Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 22:58 WIB | Jumat, 01 Desember 2017

I Wayan Sujana Gelar Pameran 'Drawing On Novel'

Pameran 'Drawing On Novel' I Wayan Sujana Suklu (Intermingle Art Project - Light Patterns) yang berlangsung di Bentara Budaya Bali sedari 28 November - 6 Desember 2017. (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ kembali menggelar pameran, kali ini menggandeng sejumlah kreator lintas latar. Eksibisi yang bertajuk “Intermingle Art Project – Light Patterns” ini dilangsungkan di Bentara Budaya Bali (BBB), Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar, dan telah dibuka secara resmi pada Selasa (28/11) oleh budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia, S.ST., MA. 

Pameran ini berangkat dari pertemuan kreatif I Wayan Sujana Suklu dengan sekian buku novel dan karya sastra lainnya. Buku-buku tersebut bukan saja mengundang minatnya untuk membaca, melainkan juga terbukti memicunya berkarya. 

Dari teknik “Drawing on Novel”, goresan-goresan arang Suklu di atas novel-novel bekas, kemudian menjadi pemantik ide berkarya bagi 16 seniman lain yang terlibat dalam pameran kali ini. 

Para seniman tersebut antara lain: Tjok Istri Ratna Cora (fashion design), I Gusti Ngurah Sudibya (seni tari), I Gusti Ngurah Indra Tj.(arsitek), I Gusti Ngurah Ksatria Pinandhita (video art),  I Wayan Sabath Sukma Miarna (arsitektur), Ketut Sumerjana (seni musik), Ketut Hery Budiyana (video art), I Gusti Ngurah Wirawan (desain grafis), I Ketut Sukerta (seni patung), I Nyoman Darmadi (seni patung), Jro Mangku Made Miasa (seni patung), Nyoman Lia Susanti (ilmu komunikasi), Sri Supriyatini (Seni Murni), I Made Jodog (Seni Murni), Gregorius Supie Yolodi (arsitektur), dan I Made Tegeh Okta Maheri – Dek Geh (seni tari). 

Fiksi Rupa Suklu (drawing), pada giliran berikutnya diekspresikan dalam karya dua atau tiga dimensi lainnya berwujud patung, lukisan, fashion, arsitek, musik, performing, dan juga seni instalasi.

Sebagaimana tecermin pada pembukaan pameran yang dimaknai performance art “Light Patterns” Selasa malam kemarin, yang mengemuka pada peristiwa ini adalah sebentuk seni yang lintas batas. 

Hal senada juga diungkapkan budayawan I Wayan Dibia. Ia menyebut karya Drawing on Novel Suklu sebagai salah satu bentuk seni multirupa, yakni produk kolektif yang melibatkan partisipasi banyak pekerja seni. “Tantangannya adalah bagaimana mengelola semangat kolektif dan potensi yang beragam ini agar tidak sampai mengaburkan wujud akhir dan potensi karya seni yang diinginkan,”. 

Drawing on Novel Suklu

Setelah lebih lima belas tahun berproses dan melakukan berbagai eksplorasi, berikut kemungkinan penciptaan, Suklu meyakini bahwa novel, terutama halaman-halaman cerita terpilihnya, mengandung tantangan untuk dihadirkan sebagai media ekspresi seni rupa. 

Arif B. Prasetyo, dalam pengantarnya tentang pameran ini, menyebutkan bahwa menggambar pada novel yang dilakukan Suklu adalah semacam ritual untuk menghubungkan dirinya, hampir-hampir secara mistis, dengan sosok sang pengarang. Namun sang pengarang itu bukanlah sosok historis, melainkan sosok metafisis, sebentuk “ruh” atau energi. 

Di tangan Suklu, buku novel berhenti sebagai karya sastra, dan berubah menjadi artefak yang berfungsi ritual. 

Sebagai karya seni, novel mengandung buah perenungan dan merangkum energi penciptaan dari sang sastrawan. Pertemuan antara karya sastra tersebut dan pembaca (perupa), melahirkan dialektika; menghadirkan makna sekaligus momentum tertentu yang mendorong terjadinya penciptaan. 

“Alasan memilih novel bekas dan charcoal karena medium novel ini perantara saya bercakap-cakap dengan seorang sastrawan, kemudian novel bekas ini memiliki entitas yang unik dan sangat cocok dengan medium charcoal sebagai alat ungkap,” ungkap Suklu. 

Pertemuan Suklu dengan susastra meyakinkannya bahwa novel atau karya lainnya (cover, halaman demi halaman, cerita) ibarat sosok atau tubuh. Sedangkan rohnya adalah sastrawan atau pengarang itu sendiri. Di atas tubuh buku itulah pencipta mengeksplorasi bentuk-bentuk visual dengan cara mendrawing. Bentuk-bentuk yang digambarkan adalah sosok-sosok imajinatif yang meluap dari ruang ketaksadaran (thinks in unconscious). 

Gagasan, teknik dan konsep berkarya Suklu yang dihadirkannya pada pameran kali ini akan diulas lebih jauh para program Workshop “Drawing on Novel” dan Timbang Pandang yang menyertai agenda ini. 

Adapun Workshop akan digelar pada Sabtu (02/12) pukul 15.00 WITA dan Timbang Pandang berlangsung Minggu (03/12) pukul 18.00 WITA. Sebagai narasumber pada Timbang Pandang kali ini yakni I Wayan Sujana Suklu, Tjok Istri Ratna Cora, Arif Bagus Prasetyo dan Hartanto.  (PR)

 
Back to Home