Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 06:42 WIB | Minggu, 16 Agustus 2020

HRW: Politisi dan Jurnalis Yang Ditahan Secara Massal di Ethiopia Rentan Tertular COVID-19

Polisi mengawasi demonstran di Adi Ababa, ibu kota Ethiopia. (Foto: dok. Reuters)

ADIS ABABA, SATUHARAPAN.COM-Politisi oposisi dan jurnalis yang terperangkap dalam penangkapan massal baru-baru ini di Ethiopia telah ditolak aksesnya untuk didampingi pengacara saat ditahan dalam kondisi yang membuat mereka rentan terhadap virus corona, kata Human Rights Watch (HRW), hari Sabtu (15/8).

Tuduhan tersebut menjadi keprihatinan bahwa Perdana Menteri Abiy Ahmed, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu untuk reformasi politik dalam negeri, menggunakan langkah-langkah represif untuk membungkam para kritikus.

"Tindakan otoritas investigasi Ethiopia menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka belum beralih dari praktik penangkapan di masa lalu, dan kemudian menyelidikinya," kata direktur HRW Tanduk Afrika, Laetitia Bader, dalam sebuah pernyataan.

"Pihak berwenang harus segera mengajukan tuntutan yang dapat dipercaya berdasarkan fakta dan bukti yang jelas terhadap para tahanan atau memastikan pembebasan mereka."

Lebih dari 9.000 orang telah ditangkap sehubungan dengan kekerasan yang meletus pada akhir Juni menyusul pembunuhan Hachalu Hundessa, penyanyi populer dari kelompok etnis Oromo, menyebabkan lebih dari 200 orang tewas.

Di antara para tahanan adalah politisi oposisi dan jurnalis dari berbagai media. Investigasi sejauh ini "dirusak oleh pelanggaran proses hukum yang serius," dengan pihak berwenang gagal mengungkapkan keberadaan para tahanan dan mengabaikan perintah jaminan, kata HRW.

Setidaknya dua tahanan, anggota senior dari oposisi Kongres Federalis Oromo dan jurnalis Kenya Yassin Juma, dilaporkan dinyatakan positif COVID-19 saat dalam tahanan.

"Pada saat para ahli internasional dan global mendesak pemerintah untuk mengurangi kepadatan di penjara untuk mengatasi COVID-19, praktik yang memperpanjang periode pra peradilan sangat bermasalah dan mengabaikan komitmen Ethiopia sendiri," kata HRW.

Dalam pernyataan terpisah pada hari Jumat (14/8), Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia, sebuah badan pemerintah, juga memperingatkan bahwa para tahanan dapat terpapar COVID-19 di penjara yang penuh sesak terutama di wilayah Oromia, yang mengelilingi ibu kota Addis Ababa.

Kantor Abiy dan jaksa agung Ethiopia tidak segera menanggapi permintaan komentar pada Sabtu. Abiy berulang kali menekankan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kekerasan pada bulan Juni dan Juli akan dimintai pertanggungjawaban.

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home