Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:13 WIB | Minggu, 03 Mei 2020

Harimau Dipuasakan, Kebun Binatang Kesulitan Beri Makan di Masa Pandemi

Beberapa kebun binatang telah mengurangi jatah pakan harimau karena kekurangan dana sejak tutup akibat wabah virus corona. (Foto: bbc.com)

MEDAN, SATUHARAPAN.COM – Harimau di kebun binatang bisa dipuasakan beberapa kali dalam seminggu, karena pengelola kebun binatang kesulitan memberi makan satwa di masa wabah COVID-19. Hampir semua kebun binatang kehilangan pemasukan sejak tutup sejak bulan Maret.

Beberapa kebun binatang sudah mulai mengurangi jatah pakan atau menggunakan alternatif pakan yang lebih murah.

Asosiasi kebun binatang bahkan menyarankan, bila penutupan berlanjut, satwa-satwa herbivora bisa "dikorbankan" untuk satwa-satwa karnivora.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan kepada kebun binatang.

Tak Ada Pemasukan

Sebuah mobil dengan bak terbuka yang membawa pisang, ubi, tebu, ayam, dan sayur-sayuran meluncur ke Kebun Binatang Medan. Bahan-bahan makanan itu dibawa seorang warga Medan, untuk didonasikan sebagai pakan satwa.

Hesti, merasa prihatin akan nasib satwa yang dalam sebulan terakhir ini tidak mendapat cukup makanan setelah kebun binatang ditutup akibat wabah virus corona. Medan Zoo, yang berlokasi di Kelurahan Simalingkar, ditutup untuk umum sejak tanggal 23 Maret.

"Semua pakan yang saya donasikan ke Medan Zoo berasal dari ladang sendiri, semoga bisa membantu," kata Hesti kepada wartawan di Medan, Dedi Hermawan, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, yang dilansir pada Minggu (3/5).

Pengelola Medan Zoo, Putrama Alkhairi, mengakui kesulitan untuk memberi makan 270 ekor satwa di kebun binatang itu, sejak tidak ada lagi pemasukan dari penjualan tiket masuk.

"Kami harus mengeluarkan Rp3 juta per hari untuk membeli kebutuhan makanan satwa Medan Zoo. Biaya itu kita dapatkan dari retribusi pengunjung. Tapi sekarang sejak Medan Zoo ditutup, kami tidak lagi punya uang untuk beli makanan satwa," katanya.

Putrama mengatakan, demi mencegah kondisi satwa semakin parah, PD Pasar Pembangunan selaku pengelola Kebun Binatang Medan, meminta bantuan kepada Pemerintah Kota Medan, "Demi menyelamatkan satwa dan masa depan pengembangan Medan Zoo agar lebih baik."

Sehari Puasa Sehari Makan

Sementara itu, Kebun Binatang Bandung mengatakan sudah mengurangi jatah pakan bagi sekitar 850 satwa koleksinya, bagian dari langkah-langkah penghematan demi bisa bertahan hingga empat bulan ke depan.

Kebun Binatang yang terletak di kawasan Taman Sari itu praktis tidak mendapat pemasukan sejak tutup di awal Maret. Namun, penghasilan mereka sebenarnya sudah berkurang sebelum itu.

"Awal-awalnya, ketika ditemukan tiga orang yang positif COVID-19 di Depok itu, esok harinya juga kita sudah turun pengunjung. Sampai pernah sehari cuma dua orang," kata juru bicara kebun binatang, Sulhan Syafii.

Sulhan mengatakan pengelola kebun binatang, Yayasan Margasatwa Tamansari, sudah menyiapkan dana cadangan untuk situasi darurat seperti ini pelajaran dari wabah flu burung pada 2007 ketika jumlah pengunjung juga berkurang drastis.

Namun, tetap saja, mereka harus mengencangkan ikat pinggang. Sulhan menjelaskan: "Dulu harimau benggala itu yang besar dikasih 10 kg daging per dua hari jadi sehari puasa, sehari makan dengan komposisi 50 persen daging sapi dan 50 persen daging ayam."

