Google+
Loading...
HAM
Penulis: Eben E. Siadari 10:52 WIB | Kamis, 31 Maret 2016

Gereja-gereja Pasifik Kritisi Kunjungan Luhut ke Fiji

PM Fiji, Frank Bainimarama (Foto: RNZ / Johnny Blades)

SUVA, SATUHARAPAN.COM - Konferensi Gereja-gereja Pasifik (Pacific Conference of Churches /PCC) mengeluarkan pernyataan kritis terhadap kunjungan Menkopolhukam, Luhut Binsar Padnjaitan,  ke Fiji yang bertujuan untuk memberikan bantuan ke negara itu setelah dilanda bencana belum lama ini.

Organisasi gereja-gereja Pasifik itu mengatakan bantuan pemerintah asing harus memperlakukan korban bencana dengan bermartabat dan tidak membuat persyaratan atas bantuan yang diberikan.

Menkopolhukam mengunjung Fiji pekan ini dan berencana memberikan bantuan 5 juta dolar AS serta bantuan tenaga insinyur untuk merehabilitasi negara itu yang porak-poranda oleh topan Winston bulan lalu.

Sekjen PCC, Pendeta Francois Pihaatae, mengatakan pejabat Indonesia harus disambut dengan baik, tetapi ia mengingatkan kedatangan Luhut kentara bermuatan politik.
 
Ia mengingatkan bahwa Menkopolhukam selama ini telah sangat vokal menentang setiap kelompok yang ingin memperjuangkan penentuan nasib sendiri di Papua dan secara terbuka menyerukan agar aktivis Papua yang memperjuangkannya angkat kaki dari Indonesia.

Sebelum ini, menurut  rnz.co.nz yang melaporkan berita ini, seorang pejabat senior pemerintah Indonesia mengatakan awal pekan ini bahwa kunjungan Luhut ke Fiji bertujuan untuk menekan dukungan Fiji terhadap organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Papua, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

ULMWP baru-baru ini memeperoleh status sebagai pengamat di organisasi negara-negara Pasifik yaitu Melanesia Spearhead Group  (MSG). Seiring dengan itu Jakarta mencoba meningkatkan upaya diplomatik ke kawasan ini.

Pendeta Pihaatae mengatakan setiap pembicaraan bilateral antara Indonesia dan Fiji tentang isu Papua tidak boleh dipengaruhi oleh bantuan kepada korban topan.

"Kami meminta kepada semua donor - termasuk LSM - tidak mempersyaratkan kondisi tertentu untuk membantu dan meminta mereka untuk menahan diri dari memberikan bantuan dengan pesan untuk mendukung suatu alasan politik," kata dia.

Pendeta itu juga memberikan gambaran bahwa Selandia Baru dan Australia - yang selama ini lama dilihat sebagai penentang  perdana menteri Fiji, Frank Bainimarama - sudah dengan segera  memberikan bantuan kepada Fiji, tanpak menetapkan pra-kondisi untuk bantuan kemanusiaan.

"Dengan menerima bantuan bersyarat," kata dia, "Pemerintah melakukan tindakan merugikan rakyat mereka."

Sebagai bagian dari perjalanan Luhut ke negara-negara Pasifik, ia juga akan mengunjungi Papua Nugini dan dijadwalkan tiba di Port Moresby besok.

Namun Menlu PNG, Rimbink Duck, mengindikasikan bahwa tidak ada pembicaraan tentang Papua dalam kunjungan kali ini.

Kata Duck, pada tingkat politik hubungan PNG dengan Indonesia berada pada tingkat yang sangat baik.

"Sebagai contoh, Papua Nugini adalah, saya pikir, satu-satunya negara di Kepulauan Pasifik yang telah diberi kebijakan visa gratis oleh Indonesia. Setiap warga negara dari PNG dapat masuk ke Indonesia dengan bebas visa," kata dia.

Pato menegaskan  Papua adalah bagian integral dari Indonesia dan bertekad tidak membicarakan penentuan nasib sendiri.

"Jadi kami tidak tertarik dengan masalah penentuan nasib sendiri, karena itu tidak pernah menjadi masalah bagi kami, dan itu tidak pernah menjadi perhatian bagi kami."

Namun, kata dia, pihaknya akan terus membahas masalah kekhawatiran akan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, sesuai dengan resolusi oleh para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik tahun lalu di KTT di Port Moresby.

Editor : Eben E. Siadari

Baca Juga:

Back to Home