Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Teuku Kemal Fasya 00:00 WIB | Senin, 11 September 2017

Halte Kehormatan untuk Buya

Konon salah satu masalah besar bangsa ini adalah sangat kurangnya figur yang sekarang dapat dijadikan teladan. Di antara yang sedikit itu adalah Buya Prof. Syafii Maarif. Hidup dan perilakunya menunjukkan kualitasnya sebagai Guru Bangsa.

SATUHARAPAN.COM - Sangat sedikit kita temukan orang yang telah berumur 80-an seperti Prof. Syafii Maarif masih sangat bernyala pikirannya. Kalau dibandingkan dengan tingkat rata-rata harapan hidup bangsa Indonesia yang “hanya” 69 tahun, Buya Syafii Maarif (lahir 31 Mei 1935) telah menerima bonus 13 tahun lebih dibandingkan manusia rata-rata Indonesia. Kita mudah menemukan orang Indonesia yang berumur 60-70an tahun mulai terserang penyakit, lamban dan malas bekerja di ruang publik. Sebagian lain memang berhenti berpikir karena sudah pikun (Bahasa Aceh : jawai).

Namun, tidak untuk Buya Syafii Maarif. Ia bukan hanya panjang umur tapi juga penuh teladan. Ia masih rajin menuliskan pemikirannya dengan sederhana tapi kritis di media massa nasional seperti Kompas atau Republika. Ada beberapa orang tua lain yang juga telah berumur 80 tahun lebih yang masih sering menulis. Di antaranya Prof. Daoed Joesoef (91 tahun) dan Prof. J.E. Sahetapy (85 tahun). Yang satu adalah pemilik dua gelar doktor di Perancis dan pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada era Soeharto (1978-1983), dan yang satunya lagi adalah guru besar hukum Universitas Airlangga, Surabaya dan seorang pakar hukum yang sering bicara blak-blakan di acara televisi Indonesia Lawyers Club (ILC), TV One.

Saya telah mengenal lebih dekat Prof Syafii Maarif sejak akhir 1990-an. Ada satu pertemuan yang saya ingat ketika ia diundang pada sebuah seminar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Seminar saat itu bertema isu suksesi Soeharto dan dihadiri pembicara selain Buya Syafii, seorang profesor pakar sosiologi perdesaan, sebut saja LC, yang saya kaburkan identitasnya karena alasan yang akan terang kemudian, dan Arbi Sanit (peneliti politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI). Saat itu sang profesor terkenal sebagai pemikir kritis politik. Si profesor mencandai Buya Syafii yang terkesan malu-malu dan salah tingkah. Dosen UGM itu memiliki suara bariton yang khas dan juga pintar membanyol.

Menurut seorang teman sekaligus guru saya, Lian Sahar, pelukis ekspresionis asal Aceh yang tinggal di Yogyakarta, si profesor pernah dituduh sebagai penyiksa “tersangka” pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) pascakudeta 1965. Almarhum Lian Sahar sendiri pernah dipenjara karena tuduhan bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat); organisasi yang dianggap sayap kesenian PKI. Ia sempat protes pada saya, bagaimana mungkin Lekra yang mengusung genre realisme-sosialis memiliki kader pelukis ekspresionisme-abstrak seperti dirinya. “Apa rakyat kebanyakan bisa diajak revolusi dengan lukisan abstrak?”, tanyanya enigmatis.

Saat itu Lian Sahar ditahan di Benteng Vrederburg Yogyakarta dan diinterogasi oleh seorang dosen UGM. Entah karena sama-sama dosen (Lian Sahar adalah dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dulunya bernama Akademi Seni Rupa Indonesia/ASRI) atau memang  ada alasan lain, ia tidak pernah kena hantaman kepalan tangannya yang memang besar.

Namun sebaliknya, dari sebelah sel, Lian Sahar kerap mendengar tangisan melolong orang-orang yang disiksa, kabarnya salah satu yang paling kejam adalah LC. Lian Sahar akhirnya tidak terbukti dan dilepaskan. Meskipun demikian, cerita Pak Lian tentang LC tidak pernah saya perhatikan. Hingga terbetik kabar dari Pengadilan Rakyat Internasional di Den Haag, Belanda pada 2015 yang menyebut nama LC sebagai salah satu algojo dari UGM. UGM sendiri tidak mengeluarkan pernyataan resmi menolak atau menerima tuduhan itu.

