Apa yang Graham dan pembaca berita NBC, Greta Van Susteren temukan di gereja yang terbakar adalah militan ISIS menggunakan senjata mesin untuk menembaki salib yang tergantung di dinding dan mimbar dijadikan sebagai target latihan. Graham menambahkan, militan sepertinya meledakkan menara gereja dengan bahan peledak.

Graham juga menemukan kertas Alkitab yang terbakar.

“Saya kemudian membaca sisa halaman Alkitab yang masih bisa terbaca yaitu Yohanes 20:27 yang berbunyi -  ‘Kemudian Dia (Yesus) mengatakan kepada Thomas, ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah,’” kata Graham. “Dia masih mengatakan kepada dunia hari ini – di hari Minggu Paskah ini – Percayalah!”

Seperti yang telah dilaporkan bahwa ISIS telah mengubah banyak gereja di Irak selatan menjadi tempat pelatihan untuk polisi syariah dan bahkan menyulapnya menjadi ‘ruang penyiksaan’, seperti yang didokumentasikan oleh Samaritan’s Purse dalam sebuah video singkat tentang bagaimana ISIS menghancurkan Niniwe.

Graham mengatakan dalam video bahwa militan ISIS menulis sebuah slogan di dinding gereja yang ia kunjungi di Qaraqosh.

“Anda cinta kehidupan. Kami cinta kematian,” kata Graham mengutip slogan tersebut. “Ada pula slogan yang lain yang ditulis yaitu, ‘Kami datang untuk meminum darah Anda’”.

Dalam video tersebut, Van Susteren menunjukkan sebuah wilayah di luar gereja di mana militan telah membakar Alkitab dan beberapa buku Kristen yang tentunya mereka anggap bertentangan dengan hukum Islam.

“Satu hal yang bisa kita lihat, bangunan gereja yang telah dihancurkan bisa dibangun kembali. Namun, ‘gereja’ (jemaat Kristus) sekarang dianiaya dan inilah contoh yang bagus tentang apa yang terjadi pada ‘gereja’ saat ini,” tegas Graham.

Video Samaritan’s Purse juga menyoroti bagaimana pekerjaan penyelamatan nyawa manusia dilakukan oleh staf medis organisasi tersebut dan relawan di rumah sakit darurat milik Samaritan’s Purse yang berada di luar Mosul. Mereka merawat warga sipil yang terluka, pasukan koalisi pimpinan Irak bahkan militan ISIS yang terluka saat berupaya untuk merebut kota kedua terbesar di Irak tersebut.

“Kami adalah penyedia pengobatan dan penyembuhan trauma tertinggi saat ini di Irak utara,” kata petugas medis Tim Mosher dalam video tersebut. “Pengobatan ini sangat penting karena cidera tempur ini cukup parah dan orang-orang datang  dengan berbagai hal yang tidak dapat Anda bayangkan akan terjadi dari berbagai pertempuran ini.”

Mosher menambahkan dia dan staf rumah sakit lainnya telah dikejutkan dengan banyaknya perempuan dan anak-anak yang menjadi target ISIS.

Seperti yang telah dilaporkan oleh The Christian Post, dokter dan tenaga medis profesional telah datang dari seluruh dunia untuk bekerja di rumah sakit darurat ini yang merupakan rumah sakit terdekat dari garda depan pertempuran antara ISIS dan pasukan Irak.

Dr. Elliot Tenpenny, direktur rumah sakit itu mengatakan kepada The Christian Post bahwa sejak bulan Januari setiap tenaga medis profesional yang memutuskan untuk  melayani di rumah sakit darurat itu harus tinggal minimal tiga minggu namun banyak dari mereka memutuskan untuk lebih lama melayani di rumah sakit itu.

Dalam video tersebut, Graham menjelaskan bahwa perbedaan rumah sakit Samaritan’s Purse adalah siapa pun yang datang melayani di rumah sakit itu karena iman mereka kepada Kristus.

“Mereka sama seperti Anda dan saya,” kata Dr Kent Brantly dalam video tersebut. “Mereka tidak selayaknya mendapatkan perlakuan seperti ini dan mereka perlu mengetahui kasih, anugerah dan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, sama seperti Anda dan saya,” kata dia. (christianpost)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Back to Home