Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:02 WIB | Senin, 19 Agustus 2019

Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”

Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”
Mother Monster karya Fegelia Rahmadani dalam showcase “#On What !?” di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, 16-25 Agustus 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”
Dari kiri ke kanan: Kepala Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tubagus Sukmana, Rektor ISI Yogyakarta M Agus Burhan, dan Kepala Galeri RJ Katamsi I Gede Arya Sucitra saat membuka showcase “#On What!?”, Jumat (16/8) malam.
Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”
Why – multimedia, akuarium, lampu neon, elektronik, instalasi – HONF – 2019.
Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”
Seorang pengunjung sedang mengamati karya berjudul Human Result.
Galeri RJ Katamsi Gelar Pameran Seni Media “#On What!?”
Kembali pada Sang Pencipta – besi, kain, sampah plastik harian, banner, komponen elektronik – Farieds Noor – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sepuluh mahasiswa dari berbagai jurusan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mempresentasikan karya di Galeri RJ Katamsi. Pameran bertajuk “#On What !?” dibuka oleh Kepala Subdit Seni Media, Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tubagus Sukmana, bersama Rektor ISI Yogyakarta M Agus Burhan, Jumat (16/8) malam.

Pameran seni media “#On What !?” merupakan kolaborasi antara ISI Yogyakarta melalui Galeri RJ Katamsi, Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan House of Nature Fibre (HONF) Yogyakarta.

Selaku kolaborator HONF menjelaskan bahwa pameran/showcase “#On What !?” merupakan serangkaian eksperimen untuk menyajikan karya dalam nuansa yang baru dimulai dari workshop tentang proses kekaryaan untuk memberikan perspektif baru, inkubasi proses penciptaan karya, dan diakhiri dengan pameran/showcase.

“Pada pameran ini kami mencoba untuk memberikan sentuhan baru pada karya mahasiswa (yang lolos) dan menampilkan sesuatu yang mungkin belum pernah sama sekali dibayangkan oleh mereka. Sekaligus memberikan perspektif baru kepada mereka bahwa dunia seni itu sangatlah luas. Artinya kolaborasi menjadi sangat penting, multi interdisipliner. Bisa kerja sama antara seniman dan biologis, ahli elektronik, psikologis, kedokteran, dan seterusnya untuk menghasilkan sebuah karya atau project yang baru dan tidak terbayangkan sebelumnya,” perwakilan HONF menjelaskan saat memberikan sambutan.

Dalam pola proses kekaryaan seni media dalam perkembangannya telah memasuki babak baru dengan menggabungkan multi platform (tidak hanya seni) yang memungkinkan lahirnya karya seni media yang baru (new media art).

“Dengan (keterlibatan mahahasiswa) pameran ini kita bisa melihat potensi yang menarik dari mahasiswa dalam nuansa akademik-edukasi. Diskusi yang terbangun menjadi kolaborasi yang menarik ketika selama ini mahasiswa hanya mendengar kiprah HONF di luar negeri atau melalui lamannya, hari ini mereka bisa saling berkolaborasi multi disiplin, trans-medium. Ini sekaligus menjadi upaya ISI Yogyakarta melalui Galeri RJ Katamsi dalam membangun wacana baru agar selalu meng-update dan meng-upgrade dalam pergerakan percepatan digital,” jelas Kepala Galeri RJ Katamsi I Gede Arya Sucitra.

Delapan mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Fakultas Seni Media Rekam serta dua mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta terpilih menjadi peserta workshop-inkubasi-showcase “#On What !?”. Dari hasil workshop dan inkubasi yang telah berlangsung, 10 karya disajikan dalam showcase di Galeri RJ Katamsi.

Fegelia Rahmadani dalam karyanya berjudul Mother Monster dengan memanfaatkan medium bio plastik, benang nilon, kain tulle, dan longtorso merekam praktik aborsi yang masih sering terjadi sebagai bentuk kekerasan terhadap anak oleh ibu kandungnya. Dengan tambahan bantuan rangkaian elektronik pada lampu sorot yang memancar dari dalam objek tubuh perempuan dalam rona warna merah, pesan praktik aborsi menemukan dramatikanya dalam Mother Monster: menyeramkan dan mengerikan.

Dalam karya Ikan-ikan dan Daging Segar (???) Abdul J Nugroho membuat eksperimen penggunaan bio plastik/bio silikon untuk mengawetkan makanan. Memanfaatkan medium makanan serta ikan segar yang diawetkan tanpa mesin pendingin, Abdul sampai pada beberapa kesimpulan: membusuk dalam beberapa hari, beberapa sudah tidak mungkin dimanfaatkan lagi, bahkan beberapa gagal pada satu kesimpulan. Eksperimen Abdul J Nugroho menjadi menarik ketika realitasnya hari ini Indonesia menjadi negara penyumbang sampah terbesar kedua di dunia yang dihasilkan dari makanan yang tidak termanfaatkan dan hanya menjadi sampah.

