Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:17 WIB | Selasa, 22 Januari 2019

Gaharu, Berkhasiat Menenangkan

Gaharu (Aquilaria malaccensis, L.). (Foto: Wikipedia.org)

SATUHARAPAN.COM – Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Peribahasa itu begitu dikenal, namun tahukah Anda tanaman gaharu?

Kayu gaharu sangat terkenal aromatik. Mengutip dari Wikipedia, gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga/genus Aquilaria, terutama Aquilaria malaccensis. Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum.

Dalam perdagangan dunia, gaharu dikenal dengan nama agarwood, aloewood, atau eaglewood. Karena aromanya yang harum, gaharu termasuk komoditi mewah untuk keperluan industri, parfum, komestik, dupa, kemenyan, bahan baku obat-obatan, dan teh.

Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu) menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta Afrika Timur.

Selain kandungan resin yang terdapat pada bagian gubal kayu gaharu sebagai bahan pelengkap wangi-wangian karena memiliki aroma harum yang sangat khas, daun gaharu ternyata juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Masyarakat di Kabupaten Bangka Tengah secara tradisional telah mengenal khasiat daun gaharu sebagai minuman teh keluarga, dan dikenal sebagai teh herbal, yang digunakan untuk menangkal keletihan akibat gangguan tidur ringan.

Minuman teh herbal itu diramu dari daun gaharu yang diiris-iris lalu dijemur sebentar kemudian diseduh air hangat. Teh herbal itu berkhasiat menimbulkan rasa kantuk dan setelah bangun dari terlelap sejenak tubuh akan menjadi lebih segar.

Tradisi itu yang mendorong tim peneliti dari Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang meneliti “Efek Sedativa dan Kebugaran Teh Celup Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis L)”. Melalui penelitian itu mereka ingin membuktikan manfaat tersebut di atas.

Sejumlah 60 sukarelawan sehat terdiri atas 30 orang laki-laki dan 30 orang wanita dengan rentang umur 18 – 60 tahun berpartisipasi untuk membuktikan efek sedativa dan pengaruh kesehatan lain. Dengan desain pre-post test serta kerelaan sukarelawan sehat itu (dengan mengisi informed consent) sebagai responden, maka semuanya diberi minum teh celup gaharu yang berisi 1 g simplisia kering/saset setiap hari selama tiga minggu berturut-turut.

Setelah selesai satu sesi minum, semua diwawancarai, menjalani pemeriksaan fisik, mental, menggunakan kuesioner model Pittsburgh Insomnia Rating Scale (PIRS) serta dikoleksi darah intravenanya.

Hasil penelitian menunjukkan, minum teh gaharu setiap hari selama tiga minggu berturut-turut memperbaiki pola tidur (efek sedativa), istirahat, dan setelah bangun badan terasa lebih segar dan bergairah untuk melakukan aktivitas fisik kembali. Selama mengkonsumsi teh gaharu tidak tampak tanda-tanda gangguan fungsi hepar.

Morfologi Pohon Gaharu

Pohon gaharu (Aquilaria spp.) dikutip dari journal.uajy.ac.id, merupakan salah satu jenis tanaman dari keluarga tanaman gaharu-gaharuan (Thymelaeaceae). Tanaman ini tersebar secara alami di beberapa negara seperti China (Hong Kong, Hainan), Pakistan, Iran, India, Nepal, Bhutan, Bangladesh, Sri Lanka, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand, Indonesia, Myanmar, Malaysia, Singapura, dan Filipina.  

Menurut AS Khalil dan tim, dalam laporan penelitian berjudul “Characterization of Methanolic Extracts of Agarwood Leaves”, Journal of Applied and Industrial Sciences 1 (3) (2013) hal 78-88, tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis) merupakan salah satu spesies dari 15 spesies lain yang banyak tersebar di Indonesia dan Malaysia. Namun, tanaman tersebut juga ditemukan di beberapa negara seperti Bangladesh, Bhutan, India, Iran, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Tinggi pohon gaharu, mengutip dari Wikipedia, dapat mencapai 40 m dengan diameter lebih dari 60 cm. Batangnya lurus, tidak berbanir. Kulit batangnya halus, dengan warna cokelat keputih-putihan.

Tajuknya bulat, lebat, dengan percabangan horizontal. Daunnya tunggal, berseling, tebal, bentuknya jorong hingga jorong-melanset, dan panjang.

Perbungaannya berbentuk payung, membentuk cabang, tumbuh pada ketiak daun. Bunganya kecil, berwarna hijau/kuning kotor, dan berbulu jarang.

Buahnya berbentuk telur terbalik, dan berbulu halus. Pembudidayaannya dengan biji, seperti pernah diujicobakan. Perkecambahan biji dapat mencapai 47 persen. Dalam waktu tiga tahun saja, setelah disemai, pohon muda gaharu dapat mencapai tinggi 2,5 meter.

Pohon gaharu (Aquilaria malaccensis), dikutip dari academia.edu, yang banyak ditemukan di hutan cemara Asia Tenggara, mulai dikenal masyarakat Indonesia pada sekitar tahun 1200 melalui sejarah perdagangan dalam bentuk tukar menukar (barter ) antara masyarakat Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, dengan para pedagang dari daratan China.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil gaharu di dunia, karena mempunyai lebih dari 25 jenis pohon penghasil gaharu yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

 Gaharu merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) bernilai ekonomi tinggi, berwarna khas, mengandung aroma resin wangi jika dibakar, dan dapat digunakan untuk bahan parfum, dupa, obat-obatan, sabun mandi, kosmetik, dan pengharum ruangan.

