Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Jose-Yusuf Marwoto 08:45 WIB | Senin, 16 Maret 2020

Homo Desiderare

Jose-Yusuf Marwoto. (Foto: dok Ist)

Sepertinya sudah menjadi hukum alam, bahwa setiap manusia punya kecenderungan melakukan apa yang ia suka. Kebahagiaan lantas dirumuskan sebagai persoalan mendapatkan apa yang kita inginkan. “Getting what we want makes our lives go well.” Inilah etika yang sekarang berkembang pesat. Sesuatu itu baik bagi kita kalau memuaskan hasrat kita. Semakin banyak yang kamu dapat dari yang kamu inginkan, maka hidupmu akan semakin lebih baik. Namun kalau terjadi sebaliknya, hidupmu akan memburuk.

Beberapa pemikir kuno yang penuh kebijaksanaan pun mengaminkan bahwa pemenuhan hasrat adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan. Plato menulis, “Dia yang akan benar-benar hidup harus membiarkan hasratnya menjadi lilin sepenuhnya, dan ... melayani mereka dan untuk memenuhi semua kerinduannya.” Agustinus menuturkan, “Bahwa semua diberkati, siapa pun yang hidup sebagaimana mereka kehendaki.” Ia menekankan bahwa pemenuhan hasrat setidaknya perlu untuk kehidupan yang lebih baik. “Berbahagialah mereka yang memiliki semua yang mereka inginkan.

Digitalisasi Hasrat

Abad digital tidak mencampakkan hasrat ke ruang gelap. Hasrat justru menemukan pijarnya dengan kanalisasi digital. Kalau ada anggapan teknologi membuat masyarakat semakin rasional, pendapat itu tidak sepenuhnya tepat. Justru yang kita saksikan saat ini masyarakat semakin punya cara mengumbar hasratnya. Misalnya mewabahnya virus hoaks melalui berbagai saluran media sosial.

Era Post-Truth hanyalah wajah tampan yang sejujurnya digerakkan oleh kelindan hasrat di dalamnya. Pilihan-pilihan sebagian orang lebih didorong oleh aspek emosional daripada rasional. Banyak perusahaan menjual produknya dengan storytelling, sehingga sulit bagi konsumen untuk meretas kesadarannya, karena dirangsang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan (rasional), tetapi karena simpati dan empati dengan nilai-nilainya.

Pemodal melalui media digital mentransformasi hasrat menjadi dorongan keinginan. Benda-benda kapital tidak lagi terlihat seperti barang-barang material, tetapi berubah wujud menjadi sederetan nilai-nilai. Jika konsumen membeli sebuah barang, ia merasa peduli dengan lingkungan. Ia merasa percaya diri. Ia merasa diterima oleh kelompoknya. Ia merasa punya harga diri. Ia merasa peduli dengan keluarga. Benda-benda telah bertransformasi menjadi virtue.

Perkawinan antara hasrat dengan dunia digital, telah menciptakan adiksi dan hipnotis massal. Banyak orang setiap hari digedor oleh desakan-desakan untuk memburu informasi baru meskipun tidak ada berita baru. Mereka mendamba gadget baru meskipun fungsi yang dipakai tidak banyak bedanya. Orang menamainya Passionate Consumption!

Ledakan hasrat ini semakin membuncah saat ada kanal-kanal digital yang menghubungkan mereka satu dengan yang lainnya dengan begitu mudah, secara kolektif dan dimanipulasi oleh berbagai dorongan ekonomi yang mau menangguk untung sedemikian rupa. Platform digital telah membangun network of desire yang menjerumuskan banyak orang untuk memuaskan hasratnya tidak melulu dengan benda-benda fisik, tetapi dipuaskan dengan melihat tampilan-tampilan foto atau video yang eksotik tentang sebuah benda via aplikasi belanja daring.

Jebakan ini sangat konspiratif, karena nampaknya dengan sengaja memelihara denyut hasrat agar tetap hidup dengan suguhan-suguhan konsumsi virtual (de-materialisasi), sehingga meskipun bendanya tidak ada, hasrat tetap dimanipulasi terpuaskan dengan melihat foto atau gambarnya. Kita mengenal istilah “Food Porn”, sebuah foto epik, presentasi visual dari sebuah makanan di media sosial yang secara provokatif dan menggiurkan. Banyak orang terpuaskan hasratnya hanya dengan menjelajah platform daring yang menawarkan berbagai produk dalam jumlah banyak. Tujuannya, agar kobaran hasrat tidak mati, agar terjaga keinginan setiap manusia yang kompleks dan tak berujung itu. 