"Nah, sekarang sudah dikurangi menjadi 8 kg sampai 5 kg daging ayam, sisanya daging sapi untuk menekan bujet pakan."

Para perawat satwa juga "harus kreatif", kata Sulhan. Mereka diminta menggunakan sumber pakan alternatif. Salah satunya, pohon bambu yang ada di sekitar wilayah kebun binatang.

Daun dan pucuk dari pohon bambu itu dijadikan pakan tambahan untuk gajah, selain rumput yang merupakan pakan utama mereka. "Kita punya dua gajah yang sangat suka makan daun bambu. Kan lumayan menambal pakan yang ada," kata Sulhan.

Berdasarkan survei Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) terhadap 60 anggotanya, lebih dari 90 persen kebun binatang di Indonesia, tidak mampu bertahan memberi makan satwa lebih dari satu bulan. Sedangkan hanya sekitar 5 persen yang mampu menyediakan pakan hingga tiga bulan. Sisanya bisa lebih dari itu.

Sekretaris Jenderal PKBSI Tony Sumampau mengatakan, banyak kebun binatang sudah tutup sejak pekan kedua Maret.

Menurut Tony, kebun binatang yang menjadi anggota PKBSI memang diharuskan menyimpan dana cadangan untuk jaga-jaga bila ada bencana, "tapi rata-rata mereka mempersiapkan itu hanya untuk satu bulan, dua bulan".

Sementara itu, kebijakan pembatasan di Indonesia sudah hampir menginjak dua bulan dan akan berlaku sampai setelah hari raya Idul Fitri.

Harimau  Dipuasakan

PKBSI telah menyarankan agar kebun binatang melakukan berbagai "penyesuaian". Salah satunya dengan mengurangi jatah pakan.

"Untuk harimau itu biasa enggak usah tiap hari makan, boleh satu minggu itu dipuasakan satu hari. Mereka juga di alam enggak tiap hari makan kan."

"Tapi dengan bulan kedua ini, kami juga menyarankan bagaimana coba dikurangi. Seminggu dipuasakan dua hari, sehingga bisa menghemat biaya pakan," kata Tony.

Jika penutupan ini berjalan lebih dari dua bulan, Tony melanjutkan, maka terpaksa satwa-satwa herbivora yang usianya sudah tua dikorbankan untuk para karnivora.

"Sesuai permintaan dari kementerian, coba usahakan satwa-satwa yang tidak dilindungi, satwa-satwa yang mudah berkembang biak, itu mungkin alternatif pertama dulu," katanya.

Menurut PKBSI, terdapat hampir 5.000 jenis satwa yang menjadi koleksi seluruh kebun binatang yang menjadi anggotanya. Beberapa di antaranya tergolong spesies endemik Indonesia seperti anoa, harimau Sumatera, tapir, dan orang utan. Adapun jumlah populasi total satwa di seluruh kebun binatang adalah sekitar 70.000 ekor.

Khawatir Kesejahteraan Hewan

Pengamat satwa liar dan lingkungan dari Institut Pertanian Bogor, Profesor Hadi Alikodra, mengkhawatirkan kelangsungan hidup spesies-spesies satwa liar di kebun binatang pada masa wabah ini. Ia mengatakan, hilangnya pemasukan kebun binatang bisa berdampak pada kesejahteraan satwa.

"Kecukupan gizi, kecukupan makan, kecukupan kesehatan, ini otomatis [terganggu]," kata Prof Hadi.

Ia menambahkan, satwa-satwa tidak hanya merasakan dampak langsung berupa jatah makanan yang berkurang, tapi juga dampak tidak langsung dari para perawat satwa atau keeper.

Banyak kebun binatang telah merumahkan pekerja hariannya dan mengurangi jam kerja pegawai tetapnya. Kebun Binatang Bandung, misalnya, menerapkan sistem masuk dua hari-libur dua hari, dan pegawai hanya dibayar ketika masuk. Itu berarti gaji pegawai berkurang setengahnya.

Hal ini, menurut Prof Hadi bisa berdampak pada hubungan psikologis para keeper dengan satwa yang mereka rawat.

