Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 21:15 WIB | Senin, 15 April 2019

Hingga Malam Hari WNI di Australia Masih Berupaya Bisa Mencoblos

Antrean panjang masih terlihat di depan kantor KJRI Melbourne bahkan sempat tidak terkendali, pada Minggu (14/4) (Foto: abc.net.au/Frilla Geubrina)

AUSTRALIA, SATUHARAPAN.COM – Antusias warga Indonesia di Melbourne, Australia, untuk bisa mencoblos di Pemilu 2019 sangat tinggi, bahkan hingga malam hari antrean masih panjang di depan kantor KJRI Melbourne.

Menurut jadwal sebelumnya, pencoblosan akan ditutup pukul 7 malam waktu setempat, hari Sabtu (13/4).

Satu jam terakhir sebelum penutupan dikhususkan bagi warga Indonesia yang masuk dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).

Yang termasuk dalam DPK adalah pemilih yang tidak terdata di luar negeri, tetapi tetap memiliki hak memilih dan cukup membawa paspor.

Salah satu warga Indonesia asal Aceh, Frilla Geubrina mengatakan, selesai mencoblos sekitar pukul 07:30 malam.

"Tadi jam 6 sore semua yang DPK disuruh masuk dan antrean masih panjang hingga ke ujung jalan [Kantor KJRI],” katanya, kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia, yang dilansir abc.net.au, pada Minggu (14/4).

Ia menjelaskan, karena membludaknya warga yang datang, antrean sempat tidak terkontrol dan terjadi dorong-dorongan.

Tetapi kemudian situasi terkendali dan proses pencoblosan bisa dilakukan semestinya, seperti pengecekan jari tangan sebelum mencoblos dan pemilih memastikan kartu suara belum dicoblos.

Di Melbourne, pemilih tetap mencapai lebih dari 13.000 orang dan Panita Pemilihan Luar Negeri (PPLN), belum memastikan berapa jumlah pemilih yang datang.

Antrean panjang sudah terlihat di sekitar kantor KJRI Mebourne sejak pagi hari, dengan panjang mencapai ratusan meter dan sempat membuat kemacetan.

Kebanyakan pemilih di Melbourne adalah mahasiswa, dan beberapa di antaranya mengaku baru pertama kali mencoblos dalam hidupnya.

Salah satunya adalah Albert Witanto, mahasiswa di Melbourne yang mengaku persaingan pemilu kali ini terasa begitu ketat, dan bahkan menyamakan dengan pemilu Amerika Serikat saat Donald Trump dan Hillary Clinton bersaing.

Albert baru pertama kali memilih, dan ia merasa sedikit cemas menunggu hasil pemilu yang baru akan diumumkan bersamaan dengan pemilu di Indonesia.

"Saya berharap Indonesia akan terus berkembang dan lebih maju dan menciptakan pemerintahan yang efektif," katanya.

Siauw Exel Prasadhana Setiawan, juga mahasiswa, pada awalnya mengaku sempat tidak akan ikut mencoblos pada pemilu kali ini, karena melihat kekurangan dari kedua kandidat presiden.

Exel menginginkan seorang pemimpin yang dapat dan berani menuntaskan korupsi, masalah lingkungan, serta meningkatkan perlindungan bagi warga minoritas di Indonesia.

Karenanya, ia mengaku mencoblos adalah salah satu bentuk kekuasaan yang dimilikinya sebagai warga untuk melakukan perubahan.

Melihat antrean yang panjang, Anggraini Prawira merasa bersyukur karena sudah melakukan pendaftaran online untuk memilih sehingga tidak perlu lama mengantre.

Ia mengaku sangat terkejut dengan minat memilih di Pemilu 2019 kali ini dibandingkan dengan Pemilu 2014.

"Semua orang sangat antusias untuk datang dan ingin mencoblos, kita ingin yang terbaik untuk Indonesia," katanya.

"Meskipun kita tinggal di Australia, kita masih peduli dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini."

Pemilu 2019 telah menciptakan banyak perdebatan soal pilihan politik, khususnya di jejaring sosial seperti Facebook dan Whatsapp group yang juga telah memicu perpecahan dalam keluarga dan pertemanan.

Tapi Anggraini berharap Pemilu 2019 bisa tetap berjalan lancar dan damai dan hasilnya bisa diterima dan dihormati oleh seluruh warga Indonesia, siapa pun pemenangnya.

 

 

Back to Home