Google+
Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Reporter Satuharapan 20:47 WIB | Senin, 08 April 2019

Giannis Antetokounmpo, Pedagang Asongan yang Jadi Pebasket Dunia

Giannis Antetokounmpo. (Foto: Orca Beacon)

SATUHARAPAN.COM – Bermain basket di daerah suburban Athena, Yunani, adalah kegiatan selingan yang ditunggu-tunggu Giannis Antetokounmpo.

Keluarganya tidak punya uang. Kadang-kadang ia dan adiknya, Thanasis, harus bergantian mengenakan sepatu olahraga yang sama, saat bermain.

Tapi sekarang, Antetokounmpo punya sepatu basket Nike dengan namanya.

Dialah "the Greek Freak" (Si Gila dari Yunani), anak seorang imigran gelap dari Nigeria yang lahir di Athena, dan kini menjadi pemain terpopuler di NBA. Fernando Duarte dari BBC World Service, menuliskan laporannya, seperti dilansir bbc.com 7 April 2019.

Hidup Susah

Antetokounmpo adalah pemain termahal ketujuh di NBA, liga basket profesional pria Amerika Serikat, dan turnamen paling bergengsi di olahraga basket.

Pemain berusia 24 tahun dengan tinggi 2,11 meter ini dijagokan memenangkan trofi Most Valuable Player (MVP), yang dianggap sebagai penghargaan “terbaik di dunia” bagi pebasket.

Ini sangat berbeda dari hari-hari ketika ia dan adiknya berkeliling di jalanan Kota Athena, menjajakan produk-produk bermerk tiruan.

Pekerjaan tersebut merupakan salah satu cara untuk membantu orang tua mereka mencari nafkah.

Status migran Charles dan Veronica Antetokounmpo sangat membatasi kesempatan kerja mereka.

“Kami menjual kacamata dan jam. Lalu kami beralih ke CD, DVD. Saya adalah salesman terbaik,” kata Giannis dalam acara televisi Amerika “60 Minutes”.

“Kalau dagangan kami laku, berarti kami bisa makan.”

Meskipun lahir di Yunani, Antetokounmpo tidak secara legal berhak mendapatkan kewarganegaraan. Sampai usianya 18 tahun, ia tidak memiliki kewarganegaraan, karena ia juga tidak punya dokumen identitas Nigeria.

Demi membantu anak-anak mereka berbaur, Charles memberikan Giannis dan Thanasis nama Yunani dan mendorong mereka untuk menjadikan basket sebagai hobi dan pilihan karier, karena anak-anak mereka tumbuh dengan cepat dan basket sangat populer di Yunani.

Giannis mulai bermain basket pada 2007 dan empat tahun kemudian, pencari bakat dari NBA menemukannya di tim divisi dua Yunani, saat berlatih di gelanggang olahraga tanpa pemanas ruangan ataupun air panas untuk mandi seusai latihan.

Antetokounmpo, direkrut Milwaukee Bucks -biasa disebut Bucks- pada tahun 2013.

Ia ikut serta dalam suatu upacara yang dikenal sebagai “Draft” — semacam reality show di mana tim bergantian memilih pemain baru. Upacara ini disiarkan di televisi di seluruh dunia.

Ia adalah orang asing dan para pakar waktu itu, memprediksi Giannis akan disewakan kembali ke sebuah tim di Yunani untuk menambah pengalaman sebelum bergabung dengan Bucks. Beberapa pakar itu kini tergila-gila pada “Si Gila dari Yunani” dan bicara tentang wingspan Antetokounmpo.

Wingspan adalah istilah aeronautika yang menjelaskan lebar sayap pesawat, diukur dari ujung ke ujung. Istilah tersebut digunakan dalam basket untuk menggambarkan panjang lengan seorang pemain.

Tim-tim NBA sangat menghargai lengan panjang — pemain berlengan panjang akan lebih gampang meraih rebound, mengadang tembakan, mencuri operan, dan melempar di atas pertahanan.

“Si Gila dari Yunani” memiliki ‘lebar sayap’ alias wingspan sepanjang 2,21m. Ia termasuk pemilik 20 wingspan terpanjang di antara hampir 500 pemain NBA di musim 2018-2019.

Antetokounmpo hanya menerima tawaran kontrak Bucks setelah mendapat jaminan bahwa keluarganya akan bisa menyusulnya ke AS.

Perjalanannya ke Amerika adalah pengalaman pertamanya ke luar negeri.

“Thanasis dan saya menangis ketika nama saya diumumkan (di Draft). Kami tahu hidup kami telah berubah pada saat itu. Mulai sekarang, masa depan keluarga kami akan lebih cerah,” ia mengenang.

Mendongkrak Kesuksesan Tim

Kesuksesan Antetokounmpo lebih mengagumkan lagi karena Bucks bukanlah tim papan atas di NBA.

Amerika masih berperang dengan Vietnam ketika tim tersebut meraih satu-satunya piala turnamen mereka, pada 1971. Mereka belum pernah sampai ke babak final sejak itu.

