Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 19:47 WIB | Selasa, 19 Mei 2020

Hentikan Penjualan Sawta Liar, China Tawarkan Uang Tunai

Polisi mengamati satwa liar yang dijual di sebuah pasar di Kota Wuhan, China. (Foto: dok. AFP)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM-Para petani di China ditawari uang tunai untuk berhenti membudidayakan hewan-hewan eksotis, terkait tekanan yang meningkat untuk menindak perdagangan ilegal satwa liar yang dipersalahkan atas wabah virus corona.

Pihak berwenang China untuk pertama kalinya berjanji untuk membeli hewan dari peternak dalam upaya untuk mengekang praktik tersebut, kata aktivis hak-hak hewan.

China dalam beberapa bulan terakhir melarang penjualan satwa liar untuk makanan, dengan alasan risiko penyakit yang menyebar ke manusia, tetapi perdagangan tetap legal untuk tujuan lain termasuk penelitian dan pengobatan tradisional.

Virus corona yang mematikan pertama kali dilaporkan di kota Wuhan di China tengah. Secara luas hal itu diyakini telah berpindah dari kelelawar ke manusia sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Dua provinsi telah menguraikan rincian tentang program pembelian satwa untuk membantu petani beralih ke mata pencaharian alternatif.

Skema Kompensasi

Provinsi Hunan pada hari Jumat (15/5) menetapkan skema kompensasi untuk membujuk peternak untuk memelihara ternak lainnya atau memproduksi teh dan obat-obatan herbal.

Pihak berwenang menawarkan untuk membayar 120 yuan (setara US$ 16 atau Rp 240.00)) per kilogram ular kobra, ular raja atau ular tikus, sementara satu kilogram tikus bambu akan dihargai 75 yuan.

Seekor luwak, hewan yang diyakini membawa Sindrom Pernafasan Akut Parah (Severe Acute Respiratory Syndrome /SARS) ke manusia dalam wabah virus corona lain hampir dua dekade lalu, dihargai 600 yuan.

Provinsi tetangga Jiangxi juga telah merilis dokumen tentang rencana untuk membantu para peternak meninggalkan hewan dan mendapat bantuan keuangan.

Surat kabar Jiangxi Daily yang dikelola pemerintah melaporkan pekan lalu bahwa provinsi ini memiliki lebih dari 2.300 peternak berlisensi, sebagian besar memelihara hewan liar untuk makanan. Hewan-hewan mereka bernilai sekitar 1,6 miliar yuan (atau US$ 225 juta), kata laporan itu. Jiangxi dan Hunan adalah provinsi yang berbatasan dengan Hubei, provinsi tempat virus corona pertama kali muncul pada bulan Desember.

Belum Menyeluruh

Kelompok hak-hak hewan, Humane Society International (HSI) mengatakan Hunan dan Jiangxi adalah “provinsi pembiakan satwa liar utama,” dengan Jiangxi melihat ekspansi perdagangan yang cepat selama dekade terakhir. Pendapatan dari pembiakan mencapai 10 miliar yuan pada tahun 2018, katanya.

Spesialis kebijakan China HSI, Peter Li, mengatakan kepada AFP bahwa rencana serupa harus diluncurkan di seluruh negeri. Tetapi dia mengingatkan bahwa proposal Hunan memberi ruang bagi para petani untuk terus membiakkan makhluk eksotis selama hewan itu tidak dikirim ke pasar makanan.

Rencana provinsi jitu uga tidak termasuk banyak hewan liar yang dibiakkan untuk diambil bulunya, pengobatan tradisional cara China atau hiburan.

Li mengatakan pemerintah China tetap bergerak ke arah yang benar. "Dalam 20 tahun terakhir, banyak orang telah mengatakan kepada pemerintah China untuk mengalihkan operasi pembiakan satwa liar tertentu, misalnya bertani," katanya. "Ini adalah pertama kalinya pemerintah China benar-benar memutuskan untuk melakukannya, yang membuka preseden." (AFP)

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home