Hasrat lalu menjadi sebuah energi besar karena terkoneksi satu sama lain, bergerak secara sistemik dan inovatif. Pemikir seperti Deleuze and Guattari melihat positif energi hasrat ini, semacam energi produktif yang mengalir bebas ke segala penjuru arah, memantik kreativitas dan energitas. Deleuze and Guattari menyebutnya “Desiring Machine” di mana energi hasrat bersinergi dengan melibatkan teknologi (mesin) seperti smartphone, software, komputer, algoritma, terkoneksi dengan jaringan yang lebih luas, seperti budaya, institusi dan sistem sosial lainnya. Hasrat libidinal lantas berinteraksi dengan data, representasi, makna dan sumber-sumber kultural lainnya.

Cahaya dalam Kelekatan

Dunia digital sepertinya penuh cahaya, tetapi sesungguhnya berada dalam kegelapan. Manusia-manusia agung dan bijaksana yang digerakkan akal budinya (Homo Sapiens), sekarang telah banyak berubah menjadi manusia-manusia yang digerakkan (untuk tidak mengatakan diperbudak) hasratnya (Homo Desiderare).

Dalam berbagai mitologi Yunani kuno, hasrat ini terbentuk dari dua lapisan, karnal dan libidinal. Karnal adalah hasrat tubuh yang sifatnya material, sementara libidinal adalah hasrat tubuh yang sifatnya non-material. Misalnya, secara karnal saya menghasratkan sebuah gadget model terbaru, agar secara libidinal saya memiliki kepercayaan diri ketika menentengnya di depan orang lain.

Di era bangkitanya dominasi hasrat, manusia dianggap, semata-mata, makluk yang dipenuhi, bahkan terbentuk dari hasrat. Jacques Lacan, pemikir terkenal di awal era posmodernisme ini, misalnya mengatakan kalau ego kita dibentuk oleh hasrat. Dengan demikian, kita tidak mungkin lepas dari hasrat, justru kitalah yang terkurung dalam hasrat.

Bagaimana manusia digital seperti kita ini sebaiknya melangkah dalam jalan yang rapuh dan gelap ini? Adalah Meister Echart, mistikus kristen terbesar di abad pertengahan, yang barangkali bisa memberi cahaya pencerahan itu. Ia mengatakan kalau kita harus mengosongkan diri dari hasrat. Manusia harus meniadakan hasratnya (Desire), dan dengan demikian, memberi ruang kosong kepada Tuhan untuk berkehendak (Will).  Jika jiwa manusia sudah penuh dengan hasratnya sendiri, Tuhan tak mungkin tinggal di sana. “Kosongkan dirimu, maka kamu akan dipenuhi,” demikian Echart, mengutip Agustinus dari Hippo. Echart selanjutnya mengatakan, “Bila Tuhan diharapkan masuk, maka makhluk harus keluar.”

Echart mendasarkan diri pada kisah Injil Matius 21:12 tentang tindakan Yesus menyucikan Bait Allah. Dalam perikop itu diceritakan Yesus sangat marah (simbolisasi kehendak-Nya yang sangat tinggi) mengusir para pedagang yang berjual-beli di Kenisah Allah. Yesus membalikkan meja penukar uang, dan bangku-bangku pedagang merpati sembari berkata, “Rumahku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Bagi Echart, kenisah Allah adalah simbol mistik jiwa manusia. Jiwa kita ini harus dibersihkan dari hasrat “berdagang”, hasrat “berjual-beli”, hasrat “mencari untung semata”, hasrat “barter”.

Maka, semangat hidup yang dianjurkan Echart adalah sikap tak lekat dengan hasrat (abegescheidenheit). Jadilah seperti bunga mawar yang mekar di kebun, ia mekar bukan karena ingin dilihat dan dipuji orang, ia mekar begitu saja. Hidup dalam wilayah ketiadaan hasrat, ibarat sebuah kenisah kosong tanpa pedagang di dalamnya, dan rumah ini adalah rumah yang nyaman untuk kebahagiaan sejati. Bukankah kehidupan semakin bermakna saat kita meninggalkan diri kita, dan menghampiri orang lain? 

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home