Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 02:37 WIB | Minggu, 10 Desember 2017

Hannah Standiford Buka Panggung Pasar Keroncong Kotagede

Seniman-pelaku seni jangan alergi danais
Hannah Standiford Buka Panggung Pasar Keroncong Kotagede
Penyanyi keroncong asal Richmond, Virginia, AS Hannah Standiford saat tampil di Panggung Loring Pasar, Pasar Keroncong Kotagede 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Hannah Standiford Buka Panggung Pasar Keroncong Kotagede
Pembukaan Pasar Keroncong Kotagede 2017 di panggung Loring Pasar oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Sabtu (9/12).
Hannah Standiford Buka Panggung Pasar Keroncong Kotagede
Penampilan OK Berangkat di Panggung Kajengan.
Hannah Standiford Buka Panggung Pasar Keroncong Kotagede
Penampilan Hannah Standiford dengan instrumen cak bersama orkes keroncong Kharisma di Panggung Kajengan.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Penyanyi keroncong Hannah Standiford membuka panggung Pasar Keroncong Kotagede (PKK) 2017. Bersama orkes keroncong Kharisma penyanyi asal Richmond, Virginia, AS itu membawakan tujuh lagu dalam irama langgam-keroncong.

PKK 2017 dibuka oleh Wakil Gubernur Pemda DI Yogyakarta KGPAA Paku Alam X. Dalam sambutannya Paku Alam X memberikan  apresiasi kepada panitia PKK beserta masyarakat Kotagede  atas kerja kerasnya sehingga keroncong tetap eksis.

"Harapan saya, kedepan ada penggiat musik keroncong dari generasi muda (yang bermunculan). Karena selama ini (keroncong) identik dengan orang sepuh-sepuh." jelas Paku Alam X saat membuka PKK 2017 di panggung Loring Pasar, Sabtu (9/11) malam.

Pembukaan PKK 2017 sempat diliputi suasana duka. Ibu dari salah satu inisiator Pasar Keroncong Kotagede Natsir Dabey meninggal dunia. Dalam pembukaan PKK 2017 Paku Alam X mengajak seluruh pengunjung untuk hening sejenak turut berdukacita dan mendoakan. Penampil pada Pendapa Sopingen yang semula menjadi salah satu panggung PKK 2017 akhirnya dialihkan ke kedua panggung yang ada: Loring Pasar dan Kajengan.

Membuka panggung PKK 2017, Hannah Standiford menyanyikan "Stambul Baju Biru" karya Toto Salmon dilanjutkan lagu "Jenang Gula". Pada lagu "Walang Kekek" dan "Kadhung Tresna", Hannah menyanyi sambil memainkan alat musik cak yang menjadi salah satu ciri khas keroncong. Dalam tiga tahun terakhir, Hannah Standiford secara khusus belajar dan meneliti musik keroncong di ISI Surakarta.

Dari cara memainkan cuk dan cak (ukulele) sebagai roh keroncong dan ciri khas keroncong tanpa drum set yang dimainkan secara berbeda, pola ritmis yang ada dalam musik keroncong dapat digunakan untuk mengiringi semua lagu, dari cara mermainan (ukulele yang di-genjreng) ini khas hanya ada di Indonesia dan itu dimainkan dalam musik keroncong, pengamat musik keroncong Victor Ganap mengambil kesimpulan bahwa keroncong adalah musik asli Indonesia. Sejak tahun lalu setiap orkes keroncong yang tampil di PKK memainkan lagu-lagunya dalam iringan minimal tujuh instrumen yang menjadi ciri khas langgam-keroncong.

Sebelum menyanyikan lagu "Keroncong Kemayoran", Hannah membawakan lagu yang dipopulerkan Elvis Presley "Blue Christmas". Menutup penampilan bersama OK Kharisma dengan lagu "Love" dalam irama langgam yang swing-jazzy.

Di panggung Kajengan yang berdekatan dengan Masjid Kota Perak, dibuka penampilan siswa dari SMKN 2 yang menampilkan dua grup orkes yakni OK 4/4 dan Lolycong dilanjutkan OK Berangkat. Meskipun tampil di bawah guyuran hujan, OK Seberang yang semula dijadwalkan tampil di Panggung Sopingen membuat penonton beranjak mendekat panggung Kajengan saat membawakan lagu yang sedang hits "Jaran Goyang" dalam iringan langgam yang rancak.

Hingga berita ini ditulis, (sekitar pukul 22.00 malam) panggung Loring Pasar yang berada di depan Pasar Kotagede sempat dihentikan karena hujan yang cukup lebat dan dikhawatirkan membahayakan. Rencananya di panggung Loring Pasar grup musik Kelompok Swara Ratan (KSR) akan tampil.

Sebagai salah satu kegiatan yang difasilitasi pemerintah melalui skema dana keistimewaan yang dimiliki pemda DI Yogyakarta, salah satu inisiator PKK Djaduk Ferianto memberikan masukan terkait penggunaan dana-fasilitasi untuk seniman-pelaku seni di Yogyakarta. Hal-hal terkait teknis penggunaan dana berikut pelaporan yang kerap menjadi kendala perlu dirembug bersama dalam sebuah forum antara pemerintah dan seniman-pelaku seni agar dapat termanfaatkan dengan maksimal secara bertanggungjawab.

"Pemerintah sudah punya aturan main dengan satuan-satuan, tetapi ketika itu diaplikasikan ke lapangan nggak ketemu. Sebaiknya pemerintah Yogyakarta punya forum bagaimana dana keistimewaan (danais) bisa dilakukan dengan fleksibel, enak, dan kita bisa berembug bareng. Banyak event yang dibantu dengan danais Yogyakarta, problem paling besar adalah pelaporan yang melelahkan bagi seniman-pelaku seni. Sewa panggung-tenda itu sudah punya satuannya, padahal (pelaksanaan) di lapangan bisa (jadi sangat) beda. Kebutuhan panggung maupun sound-system-nya tidak seperti itu. Selain berkarya (kreativitas) membikin event, seniman-pelaku/pegiat seni masih dibebani menginterpretasi angka-angka satuan yang tidak kalah melelahkan." jelas Djaduk saat temu media di Pendapa Kedai Kolega, Jogjatorium, Dagadu Djogja, Rabu (6/12) siang.

Lebih lanjut Djaduk memaparkan bahwa kenyataan yang terjadi di Yogyakarta, dengan adanya danais membuat para pekerja seni, pelaku seni, pemerhati budaya mulai bergerak kembali memikirkan untuk Yogyakarta dengan segala aktivitasnya berpartner dengan pemerintah dan pemerintah membantu dengan danais. Danais itu milik masyarakat dimana dalam penggunaannya harus tetap bertanggungjawab, karena itu harus dimanfaatkan (semaksimal mungkin bagi masyarakat). 

"Biar (danais) tidak ngendon yang justru berpotensi dijadikan rayahan, kita juga harus tetap beraktivitas. Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi teman-teman lain yang membikin event: jangan alergi dengan danais, manfaatkan semaksimal mungkin secara bertanggungjawab." kata Djaduk.

Sebagaimana semangat PKK 2017 kali ini yang mengusung tema "Gotong Keroncong Bebarengan", ada baiknya seluruh pihak terkait: pemerintah/pekerja seni/pelaku seni/ pemerhati budaya, duduk bersama dalam sebuah forum membahas penggunaan danais bagi pengembangan seni-budaya di wilayah Yogyakarta agar terserap secara optimal dan berdaya guna bagi Yogyakarta. Dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

 
UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home