Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:16 WIB | Minggu, 05 Mei 2019

Full HD, OHD, dan Lantai Dansa

Full HD, OHD, dan Lantai Dansa
Karya tiga matra berjudul “Karepe OHD” (Agus Murtopo) pada pameran seni rupa "Full HD" di Survive!garare Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul hingga 1 Juni 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Full HD, OHD, dan Lantai Dansa
Kolektor karya seni Oei Hong Djien (baju biru) saat berdansa pada pembukaan pameran “Full HD”, Rabu (1/5) malam.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Merayakan ulang tahunnya yang ke-80, kolektor karya seni Oei Hong Djien (OHD) mendatangi ruang kolektif Survive!garage di Kampung Nitiprayan, sekaligus membuka pameran seni rupa bertajuk “Full HD”, Rabu (1/5) malam.

Setelah membuka acara dan mengamati 25 karya dua-tiga matra dari 19 seniman-perupa terlibat, OHD bersama pengunjung lain menyaksikan sajian Wayang Polah yang dipentaskan oleh Trianto “Kotrek” Kintoko.

Kehadiran OHD di Survive!garage menjadi kehadiran pertama kali sejak Survive!garage berdiri sepuluh tahun lalu.

“Selama ini memang belum pernah mengundang atau memberitahukan kegiatan di SURVIVE! (kepada OHD). Surprise dengan karya-karya yang segar (menurut OHD),” jelas salah satu inisiator ruang kolektif Survive!garage Bayu Widodo saat pembukaan pameran.

Jika menilik rangkaian ulang tahun OHD yang ke-80, sajian di Survive!garage sedikit berbeda dibanding pameran di ruang seni lainnya baik dalam ide karya, visual, medium-material, hingga cara penyajian karya. Ini tidak terlepas dari semangat Survive!garage sebagai ruang kolektif dimana sharing ide-pemikiran begitu cair masuk-keluar di antara mereka.

Keseimbilan belas seniman-perupa yakni Gilang Nuari, Agus Murtopo, Arya Panjalu, Budi Santoso, Trianto Kintoko, Tutuloveme, Rachmad Affandi, Ismu Ismoyo, Anagard, Dhomas Yudhistira, Mohammad Yusuf, Wimbo Praharso, Arwin Hidayat, Bayu Widodo, Love Hate Love, Ungki Prasetyo, Ipo Hadi, Vendy Methodos tidak sekadar bermain-main dengan medium maupun teknik. Selalu ada tawaran segar dalam karya-karya terbaru mereka.

Ada beberapa seniman-perupa yang bermain-main dengan sosok-figur OHD dalam karya mereka. Agus Murtopo dalam karya tiga matra miniatur medium ecoplay berjudul Karepe OHD membuat figur OHD mengenakan sarung lengkap dengan peci hitam dan sandal jepit. Agus Murtopo melengkapi karya miniaturnya dengan lukisan kecil pisang Andy Warhol pada selembar potongan papan seng.

Arya Panjalu membuat karya berjudul Presiden Seni Rupa dalam medium cat akrilik di atas kayu. Arya menambahkan slogan yang diperkenalkan pelukis Affandi Boeng Ajo Boeng yang legendaris.

Eksplorasi medium-teknik lebih banyak ditawarkan seniman-perupa tanpa terjebak dalam masalah teknis semata. Pada karya berjudul Tua Berbahaya, Budi Santoso merespons sebuah kursi goyang dari kayu menjadi karya tiga matra dengan kawat berduri. Banyak perspektif tentang tua dan bahaya ditawarkan oleh Budi Santoso dalam visual Tua Berbahaya.

Pada selembar pintu bekas lemari pendingin/kulkas yang sudah berlubang karena karat Ismu Ismoyo menorehkan Rindu seorang serdadu yang sedang duduk termenung lesu dengan topi baja, senapan, dan alat komunikasi di sebuah medan pertempuran. Kerinduan seorang pada banyak hal: orang-orang terkasih, kedamaian, menjalani kehidupan sewajarnya, dan juga kerinduan pada kehidupan itu sendiri yang harus diperjuangkan pada pucuk senapan.

Dalam katarsis paling dalam Ismu seolah ingin mendobrak pameo jika ingin berdamai bersiaplah untuk perang, karena damai/perdamaian/kedamaian itu sendiri adalah sebuah jalan. Dan tidak harus dilalui dengan satu peperangan menuju peperangan lainnya. Bukankah kedamaian dan juga kehidupan tidak harus diraih dengan meniadakan pihak lain?

Ismu kerap menyampaikan kritik-kritik sosial dalam karyanya melalui medium-material purna fungsi semisal bekas tutup roda becak, rambu-rambu lalu lintas bekas, papan nama, dan selembar seng bekas box rumah sambungan kabel, papan kereta api yang didapatkan dari lelang saat sebuah kereta api berganti nama, serta barang bekas/purna fungsi lainnya.

Beberapa waktu lalu Ismu mempresentasikan karya-karya kritik sosial di antaranya NYIA yang dibuat pada bekas penutup ban becak dengan lukisan tentang rencana pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo berhadapan dengan realitas dunia agraris masyarakat setempat. Pada karya PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), Ismu memotret kaum sub-urban yang memanfaatkan jasa transportasi kereta api untuk mengais rezeki dari remah-remah perputaran uang di kota besar (Jakarta dan sekitarnya).

