Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 01:09 WIB | Senin, 05 Februari 2018

Generasi Milenial Itu Sama Dengan Lainnya

”Setiap generasi menganggap dirinya lebih cerdas dibanding generasi sebelumnya, dan lebih arif bijaksana dibanding generasi berikutnya” (George Orwell)
Generasi Milenial (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Mereka adalah generasi terhebat.” Begitu kata orang mengenai generasi kakek nenek yang lahir sebelum tahun 1930-an. Sebagian besar dari mereka sudah berada di alam baka. Yang masih hidup saat ini berusia menjelang 90 tahun atau lebih. Mereka inilah generasi yang mengalami dua kali perang dunia, merasakan depresi global di pada awal abad ke-20 itu, dan karenanya tahu betul apa arti penderitaan dan perjuangan. Sekalipun mereka berhasil keluar dari segala kesulitan mahabesar, mereka tetap rendah hati. Itulah makanya mereka disebut sebagai generasi terhebat—The Greatest Generation.

Perjuangan yang mereka alami, sangat jauh berbeda dengan yang saat ini dialami generasi milenial yang lahir antara tahun 1980-an hingga 2000-an. Dengan selisih usia 50 tahun lebih, sungguh banyak perbedaan akibat pola pengasuhan, kondisi lingkungan serta perkembangan teknologi  informatika yang ikut membentuk generasi-generasi setelah the greatest generation. Secara khusus, gaya komunikasi  telah sangat berubah sejak akhir abad ke-20 hingga awal abak ke 21, tepat pada masa awal generasi milenial. Sesungguhnya teknologi komunikasi telah memegang peran besar dalam membentuk generasi milenial. Contohnya, generasi milenial lebih tidak nyaman hidup tanpa wifi daripada hidup tanpa teman di sampingnya. Tantangan generasi masa kini sesungguhnya adalah melawan  rendahnya kemampuan komunikasi tatap muka, karena sepanjang hari mereka lebih banyak berkomunikasi melalui gawai.

Terkait banyaknya perbedaan yang dibahas pada generasi milenial ini, berbagai predikat telah dilekatkan pada mereka: Generasi Milenial adalah generasi yang lebih mementingkan diri sendiri, lebih sulit diatur, paling terdidik namun kurang terampil, tidak fokus karena setiap saat konsentrasinya terdistraksi oleh panggilan teknologi melalui gawai mereka yang kadang tak cukup satu, dan pemalas. Kadang para milenialis memandang diri sendiri sesuai cap yang telah diberikan kepada mereka, namun lebih sering mereka membantah. Pembahasan mengenai perbedaan dan kekhasan generasi ini menjadi perbincangan yang tak henti. Hingga ada yang mengatakan: Generasi Milenial adalah generasi yang paling banyak mengalami kesalahmengertian.

Menariknya, Harvard Business School  dalam survei pada 2015 lalu justru menemukan banyak kesamaam: Baby Boomers yang umumnya adalah generasi orang tua dari para Millennials, Generasi X yang adalah kakak milenial, maupun generasi milenial, ternyata mencari hal yang sama di dunia kerja. Begini kata survei tersebut: Generasi Baby Boomers, Generasi X maupun Generasi Milenial sama-sama mencari  kesempatan untuk belajar dan bertumbuh; mengharapkan atasan/manajer yang berkualitas dan jenis pekerjaan yang disukai; manajemen yang bermutu; adanya kesempatan untuk berkarier lanjut; kompensasi kerja yang memadai; tempat kerja yang memiliki budaya menghargai kreativitas,  tempat  kerja yang menyenangkan untuk bekerja, serta lingkungan kerja yang informal.  Ternyata juga dari survei itu, generasi sebelumnya yaitu Baby Boomers dan Generasi X, hanya berbeda dalam intensitas harapannya terhadap hal-hal di atas: generasi milenial umumnya lebih tinggi harapannya.  Jadi gaya bisa berbeda, namun tujuan tetap sama dari generasi ke generasi.

Satu hal istimewa yang nyata dari generasi milenial adalah keinginan kuat untuk berdampak. Karena generasi milenial tumbuh dalam era demokrasi global, mereka menjadi generasi yang percaya diri, bahkan percaya behwa mereka dapat menaklukkan dunia. Karena itu dalam dunia kerja, mereka ingin dapat memberi dampak. Jika ciri ini dapat ditangkap oleh mereka yang bekerja sama dengan generasi milenial, atau oleh pemberi kerja, maka prestasi terbaik akan muncul dari mereka.

Tak dapat ditampik lagi, generasi milenial sudah menjadi populasi terbesar dunia kerja saat ini,  dan karenanya tak berguna hanya mempersalahkan mereka. Mereka sebaiknya dipahami, diberikan wawasan kerja dan diarahkan untuk menghasilkan dampak terbesar. Generasi milenial adalah generasi berbeda, namun memiliki potensi besar. Dunia masa depan ada di tangan mereka. Karena itu, pemberian bekal yang memadai bagi mereka merupakan keniscayaan.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home