Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 13:52 WIB | Jumat, 28 April 2017

Himki: Prospek Ekspor Mebel Daur Ulang Tinggi

Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan tempat pensil karakter di desa Banaran, Cemani, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (19/4). Kerajinan tempat pensil karakter berbahan styrofoam tersebut dipasarkan di Kota Solo dan dijual dengan harga Rp 5 ribu - Rp 125 ribu tergantung ukuran. (Foto: Antara)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia menyebutkan mebel berbahan kayu daur ulang lokal memiliki prospek ekspor cukup tinggi, khususnya di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

"Mebel berbahan kayu daur ulang memang saat ini banyak dicari `buyer` dari Eropa dan Amerika," kata anggota Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Endro Wardoyo di Yogyakarta, Jumat (28/4).
   
Selain memiliki tren ekspor yang bagus, kata dia, mebel atau kerajinan berbahan kayu daur ulang tidak dimiliki negara-negara kompetitor, seperti Tiongkok dan Thailand.

Menurut Endro, mebel dengan bahan-bahan kayu daur ulang yang paling diminati para pembeli dari Amerika dan Eropa, utamanya yang menggunakan desain rustic sehingga terkesan alami dan antik. 

"Sentuhan rusctic dan terkesan lawas paling diminati para `buyer` saat ini," kata dia.

Endro mengatakan secara umum prospek ekspor mebel dan kerajinan Indonesia cukup bagus. Hal itu terlihat dari tingginya transaksi pada ajang pameran Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina) yang digelar pada 13-16 Maret 2017 mencapai 78 juta dolar AS.

Meskipun nilai transaksi tidak mencapai target, menurut Endro, nilai transaksi pada Jiffina yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) itu, justru menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan Jiffina 2016 yang mencapai 75 juta dolar AS.

"Jiffina memang menjadi ukuran kami untuk menentukan peluang ekspor mebel dan kerajinan berbahan baku kayu," kata dia.

Selain itu, Endro mengakui sejak Lisensi "Forest Law Enforcement Governance and Trade" atau FLEGT atas produk kayu asal Indonensia di pasar Uni Eropa resmi diberlakukan pada 15 November 2016, banyak keuntungan yang diterima pengusaha mebel atau kerajinan berbahan baku kayu, khususnya yang telah mengantongi SVLK.

Dengan lisensi FLEGT seluruh aktivitas ekspor produk kayu Indonesia yang telah bersertifikat SVLK tidak perlu melalui proses uji tuntas yang biasanya menghabiskan 1.000-2.000 dolar AS per kontainer ukuran 20-40 feet.

"Sejak FLEGT diberlakukan kami banyak menerima pesanan dari `buyer`. Tawaran pameran ke luar negeri juga berdatangan," kata Endro. (Ant)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home