Karya Ismu lainnya "Mal Praktik" yang masih kerap terjadi dalam dunia medis, "Alumni 98" yang seolah kehilangan sense pada penderitaan rakyat, "Parkir" di Yogyakarta yang menjadi lahan basah dan bisa mencekik siapa pun setiap saat, "Panel 4" dengan ilustrasi penderitaan rakyat yang menjadi santapan penghuni Senayan, ataupun "Proyek" dengan sebuah narasi gambar yang secara gamblang kepada pihak mana kritik tersebut dilontarkan, dengan keseluruhan medium-material dari barang bekas/ purna fungsi

Fresh dan Berlanjut di Lantai Dansa

“Banyak karya yang fresh,” kata OHD saat mengamati satu persatu karya yang dipamerkan setelah resmi membuka pameran Full HD, Rabu (1/5) malam.

Keterkejutan OHD berlanjut saat menyaksikan pementasan Wayang Polah yang menggabungkan wayang kulit dan wayang orang dengan karakter kekinian serta improvisasi dan pengembangan cerita wayang yang ada. Terlebih ketika Wayang Polah memunculkan karakter-karakter dengan atribut yang secara visual cukup atraktif digabungkan dengan iringan musik hip-hop dalam narasi berbahasa campuran Jawa-Indonesia.

Keterkejutan juga kegembiraan OHD tidak bisa disembunyikan ketika dalam penutup pementasan Wayang Polah menyajikan lagu hip-hop dalam tempo ringan. Tiga lagu dilalui OHD dengan turun ke pelataran Survive! dan berdansa dalam iringan lagu hip-hop bersama pengunjung. Dalam usia 80 tahun OHD masih sanggup berdansa berbaur dengan kaum muda tanpa terlihat lelah.

Bisa jadi menyaksikan karya yang fresh menambah energi bagi OHD menikmati selebrasi ulang tahunnya yang disajikan Survive! dan fan familia. Tidak berlebihan mengingat karya-karya ruang kolektif jarang muncul secara mencolok di galeri seni di Yogyakarta dan sekitarnya sehingga bagi kolektor maupun pemilik galeri seni akan terkejut dengan karya-karya mereka.

Sebutlah Andres Busrianto yang lebih dikenal dengan nama Anagard yang mempresentasikan karya berjudul Sedikit Mengintip Sang Aktor dengan figur-karakter khasnya sosok manusia berkepala burung atau dengan mengenakan penutup kepala berbagai karakter mulai dari wayang hingga aksesoris karnaval.

Karya grafiti yang dibuat Anagard banyak menghiasi dinding-dinding ruas jalan di Yogyakarta dan juga kota-kota lain dengan disisipi pesan-pesan moral maupun kritik sosial. Pada karya Sedikit Mengintip Sang Aktor, karakter manusia yang dibuat Anagard menggendong babi dan membawa kepala kelinci dibuat dengan teknik stensil pada medium cat semprot di atas kertas. Anagard membingkainya dengan bekas jendela dan sebuah tulisan The Art of Doing Nothing.

Sementara pada pintu masuk ruang pamer Survive!garage Anagard membuat sebuah grafiti besar yang cukup membuat orang mengernyitkan dahi dengan sebuah tulisan Seni Lukis Indonesia Tidak Ada. Anagard sedikit menyamarkan tulisan Tidak. Karya-karya Anagard mungkin tidak terlalu banyak dijumpai di ruang-ruang/galeri seni, namun sesuai karakter karya pamflet, selebaran, poster, hingga grafiti dengan teknik stensil yang kerap digunakan sebagai medium kritik terhadap kebijakan pemerintah, kritik permasalahan sosial, dalam bentuk desain satire yang dilakukan secara kolektif hingga hari ini masih mudah djiumpai pada ruang-ruang publik di Yogyakarta. Dan bukan di ruang-galeri seni.

Karya Wimbo Praharso yang tidak diberi judul bisa jadi tidak menawarkan kebaruan karya. Dalam seri karya yang lain Wimbo pernah memamerkannya pada Keep The Fire On 4 tahun lalu. Namun kritik Wimbo yang menggunakan teknik stensil masih cukup relevan dengan membuat figur Raden Saleh dalam kekinian, bercelana panjang dan sepatu sneaker dengan memegang cat semprot menuliskan sebuah kalimat “Contemporary Art is confusing me”. Tanpa penjelasan berlebih ada banyak kritik Wimbo pada karya tersebut.

Lontaran kata fresh menjadi bentuk keterkejutan sekaligus apresiasi OHD terhadap karya yang tersaji. Dalam relasi di dalam komunitas yang cair sangat memungkinkan tercipta karya-karya yang segar. Masalah kebaruan karya tentulah hal lain lagi bagaimana ruang dialog mampu menjadi katalis bagi pembacaan-pembacaan bagi anggota kolektif. Pengambilan tema pameran Full HD mengambil istilah high definition untuk sebuah karya video dalam resolusi tinggi seolah menemukan porsi yang pas.

The art is too long the life is very shoort, kegiatan berkesenian tidak ada matinya sepanjang zaman karena dihidupi oleh kecintaan pada seni sebagai profesi dan panggilan jiwa. Bagi jiwa seniman, seni itu hanya memberi tak harap kembali. Di titik inilah seniman-perupa yang seharusnya bisa menentukan sendiri seberapa besar-tinggi definisi tersebut diletakkan untuk seni dan kehidupan itu sendiri.

Pameran seni rupa bertajuk "Full HD" berlangsung di Survive!garare Jalan Nitiprayan No 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul hingga 1 Juni 2019.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home