Tanaman ini dapat memproduksi gubal gaharu yang aromanya harum yang mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai akibat adanya serangan jamur akibat perlukaan yang disertai infeksi patogen melalui inokulasi atau proses lain, yang selanjutnya membuat jaringan kayu itu berwarna cokelat kehitaman. Semakin luas bidang infeksi pada jaringan kayu, semakin banyak rendemen gaharu yang dihasilkan dan kayunya akan semakin harum.

Kayu gaharu, menurut Wikipedia, banyak diperdagangkan dengan harga jual yang sangat tinggi, terutama untuk gaharu dari tanaman famili Thymelaeaceae dengan jenis Aquilaria spp., yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut gaharu buaya.

Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya, harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.

Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecokelatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat.

Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecokelatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.

Indonesia, dikutip dari forda-mof.org, memiliki pohon penghasil gaharu beragam. Ada sekitar 26 jenis dalam tujuh marga tumbuh di hutan alam yaitu Aetoxylon, Aquilaria, Enkleia, Gonystylus, Gyrinops, Phaleria, dan Wikstroemia.

Dari tujuh marga tersebut, hanya marga Aquilaria, Gyrinops, dan Gonystylus yang paling banyak dimanfaatkan. Sejak lama, berbagai etnis di negara-negara Asia telah menggunakan berbagai jenis pohon penghasil gaharu alam dalam bentuk produk berupa gumpalan, serpihan, serta bubukan sebagai bahan baku untuk mengharumkan tubuh, ruangan, dan kelengkapan upacara ritual keagamaan.

Aquilaria menjadi primadona hasil hutan bukan kayu (HHBK) karena memberikan kontribusi bagi pasar global. Aquilaria merupakan sumber daya hayati bernilai ekonomi yang sangat potensial di wilayah Indonesia. Aquilaria di Indonesia umumnya berada di Sumatera dan Kalimantan, tetapi beberapa spesies juga tersebar di Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian.

Akibat praktik kegiatan kehutanan yang tidak berkelanjutan dan tingginya tingkat deforestasi, jenis Aquilaria spp, saat ini mulai sulit ditemukan. Redlist International Union for Conservation of Nature and Natural Resources disingkat IUCN, atau organisasi internasional konservasi sumber daya alam tahun 2009,  menetapkan status Aquilaria spp. sebagai terancam punah, langka, dan rentan.

Manfaat Herbal Tanaman Gaharu

Gaharu,dikutip dari unud.a.id, selama ini dimanfaatkan lebih banyak bagian batang dan gumbalnya sebagai parfum, obat, dupa, serta antiserangga. Di China, tanaman gaharu telah dimanfaatkan dalam pengobatan penyakit seperti peradangan ginjal, perut, dada, asma, kanker, thyroid, kolik, diare, dan tumor paru-paru.

Namun, ternyata daun gaharu berpotensi dikembangkan sebagai sumber senyawa antioksidan alami. Berdasarkan penelitian dengan DPPH (diphenil pikril hidrazil), senyawa dikatakan berpotensi sebagai antioksidan. Screening fitokimia dari ekstrak metanol daun gaharu mengandung senyawa metabolit sekunder seperti senyawa fenol, terpenoid, dan flavonoid. Hasil penelitian juga menyebutkan ekstraks daun gaharu mempunyai efek farmakologis seperti antitukak, antijamur, antibakteri, antikanker, dan analgetik.

Daun pada pohon gaharu yang diubah menjadi teh dikutip dari usu.ac.id, memiliki manfaat bagi orang yang mengkonsumsinya. Manfaat yang didapatkan dari mengkonsumsi teh daun gaharu yaitu sebagai peluruh lemak pasif, membantu mengobati keputihan, sebagai deodoran alami, sebagai antioksidan dalam membantu membuang zat mengandung racun dari tubuh.

Disebutkan juga teh daun gaharu mencegah insomnia karena kandungan teh daun gaharu menekan sistem saraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan sebagai obat antimabuk. Khasiat lain membantu menurunkan kadar kolesterol jahat, membantu meredakan ketegangan atau hipertensi, dan mengurangi kadar gula dalam darah.

Yudha Ryan Janshen dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta, meneliti aktivitas antibakteri ekstrak daun gaharu (Aquilaria malaccensis, Lamk) terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Daun gaharu mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, dan tanin. Senyawa metabolit memiliki efek farmakologis, salah satunya sebagai antibakteri.

Melalui penelitiannya, Yudha ingin mengetahui kemampuan antibakteri ekstrak daun gaharu dengan variasi konsentrasi terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Ekstrak daun gaharu dengan konsentrasi 30 persen menunjukkan aktivitas antibakteri yang paling baik dengan luas zona hambat sebesar 0,965 cm2 terhadap Pseudomonas aeruginosa dan 1,350 cm2 terhadap Staphylococcus aureus.

Tim peneliti Mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, meneliti tingkat  kekuatan antioksidan dan kesukaan masyarakat terhadap teh daun gaharu berbasis pohon induksi dan pengobatan noninduksi.

Hasnan Habibullah Batubara dari Departemen Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan USU meneliti uji keamanan teh daun gaharu melalui uji iriasi mata pada kelinci. Seperti diketahui, daun gaharu sudah populer dijadikan sebagai teh oleh kalangan petani dari Langkat. Hasil pengujiannya menunjukkan teh daun gaharu aman dikonsumsi.

Dr Drs I Made Oka Adi Parwata MSi dari jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam Universitas Udayana Bali, meneliti karakteristik dan kapasitas antioksidan daun gaharu. Hasil penelitiannya menunjukkan ekstrak air daun gaharu kering dapat dikembangkan sebagai antioksidan alami.

Editor : Sotyati

Zuri Hotel
Back to Home