Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Sotyati 16:36 WIB | Senin, 08 Oktober 2018

Gempa Palu: Tim GKI Pelayanan Kesehatan di Jono dan Wisolo

Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia melaksanakan pendistribusian bantuan seusai ibadah 7 Oktober 2018 di Desa Jonojindi, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Suawesi Tengah, bagi warga terdampak gempa bumi. (Foto: Tim GKI)

SATUHARAPAN.COM – Jarak Kabupaten Sigi dari Kota Palu di Sulawesi Tengah “hanya” 40 kilometer. Tidak terlalu jauh, apalagi jika keadaan normal. Namun, Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (Tim GKI) harus menempuhnya 90 menit.

Gempa dan tsunami yang menghantam Donggala-Palu, pada 28 September 2018 lalu, turut meluluhlantakkan daerah sekitarnya. Termasuk Kabupaten Sigi. Jalan raya banyak yang rusak parah, bukan sekadar terkelupas, namun di beberapa bagian seperti terbongkar.

Bersyukur Tim GKI bersama Bala Keselamatan Korps Palu dapat mencapai Desa Jono di Kecamatan Dolo Selatan, pada 6 Oktober lalu.

“Dalam situasi bencana, apalagi yang terbilang dahsyat, informasi banyak sekali. Ada yang berdasar fakta, juga banyak yang ‘katanya-katanya’. Maka kami harus memilah yang benar-benar memerlukan, mengingat keterbatasan kami. Dari berbagai informasi, kami memandang perlu untuk menindaklanjuti apa yang dilakukan oleh teman-teman Bala Keselamatan, khususnya Korps Kota Palu. Informasi mereka cukup lengkap dan mengarahkan kami ke Desa Jono, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi,” Pdt Nanang, yang menjadi koordinator lapangan Tim GKI rombongan pertama, menjelaskan kepada Satuharapan.com melalui media sosial.

Lebih kurang 200 keluarga dengan total hampir 700 jiwa menghuni Desa Jono. Kebanyakan petani atau buruh tani perkebunan cokelat dan kelapa.

Pemandangan indah gunung di kejauhan tidak mampu menarik perhatian demi melihat rumah-rumah rusak, baik rusak ringan maupun rusak berat rata tanah.  Mereka sementara mendirikan gubuk ala kadarnya. Gereja Bala Keselamatan tempat mereka beribadah pun rusak berat, tidak bisa lagi digunakan.

Pada Sabtu, 6 Oktober itu, terlihat kaum ibu berkumpul di satu sudut desa mengoperasikan dapur umum. Di tengah-tengah keprihatinan itu mereka mengerjakan masing-masing tugas dengan giat, nyaris tak ada tanda-tanda kesedihan.    

“Di Jono kami mengadakan pengobatan terhadap 85 pasien. Ada beberapa tindakan bedah minor,” Pdt Nanang menjelaskan. Paling banyak, menurut catatan dokter, adalah keluhan infeksi saluran pernapasan.

Selain itu, di tempat itu Tim GKI juga melakukan trauma healing bagi anak-anak. Hingga matahari undur diri masih ada yang mendatangi tenda tempat pelayanan pemeriksaan kesehatan.

“Itulah alasan kami dengan segala keterbatasan hadir di Jono, kami merasa  bahwa di hari pertama itu cukup efektif bekerja,” kata Pdt Nanang.

Desa Wisolo

Kabar kehadiran pelayanan pengobatan di Jono Jinji itu rupanya didengar desa tetangga, Desa Wisolo. Mereka pun meminta Tim GKI datang untuk melakukan pelayanan yang sama.

Seusai ibadah dan pendistribusian makan siang di Desa Jono Jindi, nama yang biasa disebutkan warga setempat di Kecamatan Dolo Selatan itu, tim dibagi dua, seperti dilaporkan Sekretaris Tim GKI Jabar Tony Muljadinata. Satu tim melanjutkan pelayanan medis di Jonojindi dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Wisolo, satu tim lagi melakukan survei ke Desa Jono Oge di Kecamatan Sigi Binomaru. Tim mendapatkan kabar bahwa warga desa mengungsi ke Desa Pombewe di Kecamatan Sigi Binomaru.    

Desa Wisolo, menurut pengamatan Pdt Nanang, juga terdampak cukup parah. Tim GKI dan Bala Keselamatan harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki melewati kebun cokelat dari titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat.

“Ketika kami datang, masih belum ada bantuan. Di Wisolo ada 100 keluarga dengan lebih dari 600 jiwa. Cukup memprihatinkan. Gubuk-gubuk pengungsian sangat memprihatinkan. Tidak ada MCK,” ia mengabarkan.  

Di Wisolo, Tim GKI menemukan ada pasien yang menderita pendarahan pascamelahirkan tepat pada saat gempa terjadi. “Bersyukur, kami dapat bekerja sama dengan Pak Camat Dolo Selatan dan Tim Medis dari PT Timah Belitung untuk menanganinya,” kata Pdt Nanang. Pasien dirujuk ke RS Undata.

Tidak jauh berbeda dengan di Jono, paling banyak keluhan infeksi saluran pernapasan. Dokter juga menangani pasien yang mengalami luka. Dari tim di lapangan, Tony Muljadinata, Sekretaris Tim GKI Jabar, menambahkan di Wisolo Tim GKI menemukan kasus anak usia 13 tahun menderita TBC kelenjar yang kondisinya mengenaskan.

Editor : Sotyati

Back to Home