Dalam pengembangan lebih lanjut eksperimen Abdul J Nugroho bisa dikaitkan dengan keberlimpahan hasil tangkapan ikan laut di Indonesia bagian Timur dimana lebih dari 70 persen tidak termanfaatkan dan akhirnya membusuk, karena tidak terserap pasar lokal. Pada sisi lain biaya angkutan/distribusi ke luar wilayah maupun teknologi pengawetan dirasakan masih terlalu mahal bagi masyarakat setempat. Sebuah ironi ketika sebagian masyarakat dunia dan bisa jadi masyarakat di Indonesia masih dihantui ancaman kelaparan, ikan laut segar sebagai sumber protein hewani justru belum termanfaatkan secara maksimal, bahkan hanya membusuk menjadi sampah.

Peningkatan sampah plastik di alam masih menjadi isu yang seksi sekaligus realitas yang layak diangkat dalam upaya penyelamatan lingkungan. Susahnya terdekomposisi di alam dalam rentang waktu yang lama, sampah plastik di alam adalah ancaman bagi kehidupan manusia di bumi. Dan cara terbaik selain mengurangi penggunaan plastik adalah dengan mendaur ulang ataupun memanfaatkan kembali sampah plastik yang ada.

Pada tiga karya panel berjudul Human Result  dengan medium potongan kayu, kaca, tanaman-sisa tanaman, plastik, serta cat, Citra Conde S menyampaikan pesan bahwa di alam bahan-bahan organik relatif mudah terurai dalam waktu yang singkat sementara sampah anorganik seperti plastik, kaca, bahan kimia adalah pencemar/polutan yang karena sifatnya menjadi ancaman bagi kelestarian alam.

Berbeda dengan penyajian Citra Code yang statis, pada karya Kembali pada Sang Pencipta Farieds Noor menyampaikan pesan bahaya sampah plastik di alam dalam bentuk wayang (shadow puppet). Sajian Kembali pada Sang Pencipta menjadi lebih interaktif ketika Farieds menambahkan lampu sorot yang menembak objek-objek yang dijadikan wayang ke dinding ruang pamer dengan motor yang memutar sebuah cermin yang dipantulkan ke objek wayang. Dalam seni kinetik dengan teknologi yang realtif sederhana, pesan-pesan yang disampaikan Farieds lebih dinamis layaknya memutar sebuah film maupun sebuah pertunjukan wayang.

Informasi dan teknologi yang berkembang cepat telah mengubah cara baca dan cara pandang generasi muda hari-hari ini. Showcase seni media dalam istilah yang lebih dikenal sebagai new media menjadi ikhtiar yang menarik bagi perkembangan seni hari ini tidak sekadar mix media, namun sudah mengarah pada gabungan multimedia, multi platform, hingga multi interdisipliner akan membuka banyak peluang dan kemungkinan munculnya hal-hal baru tanpa direpotkan dengan batas-batas disiplin ilmu yang menyertainya.

Dalam sambutannya Rektor ISI Yogyakarta M Agus Burhan mengingatkan bahwa dalam melihat perkembangan new media ataupun artificial inteligent bahwa kemungkinan-kemungkinan itu pada intinya tetap bertumpu pada daya kreativitas sebagai manusia dan sebagai seniman. Apabila tereduksi semata-mata hanya mengandalkan pada berbagai kemungkinan dari teknologi itu, sebenarnya seni akan tereduksi begitu saja.

Seni tidak terbatas pada determinasi teknologi, begitupun tidak terbatas pada berbagai medium maupun perkembangan yang sifatnya teknologi semata. Karena seni akan melampaui imajinasi, melampaui mimpi dan berbagai keterbatasan. Meskipun begitu seni dengan perpanjangan teknologi, kecerdasan buatan, maupun new media akan bisa menjangkau hal-hal yang berbatasan dengan mimpi

“Memperkenalkan dan mengaktualisasikan kembali wacana maupun praktik dalam new media art merupakan satu momentum dimana kita membangun laboratorium secara kolaboratif dengan mengeksplorasi berbagai macam kemungkinan media. Kita bisa melihat bahwa new media adalah berbagai macam eksplorasi yang mengintegrasikan antara seni, sains, dan teknologi. Dalam Era Revolusi Industri 4.0 new media art mendapatkan momentumnya untuk dikembangkan menjadi seni yang baru dalam bentuk trans media. Ini sejalan dengan tema Dies Natalis XXXV/Lustrum VII ISI Yogyakarta 2019  Kecerdasan Buatan dalam Seni di Era Revolusi Industri 4.0,” kata M Agus Burhan dalam sambutannya, Jumat (16/8) malam.

Pameran (showcase) seni media dengan tema “#On What !?” dihelat hingga 25 Agustus 2019 di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home