Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 10:38 WIB | Rabu, 04 Desember 2019

Google Rayakan Taman Nasional Lorentz Papua

Taman Nasional Lorentz di Papua, dikukuhkan menjadi situs Warisan Dunia Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada 1999. (Foto: Antara Papua)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Google Doodle di halaman pencarian Google versi Indonesia pada hari ini Rabu, 4 Desember 2019, tampil dalam wujud lukisan alam dengan pegunungan, pepohonan, dan burung. Mengarahkan penunjuk ke gambar, muncul tulisan “Celebrating Lorentz National Park”.

Taman Nasional Lorentz yang dimaksud, terletak di Papua. Wikipedia menyebutkan taman nasional dengan luas wilayah sebesar 2,4 juta hektare itu taman nasional terbesar di Asia Tenggara.

Taman Nasional Lorentz, mengutip Wikipedia, dikukuhkan menjadi situs Warisan Dunia Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada 1999, setelah diresmikan Pemerintah Indonesia pada 1997.

Hasil identifikasi menyebutkan Taman Nasional Lorentz menjadi habitat 630 jenis burung (lebih kurang 70 persen dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia.

Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini, yakni dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik, di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), empat jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.

Selain satwa, Taman Nasiona Lorentz menyimpan kekayaan hayati 34 tipe vegetasi, di antaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.

Nama Lorentz diambil dari nama seorang penjelajah asal Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz, yang melewati daerah tersebut pada tahun 1909, yang merupakan ekspedisinya ke-10 di taman nasional itu.

Selain keanekaragaman hayati yang tinggi, taman nasional ini ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman Suku Nduga, Dani Barat, Suku Amungme, Suku Sempan, dan Suku Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.

Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga belum semua objek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini diidentifikasi dan dikembangkan.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home