Berbasis di Negara Bagian Wisconsin, Milwaukee Bucks adalah salah satu dari apa yang disebut komentator olahraga Amerika “tim tidak laku” — tim yang diperkirakan kesulitan mengisi barisan kursi penonton di arena mereka.

Di Milwaukee, memang begitulah adanya, sampai kedatangan Antetokounmpo.

Bucks kini hampir selalu mengisi penuh arena mereka, Fiserv Forum, yang berkapasitas lebih dari 17.000 kursi.

Dan penyebabnya sederhana: para penonton ingin melihat “Si Gila dari Yunani”.

Ia adalah simbol perubahan nasib individu dan kolektif. Bucks sejauh ini adalah tim NBA terbaik di musim ini, memenangkan hampir 75 persen pertandingan mereka.

Antetokounmpo adalah pencetak skor terbanyak, juga memimpin dalam assist dan rebound per pertandingan, di Bucks.

‘Dunk’ yang Terkenal

“Sebelum ada Giannis, hanya ada beberapa orang di bangku penonton. Kami bisa mendengar keluarga kami bicara. Mama bisa memberi Anda saran, paham kan maksud saya?” kata pemain Bucks, John Henson.

Klip rekaman pertandingan yang diputar di seluruh dunia menunjukkan betapa sang pria Yunani membuat lawan-lawannya tampak kecil.

Namun, ada sebuah episode khusus yang melibatkan sebuah “dunk” — ketika seorang pemain basket membawa bola ke dalam keranjang alih-alih melemparnya.

Ini bukan gerakan yang istimewa – pemain NBA biasanya melakukannya beberapa kali di setiap pertandingan. Namun, dalam peristiwa tersebut Giannis memukau para penonton dan komentator dengan melompat ke atas pemain lawan, Tim Hardaway Jr. – pria setinggi 1,98m – pada Februari tahun lalu.

Gerakannya begitu populer sampai menginspirasi Bucks untuk membuat kaus, tapi produk itu berhenti dijual tak lama kemudian, setelah Giannis protes.

“Itu bukan tindakan yang benar,” ujarnya, menyiratkan bahwa kaus tersebut tidak menghormati Hardway — meskipun ia sendiri telah membagikan foto “Dunk” yang populer itu di akun Instagram pribadinya.

Antetokounmpo telah menginjak tahun ketiga dari kontrak empat tahunnya, yang bernilai US$100 juta. Namun, kontrak baru ke depannya jelas akan lebih menguntungkan, terutama jika ia memenangkan trofi MVP.

Sasaran Politik Kotor

Saat ini, ia mendapat peluang untuk menjadi warga non-Amerika keempat yang memenangkan trofi MVP sejak penghargaan tersebut mulai diberikan pada 1955.

Namun berbeda dari bintang basket lainnya, “Si Gila dari Yunani” ini tidak suka pamer.

Sampai tahun lalu ia masih tinggal di apartemen dua kamar sewaan bersama ibunya, pacarnya, dan adik bungsunya — tapi November lalu, media Amerika melaporkan bahwa ia telah membeli rumah seharga US$1,8 juta — terbilang murah bagi seorang pemain top NBA.

Hidupnya yang sulit selama bertahun-tahun di Yunani, tidak menghalangi Antetokounmpo untuk mewakili negaranya dalam kompetisi internasional bersama Thanasis. Sekarang, mereka punya sepatu masing-masing.

Meski demikian, sebenarnya bisa dimaklumi jika Antetokounmpo tidak mewakili Yunani. Ia baru mendapatkan kewarganegaraan Yunani pada 2013, itu pun prosesnya dipersulit oleh birokrasi dan hampir membuatnya tidak bisa pergi ke AS untuk mengurus kepindahannya ke Milwaukee.

Adapun politikus Nikos Michaloliakos, pemimpin partai ekstrem kanan “Fajar Emas”, mengkritik Pemerintah Yunani karena memberi Giannis dan Thanasis kewarganegaraan. Ia menyebut Giannis “simpanse”.

“Giannis lebih Yunani dari mereka yang mengolok-oloknya,” kata Antonis Samaras, perdana menteri Yunani waktu itu, menanggapi ujaran Michaloliakos.

Pada waktu itu, fakta bahwa Giannis dan Thanasis mendapatkan perlakuan khusus dibandingkan anak-anak imigran lain yang kurang beruntung, juga dikritik kelompok pegiat HAM.

“Ketika saya di Yunani, orang sering bilang, ‘Kamu bukan orang Yunani. Kamu orang Nigeria karena kamu hitam’. Tapi sering juga terjadi yang sebaliknya, ketika orang bilang, ‘'Kamu bukan orang Afrika. Kamu Yunani’.”

“Tapi saya tidak begitu peduli dengan itu. Dalam hati saya, saya tahu siapa saya dan dari mana asal saya. Hanya itu yang penting bagi saya,” kata Antetokounmpo. (bbc.com)

 

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home