"Karena dia sangat sensitif kepada si penjaga itu. Kalau si keeper-nya ini ada sesuatu yang menyebabkan dia enggak suka dalam kehidupan dia, maka terbaca itu oleh satwa yang dipelihara,” katanya.

"Sehingga saya khawatir secara keseluruhan kolaps-lah sistem pemeliharaan di kebun binatang."

Prof Hadi menilai, dalam kondisi normal pun kebanyakan kebun binatang kurang memperhatikan kesejahteraan satwa baik dari segi kesehatan, kecukupan gizi, maupun interaksi para pengunjung dengan satwa. Kondisi ini diperparah dengan adanya penutupan kebun binatang akibat wabah.

"Mereka juga kurang concern terhadap kesehatan pada saat satwa ini ada dalam kandang yang tidak diperagakan, kandang karantina. Saya melihat bahwa kondisi bisnis kebun binatang adalah bisnis yang harus kita rombak secara profesional," katanya.

Mengharap Bantuan Pemerintah

Sekjen PKBSI Tony Sumampau mengatakan, pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan kepada Kementerian Lingkungan Hidup yang disebutnya sebagai "mitra" kebun binatang. Pada prinsipnya, semua satwa endemik yang dilindungi di kebun binatang adalah milik negara yang dititipkan ke kebun binatang.

Salah satu bantuan yang diharapkan kebun binatang, kata Tony, berupa pembebasan pajak. "Apalagi tutup ini, pajak-pajak yang tertunda janganlah lagi ditagih, atau diundur, atau dibebaskan."

Ia menambahkan pada bulan Mei, pihaknya akan mengirimkan surat kepada presiden yang isinya memohon bantuan penyediaan pakan bagi satwa-satwa di kebun binatang.

"Manusianya biarlah, apa adanya bisa dimakan tapi hewannya kan enggak bisa," kata Tony.

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Ekosistem KLHK Wiratno mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan kepada lembaga-lembaga konservasi, termasuk kebun binatang, di masa wabah virus corona ini. Bantuan akan diprioritaskan untuk pemenuhan pakan dan obat-obatan, terutama untuk satwa karnivora.

Wiratno menambahkan, pada tanggal 23 April Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar telah mengirim surat kepada Menteri Keuangan, untuk meminta keringanan pajak bagi lembaga-lembaga konservasi.

"Untuk dikurangi atau bahkan tidak membayar pajak. Dilihat nanti satu per satu kemampuan keuangannya," katanya.

Ditjen KSDAE juga meminta kebun binatang memberikan laporan tentang kesehatan satwa, terutama berkaitan dengan COVID-19. Para pakar konservasi memperingatkan bahwa virus corona dapat menimbulkan ancaman bagi beberapa satwa liar, setelah seekor harimau di kebun binatang Amerika Serikat didapati terinfeksi.

Wiratno mengatakan, ia belum menerima laporan tentang satwa di kebun binatang dalam negeri yang terinfeksi virus corona. "Mudah-mudahan tidak ada tapi kita memantau kondisi kesehatan satwanya," katanya.

Perketat Izin Lembaga Konservasi

Aktivis pencinta binatang turut mendorong pemerintah untuk memperketat izin lembaga konservasi.

"Ke depan harus ada aturan yang mengharuskan operasional lembaga konservasi satwa tidak bergantung pada penjualan tiket (saja). Hal itu bisa membuat (lembaga konservasi) berusaha mendapat pemasukan sebanyak-banyaknya dari pengunjung dan mengabaikan hak satwa," kata pendiri ProFauna Indonesia Rosek Nursahid kepada wartawan Ayman Fatih yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Rosek menyebut pengalaman di masa lalu yang menyebabkan penutupan sebuah kebun binatang di Jawa Timur.

"Tidak ada pengunjung menyebabkan tidak ada pemasukan dari tiket, akibatnya pengelola tidak bisa membeli pakan satwa. Kasus ini pernah terjadi di kebun binatang mini Tarekot di Kota Malang," kata Rosek.

"Pemerintah harus membuat protokol baru, belajar dari pandemi ini, untuk tidak mempermudah izin lembaga konservasi yang hanya mengandalkan penjualan tiket untuk membiayai operasinya." (bbc.com)

 

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home