Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 15:57 WIB | Kamis, 13 Agustus 2020

Harapan Kardinal Suharyo kepada Dirjen Baru Bimas Katolik

Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro (duduk, paling kanan) saat bertemu dengan Kardinal Suharyo di Jakarta, Selasa (11/8). (Foto: ist)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Yohanes Bayu Samodro, beserta jajarannya beraudiensi dengan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo di Wisma Uskup Jalan Katedral 5, Jakarta, Selasa sore (11/8).

Kedatangan Dirjen dan jajarannya dimaksudkan untuk mendengarkan aspirasi dan harapan Gereja Katolik dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Katolik Kementerian Agama RI.

“Kami datang pada sore hari ini memperkenalkan diri. Selaku pejabat yang baru dilantik dan diambil sumpah, saya sebagai Direktur Jenderal, dan sebulan lalu, Direktur Urusan Agama Katolik, Albertus Triyatmojo dilantik. Karena dekat kantor, kami pertama mengunjungi Kardinal dan memperkenalkan diri. Kami berharap dari Kardinal hal-hal atau catatan yang penting untuk diberi perhatian dalam menjalankan program Ditjen Bimas Katolik ke depan,” ungkap Bayu, panggilan akrab Dirjen Bimas Katolik.

Harapan Kardinal

Dalam audiensi itu, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo mengucapkan selamat atas pelantikan Yohanes Bayu Samodro sebagai Dirjen Bimas Katolik dan Albertus Triyatmojo sebagai Direktur Urusan Agama Katolik. Kardinal menyampaikan dua harapan penting, yaitu yang bersifat konseptual dan yang bersifat praktis/konkret untuk Ditjen Bimas Katolik.

Harapan yang bersifat konseptual, menurut Kardinal, bahwa sebagai birokrasi yang menyandang nama Katolik, berarti Ditjen Bimas Katolik diharapkan ikut mewujudkan keadaban publik atau kebaikan bersama melalui tiga pilar yaitu, negara, bisnis, dan masyarakat warga, dimana ketiga pilar itu harus berada dalam sinergi yang baik.

Ditjen Bimas Katolik berada dalam pilar negara, untuk itu ia harus hadir memastikan kebaikan bersama diwujudkan. Hal ini sudah lama, persisnya tahun 2004, dicanangkan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Nota Pastoral berjudul Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru - Keadilan Sosial bagi semua: Pendekatan Sosio-Budaya.

Kemudian harapan yang bersifat praktis atau konkret adalah masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Masalah-masalah tersebut perlu mendapat perhatian Pemerintah, dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik. Masalah-masalah yang disampaikan Kardinal kurang lebih ada empat, yaitu: (1) kurangnya perhatian pada Pendidikan Agama Katolik bagi anak didik Katolik sekolah  negeri; (2) masalah kekurangan guru agama Katolik dan kesulitan pengangkatannya;

(3) masalah pentingnya penjelasan perbedaan antara Katolik dengan Kristen, yang kerapkali disamakan begitu saja oleh pejabat-pejabat negara; dan (4) pentingnya mendukung kegiatan PESPARANI Katolik sebagai sarana meningkatkan rasa cinta tanah air bagi umat Katolik.

Kedatangan Dirjen, selain didampingi oleh Direktur Urusan Agama Katolik, Albertus Triyatmojo, juga didampingi oleh Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Aloma Sarumaha,  Direktur Pendidikan Katolik, Agustinus Tungga Gempa serta jajaran staf Ditjen Bimas Katolik. Kehadiran rombogan Dirjen Bimas Katolik disambut hangat oleh Uskup Kardinal Ignatius Suharyo, yang didampingi Romo Herry Wibowo, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI, Romo Adi Prasodjo, Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta dan Yustinus Prastowo, mewakili awam Katolik yang juga sebagai staf Khusus Menteri Keuangan.

Harapan Umat Katolik

Selain Kardinal, Yustinus Prastowo, sebagai perwakilan umat Katolik menyampaikan harapannya kepada Dirjen Bimas Katolik dan jajarannya.

Ada beberapa benang merah dari harapan yang disampaikan yaitu: (1) peningkatan sinergi Ditjen Bimas Katolik dengan elemen-elemen Masyarakat Katolik dalam mewujudkan kebaikan bersama (keadaban publik); (2) ikut mengubah persepsi birokrasi  yang jauh dari masyarakat menjadi birokrasi yang dapat dijangkau umat;

(3) mari bersama-sama mengupayakan moderasi beragama, sebagai program Kementerian Agama di tengah tantangan makin maraknya gerakan radikalisme dan intoleransi; (4) pentingnya nilai-nilai keutamaan agama Katolik masuk dalam kurikulum pendidikan agama Katolik.

“Semua harapan ini kami titipkan pada Ditjen Bimas Katolik dengan bersinergi dan berkolaborasi  dengan semua elemen masyarakat Katolik lainnya. Kami awam siap bekerja sama,” pungkasnya.

Hal senada, disampaikan oleh Romo Herry Wibowo, mewakili KWI. Dengan kepemimpinan baru pada Ditjen Bimas Katolik, KWI merasakan getar-getar adanya harapan dan semangat baru, yaitu pelayanan dapat dipertanggungjawabkan dan demi kemuliaan Allah.

Semua harapan Kardinal, awam Katolik, perwakilan KWI dan Keuskupan Agung Jakarta tersebut disambut baik oleh Dirjen Bimas Katolik dan jajarannya. Dirjen menyampaikan terima kasih kepada Kardinal, perwakilan umat, KWI, dan Keuskupan Agung Jakarta.

Pertemuan hangat tersebut yang berlangsung satu jam lebih, diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Romo Adi Prasojo. (DBKat)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home