Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 05:49 WIB | Sabtu, 21 Juli 2018

Gembala: Pemimpin yang Menyatukan

Mencukupi kekurangan umat Allah bisa dijadikan semboyan hidup setiap pemimpin kristiani.
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (Yer. 23:1). Demikianlah kecaman Allah kepada para pemimpin Israel. Gembala yang dimaksudkan di sini adalah pemimpin. Dan tugas pemimpin itu menyatukan.

Itu bukan hal mudah. Sebab setiap orang berbeda. Kita punya peribahasa: ”rambut sama hitam pendapat berbeda”. Dan pemimpin dipanggil Tuhan untuk menyatukan semua keragaman itu. Penyatuan bukanlah penyeragaman. Sekali lagi, pemimpin dipanggil untuk menolong orang-orang yang dipimpinnya—dengan semua keragaman talenta yang dimilikinya—menjadi satu.

Mungkin di sinilah persoalan utama di bumi manusia. Manusia cenderung membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Yang merasa lebih menjadi tinggi hati, dan yang merasa kurang menjadi rendah diri. Baik tinggi hati maupun rendah diri sejatinya merupakan manifestasi dari rasa iri. Rasa iri yang tidak dikelola dengan baik akan membuat orang jatuh dalam budaya persaingan yang tidak sehat, bahkan tak jarang saling menjatuhkan. Dan semuanya bermuara pada kehancuran komunitas.

Tugas pemimpin adalah menolong orang yang dipimpinnya belajar menjadi dirinya sendiri, yang memupuk rasa percaya diri, sehingga mampu menghormati orang lain. Sekali lagi, jangan jadi orang lain! Itu hanya membuat kita lelah sendiri. Dan para pengikut bisa percaya diri jika dan hanya jika melihat pemimpin percaya kepada diri sendiri. Hanya pemimpin beginilah yang bisa menyatukan umat Allah.

Para pemimpin masa kini perlu meneladani sikap dan tindakan Gembala Sejati, yang mencukupi kekurangan domba-Nya (Mzm. 23:1). Mencukupi kekurangan umat Allah bisa dijadikan semboyan hidup setiap pemimpin kristiani. Dan pada titik ini kita bisa meneladani Yesus Orang Nazaret.

Dalam peristiwa pemberian makan 5.000 orang laki-laki. Yesus mencukupi kebutuhan orang banyak itu. Yang menarik, pemberian makan 5.000 orang laki-laki terjadi karena para murid mau membagikan apa yang ada pada mereka (Mrk. 6:38). Dan damai sejahtera dirasakan oleh yang diberi, juga yang memberi!

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home