Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Priskila Prima Hevina 17:07 WIB | Selasa, 02 Oktober 2018

”Hidup” di Zona Nyaman

Orang butuh zona nyaman. Zona nyaman yang dinamis, yang membuat manusia ”hidup” dalam atmosfer yang damai sejahtera lahir batin.
Pulang Ngarit (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Perjalanan dengan menggunakan kereta dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Semarang Poncol sangat menguras hati nurani. Pemandangan yang disuguhkan di luar jendela gerbong adalah kehidupan masyarakat,  yang  dalam kacamata saya,  cenderung kuno.  Aktivitas penduduknya itu-itu saja: ngarit mencari rumput untuk pakan ternak, napeni beras, mencabuti uban di teras gubuk.  Kok bisa ya mereka betah berdiam di satu daerah terus sepanjang hayat, seperti katak dalam tempurung?

Belum selesai meremehkan apa yang terjadi dengan orang-orang di luar gerbong itu, saya malah wajib menjalani kehidupan yang berkebalikan dengan mereka. Saya dimutasi kerja ke kota yang asing bagi saya. Saya sangat terpaksa memulai kehidupan baru di kota ini. Semua yang saya saksikan berwarna abu-abu, saya mati suri selama 2 bulan terakhir. Hidup asal hidup: ngasal makan, ngasal merem, ngasal kentut.

Betapa berbedanya saya dan orang-orang di luar gerbong itu. Mereka tidak pergi kemana-mana, tetapi mata mereka bisa melihat warna di sekitarnya. Saya pergi ke tempat baru untuk dijajaki, tetapi mata saya justru rabun. Mereka mengerjakan aktivitas harian yang bagi saya monoton, tetapi raut mereka baik-baik saja. Saya menjumpai banyak kesibukan baru, tetapi saya sama sekali tidak baik-baik saja.

Orang-orang di luar gerbong itu ”hidup” dalam zona nyaman. ”Hidup” dengan tanda kutip, artinya lebih dari sekAdar makan, tidur dan bernafas. Mereka menikmati alurnya, mereka mensyukuri keberadaannya. Sampai pada titik ini, saya katakan saya iri pada mereka. Saya hanya berada di zona aman, makan tidur terjamin, tetapi saya tidak hidup di dalamnya.

Zona nyaman kerap dilabeli negatif oleh masyarakat milenial. Zona nyaman dituduh menjebak seseorang dalam kehidupan yang kaku dan serbaitu-itu saja. Zona nyaman dianggap mematikan gerak kehidupan seseorang. Teori itu saya amini, tetapi juga saya sangkali kini.

Orang butuh zona nyaman. Zona nyaman yang dinamis, yang membuat manusia ”hidup” dalam atmosfer yang damai sejahtera lahir batin. Zona nyaman tidak selamanya membunuh, bisa jadi ia justru menghidupkan.  Saya butuh zona nyaman, bukan sekedar zona aman.

Resepnya ikhlas, persis seperti semboyan kota ini. Ada benarnya juga lagu ”Zona Nyaman” yang dibawakan Band Indie Fourtwnty pada 2017: ”Sembilu yang dulu biarlah berlalu. Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi.” Saya harus ikhlas melihat dari dekat kota ini. Hingga pada suatu pagi saya melihat langit kelam digerayangi sinar mentari dan berangsur teranglah seluruh pemandangan dengan warna yang kompleks.   Syukurlah dengan begitu saya bertemu dengan zona nyaman yang mampu memulangkan nyawa saya kembali ke raganya.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home