Kembali pada kisah Buya Syafii Maarif, meskipun ia terkenal “garang”, termasuk pembelaannya atas kasus penistaan agama yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat Pilkada Gubernur Jakarta lalu, ia pribadi yang sederhana. Mantan ketua PP Muhammadiyah ini masih biasa gowes sepeda (Bahasa Jawa: ngepit) di sekitar rumahnya di Yogyakarta atau pergi ke acara seminar dengan menumpang kenderaan temannya.

Buya Syafii (ketiga dari kiri) menggunakan angkutan KRL saat menghadiri rapat UKP-PIP      ISTIMEWA

Untuk relasi sosial, ia juga seorang yang lemah lembut dan dermawan. Ada satu kisah Buya harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membantu tetangga yang anaknya sedang sakit. Uang itu meluncur begitu saja tanpa ada tanda-tangan di atas materai atau bertanya kapan harus dikembalikan.

Kita bisa ambil pengalaman itu dan bercerminkan pada orang-orang kaya di sekitar kita. Apakah orang-orang kaya (baru) yang memiliki rumah dan mobil mewah, biasa menghabiskan ratusan juta rupiah tiap tahun untuk liburan ke luar negeri, dan makan malam di restoran Jepang, langsung lincah membantu tetangga miskin yang memerlukan? Lebih banyak orang-orang seperti kita mencari apologia bahwa sedang tidak ada uang, dirundung utang, belum gajian, sedang banyak pengeluaran, atau alasan ngacir lainnya. Jika pun kita bersedia membantu hanya beberapa lembar uang berwarna merah atau biru dengan ujung kalimat, “tidak usah dikembalikan”. Itu tanda penghapus malu karena tak sudi membantu tetangga.

Namun jangan tanya tentang komitmen kemanusiaan dan kebangsaan, Buya sangat panggah pada prinsip. Ia keras menolak wacana khilafah atau ISIS yang dianggapnya sampah peradaban Arab. Buya teguh dengan pendirian bahwa Indonesia harus menjadi negeri yang ramah pada perbedaan dan keberagaman etnis, budaya, agama, dan bahasa. Memaksakan Indonesia yang monolitik sama dengan menskenariokan kiamat bagi Indonesia.

Sejak 2010 Buya juga dekat dengan Jaringan Antariman Indonesia (JAII), sebuah komunitas lintas agama yang menjadi jembatan bagi inisiatif lokal pada isu minoritas, pluralisme, dan multikulturalisme. Para pendiri JAII di antaranya Elga Sarapung, Djohan Effendi, Pastor Neles Tebay, Pdt. Jacky Manuputty, Abidin Wakano, Bikku Pannavarro, dll.

Terakhir, kesederhanaan Buya tidak dibuat-buat atau pamer panggung. Seorang teman wartawan menangkap Buya Syafii sedang menumpang kereta api untuk menghadiri cara kick off Pembinaan Ideologi Pancasila Agustus lalu. Ia menjadi salah seorang dewan pengarah pada Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), sama seperti Megawati, Tri Sutrisno, atau Prof. Mahfud MD.

Dengan fasilitas mentereng dimilikinya, imajinasi liar sekalipun sulit menerima fakta ada pejabat negara eselon dua sekalipun yang mau menumpang kereta api dan bersisian dengan rakyat jelata. Hal yang hampir mustahil kita temukan di dunia yang semakin materialistis dan penuh pencitraan seperti saat ini.

Buya adalah “Pancasila hidup” bagi seluruh rakyat Indonesia. Kehormatan yang harus kita haturkan ke beliau, dengan sepenuh-penuh hormat.

 

Penulis adalah antropolog Aceh. Aktivis di Jaringan Antariman Indonesia (JAII).

 

Editor : Trisno S Sutanto

Back to Home