Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 07:11 WIB | Kamis, 11 Oktober 2018

God of Small Things

Widelia biflora (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Judul di atas adalah judul sebuah novel. Pengarangnya Arundhati Roy. Novel ini mendapat Booker Prize pada 1997. Tema-tema yang diangkat dalam novel ini beragaM: kelas sosial, cinta terlarang, diskriminasi, yang mengambil konteks India. Menariknya, tema-tema besar itu hadir melalui hal-hal kecil yang dinarasikan. Bahkan, Arundhati berhasil menunjukkan, hal-hal kecil dan sederhana memengaruhi hidup para tokohnya.Tuhan yang besar, memang hadir di dalam pribadi atau  hal yang manusia anggap kecil.

Hari ini saya tertegun kembali dengan kenyataan itu. Tuhan menyatakan siapa diri-Nya: ”Tuhan, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat...” (Ul. 10:17). Ajaibnya, Tuhan yang besar itu, menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang ”membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian” (Ul. 10:18).

Bukankah Tuhan  adalah pribadi yang luar biasa? Ia hadir dalam diri orang yang dianggap kecil dan berpihak kepada orang yang dianggap lemah. Benar kata orang bijaksana, kalau mau melihat kualitas kepribadian seseorang, lihatlah dari sikapnya terhadap orang kecil. Orang besar adalah orang yang mampu mencintai dan menghormati orang lemah atau kecil.

Problem besar pembangunan negeri ini terletak di sana juga. Orang miskin kurang diperhatikan keberadaannya. Mereka bisa kehilangan tanah demi pembangunan, mereka sakit karena pencemaran akibat eksploitasi alam, mereka harus puas menyaksikan kemajuan pembangunan sementara diri mereka kekurangan. 

O ya, saya lupa, gereja juga cenderung begitu. Dia lebih memperhatikan siapa yang kaya atau mampu ketimbang meneladani Tuhan yang  mengasihi orang miskin dan lemah. Entah kenapa ini terjadi. Mungkin karena gereja sadar, memperhatikan orang lemah itu repot, merugikan, dan melelahkan. Berlawanan dengan ego manusiawinya. Jadi gereja lebih mengikuti egonya ketimbang meneladani Tuhannya.

Dalam proses pembangunan di Indonesia, kita patut bersyukur karena pemerintah sekarang tidak hanya memperhatikan Jawa, tetapi juga daerah Timur Indonesia. Kita melihat ini sebagai perwujudan nilai keadilan, perhatian kepada yang lemah dan lebih membutuhkan.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home