Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Darwin Darmawan 05:31 WIB | Minggu, 02 Desember 2018

Hati dan Harta

Jangan heran kalau kita melihat ada orang yang fasih bicara tentang Tuhan, tetapi korupsi atau membenci sesama.
Semua ditopang Tuhan (foto: Citra Dewi)

SATUHARAPAN.COM – Seorang Indian berjalan bersama teman Eropanya di pusat kota New York. Ia tiba-tiba berhenti,  menunduk lalu mengambil seekor jangkrik. Teman Amerikanya bingung, bagaimana mungkin ia bisa mengetahui ada jangkrik di sela-sela trotoar yang rusak. Orang Indian itu menjawab karena ia mendengar suara jangkrik. Ia kemudian mengeluarkan beberapa koin dolar dari kantong baju,  menyebarkannya di trotoar. Banyak orang tiba-tiba berhenti, melihat koin-koin tersebut. Orang Indian itu menjelaskan kepada teman Eropanya, ”Aku peka mendengar suara jangkrik, orang-orang ini peka mendengar suara uang. Sederhana saja sebabnya. Kita akan mencari  sesuatu yang kita anggap berharga.”

Ilustrasi tersebut menjelaskan sabda Kristus: ”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Hati, buat orang Ibrani, adalah pusat kehendak atau motivasi. Mengapa orang melakukan sesuatu, menurut mereka,  dimulai dari hati. Ketika orang menganggap uang penting, maka motivasinya adalah mencari uang. Aktivitas utamanya dikendalikan oleh kehendak mencari uang.

Menurut Kristus, ketika hati seseorang menganggap uang segala-galanya, ia telah menuhankan uang. Akibatnya, hatinya sudah tidak memiliki ruang lain untuk Tuhan. Dalam pengertian seperti itu kita mengerti sabda Kristus selanjutnya: ” Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.....kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah atau kepada mamon”. Mamon adalah harta yang menjadi dewa.

Apa relevansi teks ini? Pancasila, sebagai ideologi masyarakat Indonesia, dengan jitu menaruh prinsip ketuhanan sebagai prinsip pertama. Kita bisa memaknainya seperti ini: Tuhan mestinya menempati posisi pertama dalam hidup masyarakat Indonesia. Ia tidak boleh digantikan oleh apa pun juga. Tidak oleh uang, kuasa, bahkan oleh agama.

Permasalahan yang terjadi di negeri ini sumbernya terletak di sini. Banyak orang mengklaim diri mencintai Tuhan, menempatkan Tuhan di posisi utama di ruang hatinya, padahal tidak. Apa yang benar-benar menjadi ”tuhan” adalah uang, kekuasaan, atau ego agama. Tuhan hanya dipakai sebagai alat untuk memenuhi apa yang menurutnya penting dan berharga.

Jangan heran kalau kita  melihat ada orang yang fasih bicara tentang Tuhan,  tetapi korupsi atau membenci sesama. Tidak usah bingung kalau ada orang yang memakai nama Tuhan untuk mendapat hormat manusia dan kuasa politik.

Di tengah kecenderungan masyarakat Indonesia yang seperti itu,  sabda Kristus di atas relevan untuk kita hidupi. Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Pancasila, perlu menempati tempat terpenting dan utama kehidupan kita. Ia tidak boleh ditukar oleh sesuatu atau pribadi lain yang kita anggap lebih penting atau berharga. Tuhan adalah harta paling berharga. Ia semestinya menguasai hati kita.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home