Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:39 WIB | Jumat, 12 Januari 2018

Gumbregan, Tradisi Merawat Keselamatan Pertanian di Kendeng

Upacara Gumbregan yang digelar masyarakat saat usai musim tanam di Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem-Rembang, Jumat (12/1) pagi. (Foto: dokumentasi Ngatiban).

REMBANG, SATUHARAPAN.COM - Masyarakat Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem-Rembang, hari Jumat (12/1) pagi,  menggelar upacara Gumbregan. Tradisi yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun seusai musim tanam.

Dalam mengolah tanah, masyarakat setempat masih menggunakan tenaga ternak besar semisal sapi dan kerbau untuk membajak tanah dalam  persiapan tanam. Pada saat musim hujan tiba, aktivitas petani semakin meningkat dan pada saat itulah peran ternak dalam membantu kerja petani dirasakan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kesehatan petani, kesehatan ternak, dan tentunya kesehatan lahan-media tempat menanam.

Pada saat selesai menanam para petani melakukan Gumbregan sebagai tradisi ucap syukur atas terselesainya pekerjaan pengolahan tanah serta menanam dengan ternak yang selalu sehat.

Dalam Gumbregan, para petani memasak ketupat dengan lauk olahan masyarakat setempat dengan dipanjatkan doa, dan setelahnya sebagian diberikan kepada ternak sapi-kerbau dan serta dimakan bersama masyarakat sekitarnya.

Dalam rilis yang diterima satuharapan.com, hari Jumat (12/1), Ngatiban warga Tegaldowo menjelaskan peran penting ternak besar dalam membantu aktvitas masyarakat dalam bertani.

"Bagi petani, hewan-ternak di desa merupakan sarana untuk bercocok tanam untuk membantu mengolah tanah yang akan ditanami. Ternak sapi-kerbau bagi petani adalah rojo koyo, (wujud kekayaan) sandang-pangan masyarakat desa. Peran ternak selain bisa membantu menyelesaikan pengolahan lahan sawah atau ladang juga punya memiliki nilai besar dalam peningkatan ekonomi dari mulai kotoran ternaknya, penggemukan dagingnya hingga anakannya," jelas Ngatiban.

Binatang ternak peliharaan semisal sapi, kerbau, kambing, ayam, dalam istilah bahasa Jawa sering disebut juga dengan sato-iwen bagi masyarakat petani dan pedesaan adalah 'harta hidup' yang selalu diupayakan untuk dimiliki. Dikatakan sebagai 'harta hidup' karena dapat beranak-pinak sekaligus membantu aktivitas mereka dalam bertani. Masyarakat desa menyebut peliharaan tersebut dengan istilah rojo koyo sebagai tabungan yang hidup dan menghidupi.

Raja Kaya, sebuah ungkapan untuk menjelaskan istilah sehari-hari milik masyarakat lapisan bawah yang terkait langsung dengan kecukupan pangan, yang artinya ada kecukupan sandang, dan kecukupan papan.

Kondisi serba kecukupan itu hanya mungkin terjadi terkait dengan kepemilikan lahan, karena petani (masyarakat desa) akan menjadi sempurna menjadi si raja kaya (karena kepemilikan binatang peliharaan) jika dilengkapi dengan penghasilan dari panen non-padi (palawija). Kemudian akan lebih sempurna apabila petani memiliki panen padi, artinya petani memiliki lahan sawah, setidaknya menanam untuk dirinya sendiri. Dalam posisi inilah binatang peliharaan itu menjadi kelengkapan yang sempurna.

"Harmonisasi alam (ibu bumi) dan seluruh makhluk hidup di dalamnya senantiasa kami jaga. Kemajuan teknologi, tidak boleh menghancurkan kearifan lokal yang telah turun temurun diajarkan oleh leluhur kami. Bagaimanapun, cara-cara yang alami dalam menjaga ibu bumi akan menjamin kelestariannya. Begitulah kehidupan kami sebagai petani. Ibu bumi tidak hanya kita ambil hasilnya, tetapi juga kita rawat. Merawat berarti kesadaran untuk selalu mengucap syukur atas berkah yang sudah kita terima," jelas Ngatiban tentang Gumbregan yang sedang digelar masyarakat Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem-Rembang menyikapi berbagai problematika kemajuan, modernisasi, maupun berbagai program pembangunan yang sedang terjadi di sekitar desanya.

Bagaimanapun, Ngatiban masih memandang bahwa pertanian dengan segala dialektikanya adalah daya hidup. Pertanian adalah kebudayaan dalam rumah besar yang terus dipertahankan. Ketika ruang hidup terancam, adalah hak mereka untuk mempertahankannya. Budaya masyarakat Rembang sesungguhnya adalah budaya agraris. Jejak itu bisa dilihat dari penamaan desa yang menggunakan tanaman semisal jati, waru, maja, kunir, rukem, bulu, mantingan, sudo, bogor, sidowayah, ketanggi, gedang, tanjung, sebagai representasi pada masa lalu banyak tumbuh tanaman di wilayah tersebut dan digunakan untuk memberikan penanda bagi desanya.

Dan ketika suara lesung sebagai salah satu bentuk kearifan lokal, yang senantiasa ditabuh saat panen tiba sebagai sebentuk rasa syukur, terus ditabuh petani sebagai upaya mempertahankan ruang hidupnya yang terus dipertahankan, saat itulah lesung jumengglung yang terus bertalu secara ritmis-indah namun menyayat hati sedang menyuarakan tanda bahaya: bagi petani, lahan pertanian, dan dunia pertaniannya. Dan terlebih lagi ketika hari-hari ini pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah impor 500.000 ton beras demi mengamankan pasokan beras dalam negeri.

 

Back to Home