Google+
Loading...
HAM
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:09 WIB | Senin, 04 Juni 2018

Hampir Separuh Anak-anak Afghanistan Tidak Bersekolah

Ilustrasi. Sekolah darurat bagi anak-anak perempuan dan perempuan pengungsi Afghanistan di pinggiran Kabul, Afghanistan, 30 Oktober 2017.(Foto: voaindonesia.com)

AFGHANISTAN, SATUHARAPAN.COM – Hampir separuh anak-anak di Afghanistan tidak bersekolah karena perang, kemiskinan, dan faktor-faktor lain, demikian ditunjukkan sebuah laporan baru hari Minggu (3/6).

Hasil penelitian tersebut, yang dirilis Kementerian Pendidikan dan badan anak-anak PBB UNICEF, mengatakan bahwa 3,7 juta atau 44 persen dari semua anak usia sekolah tidak bersekolah.

Ini merupakan pertama kalinya sejak penyerbuan yang dipimpin Amerika di Afghanistan tahun 2001, persentase anak-anak yang bersekolah menurun, setelah kemajuan bertahun-tahun dalam pendidikan anak-laki-laki dan perempuan, yang dilarang bersekolah pada masa kekuasaan Taliban.

Survei itu mengatakan, 60 persen dari jumlah anak-anak yang tidak bersekolah adalah anak perempuan.

“Tidak berbuat apa-apa bukan pilihan bagi Afghanistan kalau kita hendak memenuhi hak bersekolah bagi setiap anak,” kata Adele Khodr, wakil UNICEF di Afghanistan, dalam pernyataan.

“Ketika anak-anak tidak di sekolah, mereka berada dalam bahaya yang lebih besar untuk disalahgunakan, dieksploitasi, dan direkrut.”

Taliban telah merebut beberapa daerah di seluruh negara itu dalam beberapa tahun ini, sementara pemerintah yang didukung Amerika berjuang keras untuk memerangi pemberontakan.

Krisis keuangan yang sudah lama, yang perparah oleh korupsi yang luas, telah menghambat usaha pemerintah lebih jauh untuk memperluas akses ke pendidikan.

Kemiskinan yang luas, memaksa banyak keluarga untuk mendorong putri mereka untuk segera menikah, sering kali dengan pria yang sudah tua. Usia legal untuk menikah di Afghanistan adalah 18 tahun, tetapi hukum tidak ditegakkan, terutama di daerah-daerah pedesaan yang konservatif.

Pendidikan bagi anak perempuan masih ditentang di sebagian negara Muslim yang konservatif itu, dan dilarang di daerah-daerah yang terus meluas yang dikuasai oleh Taliban. (voaindonesia.com)

 

Editor : Sotyati

Back to Home