Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Faltias Khenat Patriabara 06:43 WIB | Rabu, 30 Mei 2018

Hoax dan Pembelajaran Kebebasan

Bebas untuk adalah kebebasan yang didasari dari diri sendiri.

SATUHARAPAN.COM – Kekecewaan terberat saya terhadap zaman teknologi ini adalah dengan maraknya berita-berita hoax. Fake News sebutannya. Website-website hoax umumnya menyebarkan hoax yang bertujuan untuk melakukan propaganda atau dengan sengaja menghadirkan informasi yang salah.

Penggunaan media sosial membuat banyak orang yang membacanya. Tanpa daya kritis dan keheningan orang akan hanyut dalam berita-berita tersebut dan menganggap itu sebagai kebenaran. Kita makin melihat bahwa berita-berita bodong semacam itu belakangan ini kerap digunakan untuk mencari keuntungan politik. Tentu kita sudah paham bahayanya ketika orang-orang tersulut setelah membaca berita-berita bodong dan menggunakan berita tersebut sebagai landasan kebenaran untuk menyerang kubu yang berlawanan.

Gambaran tadi menunjukkan praktik kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Di sinilah terletak kerancuan dari kebebasan. Banyak orang masih menganggap bahwa kebebasan merupakan tindakan di mana dirinya bebas melakukan apa pun dengan sebebas-bebasnya, tanpa mempertimbangkan orang lain. Hal tersebut tidaklah salah, melainkan kurang tepat.

Kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa memedulikan orang lain adalah kebebasan yang tidak bertanggung jawab atau kebebasan anarkis. Para politisi, penyebar berita bohong, dan bahkan semua orang perlu belajar kebebasan demokratis, yaitu kebebasan yang sebebas-bebasnya, namun dengan sadar kebebasan itu ”dibatasi geraknya” oleh kebebasan orang lain. Singkatnya, kebebasan demokratis adalah kebebasan yang sebebas-bebasnya, namun memedulikan orang lain.

Kebebasan demokratis perlu dipelajari. Bahkan dari sedini mungkin orang perlu belajar kebebasan demokratis. Dari sekian banyak tempat pembelajaran kebebasan demokratis sungguh menarik memerhatikan kebebasan ala SMA Kolese De Britto, Yogyakarta.

Di De Britto kebebasan bukanlah hal tabu. Malah, boleh dikatakan, menjadi ciri sekolah yang dipenuhi dengan lelaki berambut, dan kadang bergigi, gondrong tanpa seragam ini. De Britto menyebutkannya sebagai pendidikan bebas. Pendidikan bebas ini sudah semenjak lama menjadi bagian mendasar sekolah ini. Namun, kebebasan ala SMA Kolese De Britto bukanlah kebebasan anarkis. Di tempat ini kebebasan demokratis diajarkan dengan pola sederhana yang menekankan pada bukan hanya bebas dari melainkan juga bebas untuk.

Bebas dari adalah kebebasan yang berasal dari luar diri seseorang. Kebebasan ini ini berangkat dari mentalitas dan kenyataan praktik perbudakan. Dalam model kebebasan ini pengajaran berpikir kritis, sekaligus berjarak (kerap disebut keheningan), menjadi penting. Di tempat ini, para siswa diajar untuk berpikir kritis sekaligus melihat realitas dengan keheningan. Model keheningan dilakukan melalui examen, pemeriksaan batin. Hasil dari pendidikan bebas secara positif—dalam konteks percakapan kita—adalah orang akan terbebas dari berita-berita hoax.

Bebas untuk adalah kebebasan yang didasari dari diri sendiri. Dalam pengajaran kebebasan ini, setiap orang diberi kebebasan untuk memilah dan memilih. Tentu dengan kesadaran akan konsekuensi setiap pilihan yang diambilnya. Tegasnya, pada setiap pilihan terletak tanggung jawab dan keduanya tak tak dapat dipisahkan.

Tanggung jawab dalam konteks kebebasan adalah konsekuensi yang ditimbulkan ketika kebebasan sudah dilakukan. Hal tersebut bisa juga disebut sebagai ekses dari kebebasan. Ekses-ekses ini pasti ada dalam proses, namun ketika ekses negatifnya lebih banyak ketimbang positifnya pasti ada suatu hal yang salah. Inilah yang dikembangkan De Britto dalam pendidikannya.

Model pendidikan semacam itu diramu oleh SMA Kolese De Britto dengan kurikulum yang menitikberatkan pada pendewasaan diri. Jadi pendewasaan diri dilakukan melalui pembelajaran bebas dari dan bebas untuk. Dengan cara semacam itu, para peserta didik diberi kebebasan mengikuti berbagai macam kegiatan yang mampu mengembangkan dirinya. Bahkan, terlambat sekolah pun diizinkan, demi kegiatan yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Melihat kondisi bangsa Indonesia sekarang ini—yang rakyatnya telah dijamuri oleh berita-berita hoax yang dianggap sebagai kebenaran—sungguh penting menghadirkan pendidikan bebas dalam arti yang benar. Agaknya, melihat realitas yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, para politikus, pemuka agama, atau siapa pun yang kerap termakan berita dan menjadi  hoax sebagai landasan berpikir, perlu kembali ke bangku sekolah.

Ya, sebenarnya kita semua perlu belajar bagaimana bersikap dan bertindak bebas untuk itu!

 

* Siswa SMA Kolese De Britto

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home